Aroma Hujan

Aroma Hujan
Pergi ke luar negeri


__ADS_3

"Kalian berdua benar-benar pasangan pengantin baru yang aneh. Satunya pergi bekerja sementara yang lain pergi menemui mantan tunangannya." gumam Austin.


Padahal kemarin malam Galen sudah mengatakan dia akan pergi menemui Mina, tapi tetap saja rasa cemburu ini muncul dengan kurang ajarnya!


"Apa kau ingin menghentikannya? Mencegah suamimu untuk datang kesana? Aku tau alamat apartemen Mina, kita bisa pergi kesana bersama. Bagaimana?" tanya Austin.


"Apa kau sudah gila?!" sentak Aurora marah.


Namun ekspresi Austin terlihat tetap terlihat tenang, sama sekali tidak terusik oleh amarah Aurora.


"Pergilah dari sini! Kita tidak saling kenal sebelumnya. Kedepannya, mari tetap bersikap seperti itu juga!" pinta Aurora.


Austin menghela nafas dalam. "Tidak bisa." gumamnya.


"Huh?!"


"Bagaimana jika aku katakan jika aku ingin mengenalmu lebih jauh. Mulai sekarang mari kita berteman, Aurora." ucap Austin dengan senyum mengembang.


***


Setelah kedatangan Austin tadi, Aurora masih saja kepikiran dengan ucapan lelaki itu. Tampaknya dia bisa diandalkan dalam urusan menjawab rasa penasaran Aurora terhadap Galen.


Namun hal ini juga meragukan, karena disisi lain Austin juga tampak seperti seseorang yang tidak bisa dipercaya, dia bisa dengan mudah menjadi akrab pada semua orang, tampak seperti seseorang yang memiliki sifat manipulatif.


Entahlah, untuk saat ini Aurora masih belum bisa percaya pada sosok Austin.


"Aurora.."


"Ya, Brie? Ada apa?" tanya Aurora melihat Briella yang datang mendekatinya.


"Sebenarnya ada sesuatu yang perlu aku bicarakan padamu, harusnya sudah sejak kemarin. Hanya saja aku merasa waktunya selalu tidak tepat." jawab Briella.


"Ada masalah apa?" tanya Aurora penasaran.


"Ini mengenai perceraianku dengan Setya."


"Bukankah terakhir kali kau bercerita jika semuanya sudah selesai?"


"Memang. Hak asuh Sean juga sudah resmi jatuh ditanganku. Tapi entah mengapa aku selalu merasa tidak tenang akhir-akhir ini. Aku takut Setya akan merebut Sean dariku." Briella bercerita dengan raut wajah yang tampak gusar.


"Mana bisa? Setya pasti sudah gila jika sampai nekat untuk melakukannya." balas Aurora.


"Sekalipun bukan hari ini, esok atau bahkan lusa, seiring dengan berjalannya waktu Sean akan tumbuh semakin dewasa. Kau tau bagaimana rindunya anak itu terhadap ayahnya? Aku takut hal itu akan membuat Sean menjadi terpengaruh kemudian Sean memutuskan untuk pergi meninggalkanku untuk bisa hidup bersama dengan ayahnya kelak setelah dia memiliki hak untuk memilih. Demi Tuhan, Aurora.. aku tidak rela!"

__ADS_1


Briella bercerita panjang dan kedua mata gadis itu sudah tampak berkaca-kaca.


"Jika bicara mengenai kenyataan, sekalipun Setya adalah seorang bajingan dia tetap ayah kandung Sean, tentunya dia juga memiliki hak untuk bertemu dengan anaknya." jelas Aurora.


"Aku tau jika aku sudah bersikap egois. Aku hanya ingin memiliki Sean seorang diri! Aku sangat ketakutan pikiran buruk ini akan menjadi sebuah kenyataan suatu hari nanti." ucap Briella yang kini sudah menangis disana.


Melihat kekhawatiran saudara kembarnya itu, Aurora jadi ikut merasakan sedih.


"Aku kepikiran tentang satu cara yang bisa menjauhkan Sean dari Setya secara tidak langsung." ucap Briella.


"Bagaimana caranya?" tanya Aurora dengan segera.


"Pergi ke luar negeri dan menetap disana. Hanya itu cara satu-satunya."


"Apa itu artinya kau akan pergi dan meninggalkan aku sendirian disini?" Aurora hanya ingin memastikan jika dugaannya keliru.


Briella dengan segera menundukkan kepalanya, enggan untuk menatap kedua mata Aurora yang menuntut menunggu penjelasan darinya.


"Maaf.. tapi aku tidak punya pilihan lain." gumam Briella.


Meskipun terasa berat pada akhirnya Aurora merelakan Briella dan Sean untuk pergi.


Briella telah lama menderita karena pernikahannya. Dia sudah begitu hebat bisa bertahan hingga dititik ini jadi Aurora tidak akan menahan saudara kembarnya itu untuk meraih kebahagiaan.


***


Internasional airport.


"Hubungi aku begitu kalian sudah mendarat nanti." pesan Aurora.


"Pasti. Urusan butik sudah aku serahkan pada Anna jadi kau tidak perlu repot-repot datang kesana setiap hari." ucap Briella.


"Aku tetep akan melakukannya sekalipun kau sudah mempekerjakan beberapa pegawai tambahan." balas Aurora.


"Jangan terlalu memaksakan diri, kau juga harus memikirkan keadaan bayimu." Briella memberikan nasehat.


"Dia kuat, Brie.."


"Sama seperti ibunya." sahut Austin dengan senyum cerah.


Jangan heran mengapa ada makhluk ini disini! Tentu saja itu semua karena perbuatan Briella. Alih-alih Galen yang notabenenya sebagai suami Aurora yang datang untuk mengantar kepergian Briella, saat ini justru Austin yang melakukannya.


"Aku titip saudara kembarku ya? Tolong kau jaga dia selama aku tak ada." pesan Briella.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Brie.. aku pasti akan melakukannya." balas Austin menyanggupi.


"Brie! Aku bukan barang yang perlu dititipkan!" protes Aurora.


"Aku tidak bisa pergi dengan tenang sebelum mengetahui kau memiliki seseorang yang bisa kau andalkan disini. Seharusnya orang itu adalah suamimu, tapi dia sama sekali tidak bisa dipercaya! Jujur saja ya, daripada Galen entah mengapa aku lebih percaya pada Austin meskipun aku belum lama kenal dia." jelas Briella panjang.


Senyum Austin seketika mengembang lebar. "Kau sudah memilih orang yang tepat, Brie.."


"Itu karena dia pandai bicara, secara tidak langsung kau sudah terpengaruh oleh mulut manisnya!" balas Aurora.


"Ah, tuduhan semacam itu membuatku merasa sedih dan sedikit tersinggung." ucap Austin.


"Tidak usah bersikap berlebihan! Kau jadi tampak menggelikan." ejek Aurora.


Austin sudah pura-pura pasang raut wajah tak terima.


"Aku akan segera pergi tapi kalian malah bertengkar. Apa aku bisa berangkat dengan perasaan tenang?" tanya Briella ingin memastikan.


"Tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan, kami sudah terbiasa seperti ini, itu hanya pertengkaran main-main, sama sekali tidak serius." jawab Austin menenangkan.


"Kau dan Sean baik-baik ya disana? Sering-sering juga hubungi aku, aku pasti akan merindukan kalian." pesan Aurora.


Aurora memeluk Sean terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi ke Briella.


"Kami nanti pasti akan kembali lagi kesini jika sudah dekat dengan hari perkiraan kau melahirkan. Jaga dirimu baik-baik." ucap Briella.


Aurora menjawab dengan anggukan singkat. Satu bulan pernikahan namun rasanya sudah sulit sekali. Sikap Galen sama sekali tidak berubah, orang-orang disekitar mereka sudah mulai merasa curiga.


Juniar dan Sarah sudah berulang kali memperingatkan Galen untuk bersikap baik pada Aurora, tapi dia tidak pernah menggubrisnya.


Lebih memilih untuk menemui Mina daripada mengantarkan Aurora pergi ke dokter kandungan. Galen dengan sigap segera pergi begitu Mina menghubunginya sekalipun itu masih tengah malam.


Aurora akui dia mulai lelah dengan segala sikap Galen.


"Lima bulan lagi, Brie.." gumam Aurora.


"Apanya?" tanya Briella.


"Begitu anak ini lahir kemudian proses perceraian kami telah selesai, aku akan segera pergi untuk menyusulmu." jawab Aurora.


"Kau tidak akan pergi kemana-mana." sahut Austin.


"Apa-apaan? Itu sama sekali bukan urusanmu, tuan Austin." Aurora sengaja memanggil Austin seformal itu.

__ADS_1


Karena Aurora ingin tetap memiliki batasan dengan lelaki yang dia anggap sebagai orang yang aneh itu!


***


__ADS_2