
"Apa kau tidak memiliki keinginan untuk merawatnya juga?" tanya Galen sekali lagi.
"Tidak." balas Aurora singkat.
"Mengapa tidak?"
"Entahlah.. aku hanya merasa aku tidak akan sanggup."
"Bukankah kau harus mencoba terlebih dahulu sebelum mengatakan kau tidak sanggup. Karena terkadang apa yang kita bayangkan tidak sama hasilnya dengan saat kita menjalaninya secara langsung. Bisa saja 'kan itu terasa lebih mudah saat dijalani."
Aurora menatap Galen penuh curiga. "Mengapa kau terus bertanya hal seperti itu? Aneh sekali!"
"Bukan apa-apa. Lupakan saja perkataanku barusan. Aku mengajakmu bertemu karena ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu. Ini mengenai keputusanku."
"Kau sudah menemukan jawabannya?" tanya Aurora.
"Ya."
"Jadi bagaimana?"
"Sebelum itu aku ingin bercerita padamu mengenai Mina yang berusaha melukai dirinya sendiri begitu dia baru saja sadarkan diri. Keadaan mental dan fisik Mina sedang tidak baik-baik saja akibat dari ulahku. Dia selalu berharap untuk mati."
Aurora tidak tahu dia harus menanggapi cerita Galen seperti apa hingga gadis itu memutuskan untuk diam saja dan mendengarkan.
"Mina tidak menginginkan ada bayi itu diantara kita."
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aurora yang kini telah memiliki firasat buruk akan ucapan Galen selanjutnya.
"Gugurkan bayinya."
Aurora seketika merasa merinding, perlahan tubuh gadis itu mulai bergetar samar menahan tangis akibat dari ucapan Galen, dia tidak menyangka Galen bisa sekejam ini.
"K-kau yakin?" tanya Aurora mencoba meyakinkan sekali lagi, berharap tadi dia hanya salah dengar.
Galen mengangguk pasti. "Aku sudah menemukan tempat yang aman untuk melakukan prosesnya, juga sudah membuat janji dengan seorang dokter profesional. Hanya tinggal menunggu kesiapan darimu saja."
"Aku tidak bisa melakukannya." gumam Aurora lirih.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Jika memang kau tidak menginginkannya. Biar aku saja yang merawatnya."
Galen mengernyit heran. "Bukankah tadi kau mengatakan tidak menginginkannya?"
"Aku berubah pikiran. Akan aku tarik semua kata-kataku." balas Aurora tak peduli jika saat ini dia sudah menjadi sosok seseorang yang sudah menjilat ludahnya sendiri.
"Jangan jadi plin-plan! Gugurkan dia, karena Mina tidak ingin bayi itu lahir ke dunia. Kehadiran bayi itu hanya akan membuat kita terus terhubung, hal itu juga yang membuat Mina terus merasa tak tenang."
"Tidak perlu khawatir! Aku berjanji tidak akan mengusik kalian kelak. Kau tahu sendiri 'kan, aku akan segera pergi ke luar negeri."
"Itu tidak akan bisa menjamin apapun. Setelah dia lahir dan tumbuh semakin dewasa pasti ada saat dimana dia akan bertanya siapa orang tuanya."
"Tetap saja aku tidak mau menjadi seorang pembunuh! Bagaimana bisa kau tega melakukannya sekalipun dia hadir karena kesalahan satu malam yang telah kita lakukan tanpa sengaja." sentak Aurora tak lagi bisa bersabar, meskipun disana ada Jio yang mulai merasa tak nyaman akibat pertengkaran dua orang dewasa didekatnya.
"Berhentilah menjadi konyol, Aurora Alexandra!" balas Galen kesal. "Kemarin kau bersikap seolah-olah tidak menginginkan bayi itu. Namun sekarang kau justru berusaha mati-matian untuk melindunginya."
"Seperti yang kau katakan, aku akan menjadi seorang ibu. Dia hidup didalam tubuhku selama ini hingga rasa sayang terhadap janin ini terbentuk secara alami dengan perlahan. Jadi sekarang kau mengerti bukan alasan aku menolak untuk menggugurkannya?" sentak Aurora.
"Lagipula aku mengatakan tidak menginginkan bayi ini karena aku tahu kelak ada kau yang bisa dia andalkan sebagai ayahnya. Kau sangat menyukai anak-anak hingga aku yakin dia akan baik-baik saja bersamamu, tapi sekarang kau malah bersikap sebaliknya!"
"Dan membiarkan dirimu menjadi seorang pembunuh?! Kau benar-benar tidak berperasaan!"
"Berhentilah bicara omong kosong!"
"Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melenyapkan bayi ini bahkan menyentuhnya! Aku akan melindungi bayi ini bagaimanapun caranya, sekalipun aku harus membayarnya dengan nyawaku sendiri."
Galen terkejut mendengar ucapan Aurora, dia tidak menyangka Aurora akan seserius ini.
Aurora menggandeng tangan Jio untuk keluar dari restoran, didepan pintu masuk restoran, dia bertemu dengan Anna yang memang tadi sudah berjanji akan menjemput Jio kemari, menyusulnya ke restoran.
Gadis itu terkejut menemukan Aurora keluar dari restoran dengan keadaan menangis.
"Kak? Ada apa? Apa kau terluka? Mengapa menangis?" serbu Anna khawatir.
Aurora tidak menjawab, dia hanya menyerahkan Jio begitu saja pada Anna sebelum akhirnya pergi menaiki mobilnya.
__ADS_1
"Kak, tunggu!"
Namun Aurora sudah terlanjur pergi menjauh.
Tak lama kemudian Galen ikut menyusul keluar dari restoran, dia melihat Anna bersama Jio disana.
"Dimana perginya gadis yang datang bersama anak kecil ini tadi?" tanya Galen pada Anna.
"Maksudmu Kak Aurora?"
Galen mengangguk cepat.
Anna dengan segera menaruh rasa curiga terhadap Galen.
"Apa kau orang yang sudah menyakiti kak Aurora hingga menangis?" tanya Anna.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu!"
"Aku yakin pasti kau orangnya! Ah yaㅡ" Anna mendadak ingat sesuatu. "Bukankah kau salah satu klien JJ Bridal Boutique, aku sepertinya pernah melihatmu beberapa kali disana."
Galen tidak menjawab, dia memutuskan untuk segera pergi saja dari sana. Tak peduli pada Anna dibelakang sana yang terus saja meneriakinya meminta Galen untuk memberikan penjelasan.
***
Hari belum terlalu malam, Aurora tidak ingin pulang dulu ke rumah karena bagaimanapun juga Briella pasti akan mencurigainya karena pulang dengan wajah sembab seperti itu.
Apalagi Anna juga sempat memergokinya menangis tadi. Gadis itu mungkin sudah melapor pada Briella.
Untuk saat ini Aurora hanya ingin pergi kesuatu tempat yang jauh dari keramaian.
Dia ingin menghabiskan waktu sendirian disana sampai pikirannya kembali tenang.
Selama perjalanan Aurora hanya melamun. Beberapa kali dia mendapatkan teguran berupa suara klakson dari para pengendara lainnya yang protes, tapi Aurora tidak peduli.
Tepat dipersimpangan jalan, lampu merah telah menyala. Aurora yang masih tenggelam dalam lamunannya segera tersadar ketika ada mobil yang berhenti tepat didepannya.
Dia terlambat untuk menginjak rem.
__ADS_1
Hingga tabrakan itu tak dapat dihindari.
***