
"Austin kehilangan ponselnya, dia kecopetan sehari setelah kita pergi ke daerah pegunungan waktu itu." ucap Galen memberikan informasi.
Benar juga!
Itu kali terakhir Austin menghubungi Aurora, setelahnya tidak ada lagi kabar mengenai lelaki itu.
"Dia juga sedang sibuk sekali akhir-akhir ini."
"Kau tau darimana?" tanya Aurora penasaran.
"Dua hari yang lalu kami baru saja bertemu. Sebenarnya Austin terus memaksa meminta nomor ponselmu tapi aku tidak mau memberitahunya karena dia bisa saja membuat masalah." jawab Galen.
Aurora sama sekali tidak masalah dengan hal itu, karena hubungannya dengan Austin tidak cukup dekat juga sebenarnya.
"Aku pikir hubungan kalian sedang bermasalah. Ternyata tidak juga ya?" gumam Aurora.
"Bukankah hubungan persahabatan biasanya memang seperti itu? Tidak jarang bertengkar namun dengan cepat akan segera berbaikan." balas Galen.
"Aku tidak tau karena aku tidak memiliki seorang sahabat. Saat ini aku hanya dekat dengan Anna selain Briella. Saat masih sekolah dulu, aku sudah banyak sekali mendapatkan kebencian dari teman sebayaku, semua itu karena perbuatan ayahku. Suatu hari ayah berselingkuh dengan ibu dari seorang gadis yang populer di sekolah, gadis itu kemudian melabrakku, mengatakan jika ayahku adalah seorang perusak kebahagiaan. Setelahnya kehidupan SMA-ku tidak lagi terasa damai. Aku tidak pernah mengatakan hal ini pada siapapun termasuk Briella yang kebetulan tidak satu SMA denganku kala itu." cerita Aurora panjang.
"Itu sudah lama berlalu, sekarang kau sudah baik-baik saja 'kan?" tanya Galen.
Aurora mengangguk. "Iya, aku baik-baik saja. Mengenai Austin, aku pikir kalian tidak sedekat itu untuk bisa disebut sebagai sepasang sahabat, kau sering kali terlihat ingin memukul Austin saat kalian tengah beradu mulut."
"Itu karena dia menyebalkan! Sebenarnya kami dekat, lebih dekat dari yang kau kira." ucap Galen.
"Oh ya?" tanya Aurora ragu.
"Tidak percaya?"
Aurora menggeleng tidak percaya.
Galen mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mengotak-atiknya sebentar sebelum akhirnya menunjukkan sebuah foto pada Aurora.
Disana terlihat potret Galen yang merangkul pundak Austin dengan akrab, keduanya sama-sama tersenyum melihat kearah kamera.
"Foto ini diambil dua hari yang lalu saat aku ikut membantu pembukaan restoran daging miliknya. Kami sedekat itu, sudah seperti saudara." ucap Galen.
"Dia tampak baik-baik saja."
"Tentu saja baik, Austin hanya sibuk hingga tak ada waktu untuk bermain-main denganmu." balas Galen.
"Lain kali, bisakah kita main ke restoran untuk bertemu dengan Austin?" tanya Aurora.
Galen mengangguk setuju. "Kita bisa pergi saat memiliki waktu luang."
"Baiklah.."
Aurora tidak menanyakan hal apa yang sudah membuat sikap Galen mendadak berubah pagi ini, dia hanya ingin menikmatinya saja, saat-saat terindah bersama dengan sang suami, Aurora sungguh menyukainya.
Jika saja bisa, Aurora berharap hal ini akan berlaku untuk selamanya hingga kata perceraian diantara mereka terhapuskan.
__ADS_1
Aurora ingin merawat bayi mereka bersama-sama, sebagai satu keluarga yang utuh dan juga bahagia. Setiap malam Aurora selalu memimpikan hal itu, berharap Tuhan akan segera mengabulkannya.
***
Satu cup mie instan yang telah diseduh.
Roti isi cream dengan potongan buah mangga.
Nasi kepal tuna mayo.
Ayam bumbu teriyaki.
Biskuit dengan cream coklat.
Dan sebotol susu pisang.
"Apa ini? Pagi-pagi kau sudah makan sebanyak ini?" tanya Galen tidak percaya.
"Aku kelaparan! Kau membawaku jalan-jalan terlalu jauh dari rumah." balas Aurora cuek.
"Ini bahkan tidak seberapa jauh."
"Bagiku jauh! Aku membawa bayi didalam perutku. Rasanya jadi lebih berat dan melelahkan."
"Kalau kau makan semua ini sekarang, nanti sarapan di rumah bagaimana? Ibu pasti akan marah kalau tau kau jajan sembarangan."
"Nanti aku akan makan lagi kok di rumah. Jadi kau tenang saja." balas Aurora tidak ambil pusing.
"Memangnya muat?" tanya Galen.
Galen tersenyum tipis mendengar ucapan Aurora. "Yang penting dia sehat 'kan?"
"Iya. Dia sehat." balas Aurora dengan senyum mengembang.
Hubungan antara Galen dan Aurora semakin membaik sejak hari itu, perhatian Galen yang selalu Aurora rindukan telah kembali, kali ini bahkan jauh lebih manis.
Malam hari, selepas Galen pulang dari perusahaan, dia membawa Aurora untuk pergi ke restoran baru milik Austin.
Seorae BBQ..
20:15
"Yo' brother! Akhirnya kalian datang juga, selamat datang di Seorae BBQ." sambut Austin dengan ceria.
"Seseorang tengah merindukanmu." ucap Galen.
"Siapa?" tanya Austin penasaran.
Galen dengan segera menunjuk Aurora yang duduk disebelah.
"Aku tidak pernah berkata seperti itu ya!" protes Aurora.
__ADS_1
Galen dan Austin hanya tertawa melihat raut kesal Aurora.
"Memang sih, aku ini orangnya gampang sekali untuk dirindukan. Selain lucu aku ini juga baik hati, jadi wajar banyak yang menyukaiku." ucap Austin percaya diri.
Galen dan Aurora secara kompak tidak ingin menanggapi.
"Nanti berikan aku nomor ponselmu agar kita bisa saling berkomunikasi seperti kemarin." pinta Austin.
Aurora mengangguk setuju.
"Berikan kami menu paling spesial disini." pinta Galen.
"Tentu. Aku akan berikan diskon khusus untukmu, tidak gratis karena makanmu banyak." ucap Austin yang ingin bisnisnya tetap berjalan dengan lancar.
Aurora hanya bisa tertawa mendengar alasan Austin.
"Apakah baby rangers juga sudah merasa lapar? Aku akan meminta pegawaiku untuk menyiapkan makanan kalian dengan cepat." tanya Austin.
"Baby rangers?" gumam Aurora tak mengerti.
"Iya, baby rangers calon bayimu. Aku memberikan panggilan itu karena merasa dia bayi yang kuat sama seperti ibunya." jelas Austin.
"Hei, hentikan! Cepat siapkan makanannya untuk kami. Aku sudah lapar!" pinta Galen yang sebenarnya tidak setuju Austin dengan seenak jidat memberi nama panggilan pada calon bayi mereka.
"Baik, bapak Galen yang terhormat! Tunggu sebentar." balas Austin sebelum lelaki itu pergi dari hadapan Galen dan Aurora.
Austin kembali lima menit kemudian sembari membawa pesanan Galen dan Aurora.
"Minggu depan aku akan pergi." ucap Austin sembari sibuk memasak daging diatas alat pemanggang, dia ini tipe owner restoran yang melayani pelanggannya dengan sepenuh hati.
"Kemana?" tanya Aurora penasaran.
"Rahasia. Tapi yang pasti itu pergi jauh. Aku tidak akan memberitahumu, takutnya kau akan merasa sedih dan merasa kehilangan." jawab Austin.
Aurora mencibir main-main saat melihat wajah Austin yang tampak murung.
"Pergilah yang jauh! Tidak usah kembali sekalian." ucap Galen main-main.
"Nanti kau pasti sedih kalau aku tidak kembali." balas Austin agak sebal.
"Tidak akan!"
"Benar ya?!"
Galen mengangguk.
"Kemanapun kau pergi, tetaplah berhati-hati dan jangan sampai terluka." pesan Aurora.
"Owh.. manis sekali ucapan istri masa depanku ini." ucap Austin dengan senyum lebar. "Aku akan mengingat dengan baik semua nasihat yang telah kau berikan."
Galen disana sudah mendelik sebal. Dia hendak menegur Austin ketika tiba-tiba saja ada panggilan masuk di ponselnya.
__ADS_1
Dari Hani.
***