Aroma Hujan

Aroma Hujan
Pengakuan Mina


__ADS_3

Galen pamit pada Aurora untuk keluar sebentar dan mengobrol dengan Hani.


"Apa apa, Bu? Apa terjadi sesuatu dengan Mina?" tanya Galen begitu teleponnya tersambung.


"Apa maksudmu? Justru aku yang hendak bertanya padamu. Bagaimana kabar Mina? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak mengganggumu lagi 'kan? serbu Hani dari sana.


Galen merasa ada sesuatu yang salah.


"Bukankah ibu bilang akan datang kemari untuk mengunjungi Mina?" tanya Galen penasaran.


"Kau benar, tapi kemudian secara mendadak aku tidak bisa datang kesana. Ada yang masih harus aku kerjakan disini." jawab Hani.


"Jadi ibu belum menemui Mina sampai saat ini?"


"Tentu saja belum. Apa anak itu mengganggumu lagi?" tanya Hani merasa tak enak sendiri pada Galen.


"Tidak." jawab Galen singkat.


"Kalau begitu semuanya baik-baik saja 'kan?"


"Iya."


"Katakan padaku jika Mina berulah lagi, karena aku tidak bisa datang kesana dalam waktu dekat ini."


"Baik, Bu.."


Tapi bukankah hal seperti ini yang justru terasa aneh, Mina tidak pernah pasrah pada keadaan, tapi kali ini berbeda, gadis itu seolah-olah bersikap menerima keputusan Galen dengan suka rela.


***


Kediaman keluarga Handoko..


07:34


Sudah satu minggu ini, Galen selalu menemani Aurora pergi jalan-jalan setiap pagi, tentunya hal tersebut patut Aurora syukuri.


Lelaki itu seolah telah melupakan Mina begitu saja, entah hal apa yang sudah terjadi diantara mereka. Aurora juga tidak mengerti. Dia tidak bertanya karena takut ini hanya salah sangka seperti dugaannya kemarin.


Untuk saat ini, Aurora hanya ingin menikmati kebersamaan mereka saja.


"Tambahkan lima kilogram lagi agar pas menjadi sepuluh kilogram." ucap Galen dengan tawa geli.


"Aish, Galen!! Kemari kau! Biar aku pukul kepalamu itu! Berani-beraninya kau mengatai aku gendut!" seru Aurora kesal.


"Jangan marah! Itu 'kan memang kenyataannya." balas Galen malah semakin menggoda.

__ADS_1


"Galen, hentikan!!"


Aurora mengejar Galen yang lebih dulu memasuki halaman luas Handoko dengan langkah semampunya.


"Hei, tarik kembali kata-katamu itu!" Aurora menarik hoodie sweater warna hitam yang Galen kenakan tepat di bagian leher.


"Hei, lepaskan! Kau bisa membuatku mati tercekik!" ucap Galen mendramatisir keadaan.


"Biarkan saja!" balas Aurora.


"Nanti kalau aku benar-benar mati, anak kita tidak akan punya ayah. Memangnya kau mau?"


Secara reflek Aurora melepaskan Galen disana. Ucapan Galen barusan sukses membuatnya terkejut.


Apakah itu sebuah penerimaan?


Apa itu artinya bayinya kini telah diakui dan diterima oleh ayah kandungnya sendiri?


Jika memang benar seperti itu, Aurora pasti akan merasa sangat bahagia sekali.


"Mengapa melamun?" tanya Galen tiba-tiba yang membuat Aurora terkejut.


"Tidak." balas Aurora singkat.


"Iya.."


Dan lagi-lagi, untuk kesekian kalinya dalam minggu ini tangan Galen tanpa rasa canggung terulur untuk menggandeng Aurora disana. Sudah seperti sebuah kebiasaan baru.


"Kami pulang.." seru Galen begitu memasuki pintu utama.


Di ruang tamu sudah ada Juniar dan Sarah yang tampaknya sengaja menunggu kedatangan mereka.


"Galen duduklah sebentar, kami ingin bicara." ucap Juniar dengan raut wajah serius.


Sementara Sarah sudah menunjukkan ekspresi sedih. Galen dan Aurora sama-sama terkejut saat menemukan ada seseorang yang turut hadir disana. Bertanya-tanya dalam hati, hal apa gerangan yang sudah membawa Mina datang kemari sepagi ini?


"Ada apa ini?" tanya Galen menatap Juniar dan Mina secara bergantian.


"Duduklah terlebih dahulu. Kita bicara secara baik-baik dengan kepala dingin. Aurora juga." ajak Juniar.


"Iya, Yah.." balas Aurora ikut mengambil posisi duduk disana.


Sarah sudah menangis tersedu-sedu. "Apa yang sudah kau lakukan, nak? Mengapa jadi seperti ini? Ibu dan ayah baru saja merasa bahagia melihat hubunganmu yang semakin membaik dengan Aurora, tapi sekarang mengapa jadi seperti ini?"


"Bu, sebenarnya ada apa ini?" tanya Aurora sudah tidak bisa menutupi rasa penasarannya lagi.

__ADS_1


***


Sudah sekian lama, malam ini, hujan kembali turun membasahi permukaan bumi. Aroma tanah tandus yang dibasahi air hujan yang menjadi favorit Aurora.


Jika dalam keadaan normal, Aurora mungkin akan berjalan menuju kearah jendela untuk menikmati suara rintikan air hujan yang turun sembari menyesap secangkir coklat panas.


Namun, sejak tadi pagi suasana kediaman keluarga Handoko yang tadinya hangat kini berubah menjadi sedingin es.


Galen menghela nafas dalam, memperhatikan Aurora yang tengah tertidur lelap. Dia ingin memeluk gadis itu, meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan menenangkannya.


Namun pengakuan Mina tadi pagi masih membuat Galen merasa shock hingga dia tidak bisa melakukan apapun pada Aurora disaat keadaan Galen sendiri juga sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


Belum ada jalan tengahnya sementara Aurora telah memutuskan untuk berhenti bicara pada Galen sejak tadi pagi. Galen benar-benar gusar, tidak mempercayai apa yang telah terjadi.


Tanpa mempedulikan hujan yang semakin turun dengan deras, Galen memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi menuju apartemen Mina.


Apartemen Mina..


19:17


Sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah dan selembar foto USG.


Dua benda itu yang tadi pagi Mina perlihatkan pada Juniar dan Sarah hingga membuat segalanya menjadi rumit.


"Bagaimana bisa, Mina?" tanya Galen dengan nada putus asa. "Aku benar-benar tidak mengerti."


"Bagaimana bisa kau bilang?" tanya Mina sinis.


"Aku bersumpah! Aku tidak bisa mengingat apapun!"


"Hari itu, Galen.. malam sebelum kau membawaku menginap di kediaman Handoko. Kau ingat?"


Galen tampak berpikir sejenak, tak lama kemudian lelaki itu mengangguk lesu. "Tapi malam itu kita hanya minum bersama." gumamnya.


"Kau mabuk berat saat itu. Wajar jika kau tidak mengingat apapun setelahnya. Terbukti begitu pagi menjelang kau menganggap aku telah melukai diriku sendiri, padahal saat itu pergelangan tanganku terluka akibat perbuatanmu."


Galen terdiam, otaknya terasa penuh dengan berbagai pertanyaan yang membingungkan untuk dia temukan jawabannya.


"Apa kau tidak mengerti bagaimana sulitnya aku menjalani hari-hari berikutnya setelah perlakuanmu malam itu?! Sekalipun aku mencintaimu, tapi aku bukan gadis murahan yang rela memberikan segalanya meskipun itu demi seseorang yang sangat aku cintai. Aku merasa begitu kotor, telah ternodai olehmu. Ada saat dimana aku sangat membenci diriku sendiri, ketika aku mengingat kejadian malam itu. Rasanya aku ingin mati saja karena harus menanggung kenyataan ini seorang diri." jelas Mina panjang.


Galen menatap kedua mata Mina yang kini perasaannya telah terluka.


"Galen, katakan padaku! Bagaimana bisa aku menghadapi kenyataan ini seorang diri? Aku sudah berusaha untuk tidak mengusikmu, menghargai keinginanmu untuk hidup bahagia bersama dengan dia. Aku bersumpah! Aku telah berusaha semampuku. Tapi, kemarin saat aku mengetahui jika aku tengah mengandung bayimu, aku terpaksa melakukan hal ini, menuntut tanggung jawabmu."


***

__ADS_1


__ADS_2