Aroma Hujan

Aroma Hujan
Penyakit lama


__ADS_3

"Hei, Mina.." panggil Austin.


Mina mendongak, menatap Austin disana.


"Ayo kita pergi dari sini! Aku akan mengantarmu pulang ke apartemen." ajak lelaki itu.


Mina mengabaikan ucapan Austin lebih memilih untuk lebih mendekat pada Galen, memeluk lengan lelaki itu, dari sana Austin bisa melihat ada perban yang membungkus pergelangan tangan gadis itu.


"Wahh.. tidak bisa dipercaya!" Austin sudah bertepuk tangan dengan heboh. "Penyakit lamamu muncul lagi ternyata."


Kebiasaan Mina mengancam Galen dengan cara melukai dirinya sendiri, dan bodohnya Galen begitu lemah akan hal tersebut. Selalu saja terjebak untuk kembali ke pelukan Mina lagi, lagi dan lagi..


"Kau dari mana saja? Mengapa pagi-pagi sudah pergi dari rumah? Lalu pulang berdua bersama Austin." tanya Galen dengan raut kesal.


"Apa semalam kau menginap di apartemen Mina?" bukannya menjawab Aurora justru balik bertanya.


"Kenapa kau malah balik bertanya padaku?! Jawab dulu pertanyaanku!" jawab Galen.


Aurora menghela nafas dalam. "Aku yakin kau tidak membuka pesan yang sudah aku kirim ke ponselmu. Aku sudah memberitahumu akan mengantarkan Briella pergi ke Bandara pagi ini. Kebetulan Briella cukup akrab dengan Austin akhir-akhir ini jadi dia meminta tolong pada Austin untuk menemaniku."


Austin mengangguk-angguk membenarkan penjelasan yang baru saja Aurora ucapkan.


"Lalu kau? Apa yang kau lakukan bersama dengan dia?" Aurora menatap Galen dan Mina secara bergantian, meminta penjelasan dengan segera.


"Gadis pintar! Sekarang kau mengerti dengan benar hal mana yang sudah menjadi hakmu." puji Austin dengan senyum bangga.


Mina sudah menunjukkan raut wajah sinis sembari menatap Aurora disana. "Kau sekarang sudah merasa menang ya karena telah menikah dengan Galen?! Jangan berbangga diri terlebih dahulu, kau hanyalah orang asing yang dengan tidak tau diri sudah menyusup masuk kedalam hubungan kami yang semula damai dan bahagia."


"Menang dari apa? Memangnya kalian sedang berlomba?" sahut Austin.


"Diamlah! Pergilah dari sini! Kehadiranmu benar-benar tidak penting!" usir Mina.


Austin sudah pasang wajah heran mendengar ucapan Mina. "Tentu saja penting. Sebelum Briella pergi tadi, dia telah memberikan kepercayaan padaku untuk menjaga Aurora disini."


"Dasar bodoh! Memangnya kau ini seorang bodyguard ya? Benar-benar konyol!" ejek Mina.


"Terserah kau mau menganggapku apa, tapi Galen pasti sudah paham, kalau aku bersikap seperti ini, itu artinya aku sedang serius untuk mencapai suatu tujuan yang aku inginkan." balas Austin cuek.

__ADS_1


"Sejak awal memang sudah jelas kelihatan! Kau ini orangnya sedikit tidak beres." ucap Mina.


"Katakan hal itu pada dirimu sendiri. Apa kau tidak memiliki cermin di apartemenmu? Segera berkacalah!" balas Austin tak mau kalah.


Aurora sampai tak habis pikir. Bagaimana bisa Austin sanggup beradu mulut dengan seorang wanita? Meskipun harus Aurora akui, ucapan Austin tentang Mina memang benar adanya.


"Mina, sudah hentikan. Tidak ada gunanya bicara dengan Austin." karena Galen paham bagaimana tabiat Austin.


"Ayo aku antar kau ke kamar tamu." ajak Galen.


Galen dan Mina berjalan meninggalkan Aurora dan Austin disana.


"Kenapa kau tidak mencegah mereka?" tanya Austin heran.


Aurora berdecak acuh. "Haruskah?"


"Entahlah.. tapi akan aku berikan gambaran umumnya. Kalau kau merasa keberatan melihat kelakuan suamimu, seharusnya secara reflek kau pasti akan mencegah Galen membawa Mina masuk kedalam, kemudian dengan segera mengusir Mina keluar dari rumah ini!" jelas Austin.


"Aku rasa, aku tidak harus melakukannya. Melihat Galen bersama dengan Mina, kenapa rasanya hambar sekali? Seharusnya aku marah atau mungkin merasa cemburu tapi nyatanya aku tidak merasakan apa-apa." ucap Aurora.


Austin menghela nafas. "Sejujurnya di satu sisi aku merasa sedih melihat hubungan kalian yang ibaratnya seperti sayur tanpa garam. Namun, di lain sisi aku justru merasa senang. Jika itu terasa hambar itu artinya kau mungkin sudah tidak ada rasa lagi terhadap suamimu."


Bukan tak ada rasa lagi, melainkan menjadi lebih berhati-hati. Rasa yang baru saja bersemi itu tertebas habis-habisan oleh ucapan Galen kala itu. Jadi, tak ada kesempatan untuk jatuh cinta lebih dalam lagi.


Aurora bingung. Pernikahan mereka ini akan dibawa kemana kedepannya? Tak ada tujuan yang pasti dan tidak pula tercipta kebahagiaan disana.


Aurora tidak yakin dia bisa bertahan seumur hidup menjalani kehidupan rumah tangga dengan seseorang yang bahkan tak pernah menganggapnya ada. Namun perceraian, mengurus prosesnya dalam jangka waktu dekat ini tidak mungkin bisa mereka lakukan, mengingat kondisi Aurora yang sedang hamil. Setidaknya hal itu dapat terwujud setelah bayi mereka lahir nanti.


"Gadis yang sangat malang." gumam Austin sedih.


Austin sudah menepuk pundak Aurora disana, membagi sedikit semangatnya pada gadis itu.


"Bersabarlah, kau pasti akan menemukan kebahagiaan suatu hari nanti. Percayalah padaku."


Aurora diam tidak menjawab.


***

__ADS_1


Dua hari yang lalu, Juniar pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Itu sebabnya Galen punya nyali untuk membawa Mina datang ke rumah.


Juniar bukannya melarang. Hanya saja dia ingin Galen bisa menjaga perasaan Aurora.


"Nikmati makan siangnya." ucap Sarah dengan senyum lembut sembari menaruh piring terakhir berisi menu telur gulung.


"Ini untukmu, Aurora. Ibu mengupasnya sendiri khusus untukmu, makanlah.." Sarah menyodorkan semangkuk aneka buah potong pada Aurora.


"Terima kasih, Bu." balas Aurora.


Mina melihat interaksi antara Sarah dan Aurora dengan tatapan tak suka. Dulu Mina yang selalu mendapatkan perlakuan manis seperti itu, tapi sekarang Sarah bahkan tak sudi untuk menyapanya.


"Kelihatannya menu makan siangnya enak-enak, Bi." ucap Austin berkomentar, sementara Aurora sudah mulai makan buahnya.


"Kalau begitu makanlah dengan lahap, tidak perlu merasa sungkan, anggap saja sebagai rumah sendiri." ucap Sarah mempersilahkan.


"Pasti, Bi.." balas Austin dengan senyum mengembang lebar. Tangan lelaki itu sudah bergerak untuk mengambil nasi dan beberapa lauk disana.


"Galen dan Mina juga. Segera ambil nasi dan lauk yang kalian inginkan." titah Sarah.


Galen dan Mina sama-sama tidak memberikan jawaban.


Sarah berdiri dari tempatnya duduk, berhasil menarik perhatian empat orang lainnya disana.


"Ibu mau kemana?" tanya Aurora.


"Ibu mau kebelakang sebentar. Kalian lanjutkan saja makannya." jawab Sarah yang kemudian pergi meninggalkan meja makan.


Melihat itu Aurora segera berdiri dari kursinya, menyusul Sarah disana.


"Hei, habiskan dulu buahnya!" seru Austin namun Aurora tidak peduli untuk tetap berjalan keluar dari ruang makan.


Austin mencomot satu potong strawberry segar dari mangkuk Aurora. "Ini enak sekali, manis.." gumamnya.


Galen dan Mina tidak peduli pada kelakuan lelaki itu. Lebih memilih tenggelam dalam dunia mereka sendiri, terlihat Galen yang sedang menaruh beberapa potong tumisan daging kedalam piring Mina, gadis itu tersenyum manis melihat kelakuan mantan tunangannya tersebut.


Austin sepenuhnya terabaikan.

__ADS_1


***


__ADS_2