Aroma Hujan

Aroma Hujan
Kalah sejak awal


__ADS_3

Satu pesan baru saja masuk kedalam ponsel Aurora.


Austin : Bibi Sarah bilang kau dan Galen sedang pergi jalan-jalan ke daerah pegunungan. Gunung mana itu? Cepat beritahu aku! Aku akan segera menyusul kalian, aku 'kan juga ingin pergi jalan-jalan.


Aurora mengabaikan pesan itu dengan segera.


Namun kemudian menjadi obrolan seru dengan Austin ketika Aurora merasa dia sudah mulai bosan. Mereka mengobrol via telepon dengan durasi hampir satu jam lamanya tapi Austin masih tidak bisa mendapatkan lokasi pegunungan yang Aurora kunjungi, gadis itu pelit sekali dalam hal berbagi.


"Aku mau pulang!" ucap Aurora saat Galen masuk kedalam mobil dua jam kemudian.


"Memangnya kau sudah puas bermain-main disini?" tanya Galen.


"Sudah. Lagipula aku juga sudah lelah dan lapar." jawab Aurora.


Galen mengernyit heran. "Apa kau lupa apa saja yang sudah kau makan sebelum kita datang kemari? Aku bahkan merasa tidak akan kelaparan hingga hari berganti esok setelah mengikuti menu makanmu."


"Itu 'kan kau, bukan aku! Dan apa kau juga lupa jika yang aku makan akan terbagi menjadi dua, setengah untukku dan setengahnya lagi untuk bayiku." balas Aurora tak mau kalah.


Galen kemudian mengangguk paham.


"Bisakah kita bertahan sedikit lebih lama lagi disini? Aku masih ingin menikmati pemandangan disini, Mina juga." pinta Galen.


"Kau bisa melakukannya." balas Aurora dengan gampangnya. "Berikan kunci mobilnya padaku. Aku bisa menyetir sendiri untuk pulang."


"Dan membiarkan kami tidak bisa pulang dari sini? Terima kasih atas saranmu tapi maaf aku tidak setuju." tolak Galen.


"Jika tau akhirnya akan seperti ini lebih baik tadi aku membiarkan Austin menyusulku kemari. Aku rasa sekarangpun masih belum terlambat. Nikmati waktu kebersamaanmu bersama dengan Mina, aku akan meminta Austin untuk menjemputku dan pulang." ucap Aurora sudah mengeluarkan ponselnya dari sana hendak menghubungi Austin.


"Jangan!" cegah Galen dengan segera, dia bahkan sudah merebut ponsel Aurora disana.


Bisa gawat jika sampai Austin tau Galen membawa serta Mina datang kemari. Sahabatnya itu mungkin akan mengadu pada Juniar dan Sarah yang menimbulkan pertengkaran babak kedua akan segera dimulai.


"Galen, kembalikan!" pinta Aurora.


Galen menghela nafas. "Baiklah, kita pulang sekarang. Tunggu sebentar, aku akan menjemput Mina disana."


Aurora mengangguk tanpa menoleh.


Lima menit kemudian Galen benar-benar kembali bersama dengan Mina. Gadis itu menatap Aurora dengan tatapan tidak suka, menganggap Aurora sudah merusak momen kebersamaannya bersama dengan Galen padahal dia belum merasa puas menghabiskan waktu berduaan bersama dengan mantan tunangannya tersebut.


Melihat Mina yang bergelayut mesra pada lengan Galen, Aurora dengan segera berpaling muka, jujur saja, dia merasa cemburu.

__ADS_1


"Ingat ya, sayang.. kau sudah janji padaku untuk datang. Aku tunggu nanti malam." ucap Mina saat mereka sudah berada dalam perjalanan pulang.


"Iya, jangan khawatir. Aku pasti datang untuk menemanimu malam ini." balas Galen.


Aurora yang sudah terlanjur malas memilih untuk pura-pura tidur selama perjalanan pulang yang hanya di isi oleh suara Galen dan Mina yang saling mengobrol dengan romantis.


Mereka tiba di rumah saat hari sudah hampir malam karena harus mengantar Mina pulang ke apartemennya terlebih dahulu juga mampir makan spaghetti yang tiba-tiba Aurora inginkan.


"Kalian sudah pulang? Bagaimana? Apakah menyenangkan pergi ke gunung? Lalu calon cucu ibu bagaimana keadaannya?" sambut Sarah dengan senyum senang.


Aurora mengangguk singkat. "Udaranya bersih dan sejuk. Aku suka. Kata dokter Alina bayinya sehat, Bu.."


"Syukurlah.. tapi mengapa wajahmu murung begitu, Aurora? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Sarah khawatir.


"Tidak ada, Bu.. aku hanya lelah karena perjalanan." jawab Aurora berbohong.


Tentu saja dia murung setelah diperlakukan Galen seperti itu.


"Biarkan Aurora pergi istirahat dulu ya, Bu.." Galen meminta ijin.


"Baiklah.. setelah membersihkan diri kalian berdua turunlah kebawah untuk makan malam. Ibu akan meminta bibi menghangatkan makanannya kembali."


"Kami sudah makan malam. Tadi Aurora tiba-tiba saja ingin makan spaghetti, jadi kami mampir ke restoran terlebih dahulu sebelum pulang kemari." jelas Galen.


"Iya, Bu.." balas Aurora singkat.


Galen menyadari mood Aurora menjadi buruk karena kehadiran Mina tadi. Tapi memangnya Galen peduli? Lelaki itu hanya peduli pada Mina seorang.


Mereka bahkan bisa pergi ke gunung karena permintaan Mina, bukan demi Aurora dan calon bayinya seperti alasan yang Galen berikan dihadapan Juniar dan Sarah.


Benar-benar sosok laki-laki dengan kepribadian busuk!


Aurora sudah pergi mandi duluan sementara Galen menyusul setelahnya. Saat Galen baru saja selesai mandi, dia bisa menemukan Aurora masih berada di depan meja rias sembari menggunakan krim wajah.


"Aku dengar kau akan pergi malam ini?" tanya Aurora yang selalu menjadi orang pertama yang akan mengajukan pertanyaan saat merasa suasana diantara mereka terlalu sunyi.


Aurora heran melihat Galen yang sudah berganti pakaian dan hanya memakai pakaian santai ala rumahan.


"Ini masih jam delapan malam, nanti sekitar jam sepuluh saat ayah dan ibu sudah masuk kedalam kamar aku akan berangkat agar tidak ketahuan." balas Galen.


"Kau akan menginap di apartemen Mina?"

__ADS_1


Galen mengangguk singkat.


"Mengapa dia memintamu menginap? Apa sesuatu telah terjadi? Tidak perlu dijawab jika kau merasa aku terlalu ikut campur." ucap Aurora.


Galen benar-benar tidak memberikan jawaban. Lelaki itu malah membaringkan diri diatas ranjang. Aurora yang sudah selesai dengan kegiatan sebelum tidurnya memutuskan untuk ikut bergabung tidur disebelah Galen.


Hari ini cukup melelahkan, jadi Aurora ingin segera pergi tidur saja.


Namun tampaknya ada hal yang membuat Aurora tidak bisa segera terbang ke alam mimpi. Gadis itu berbalik dari posisinya yang semula membelakangi Galen.


"Ada apa?" tanya Galen tanpa menatap Aurora disana, lelaki itu hanya terdiam sembari menatap langit-langit kamar.


"Galen.."


"Hm?"


"Bolehkah aku minta sesuatu padamu?" tanya Aurora tiba-tiba.


"Kau ingin makan sesuatu lagi? Kau tadi bahkan sudah menghabiskan satu porsi spaghetti." jawab Galen.


"Bukan itu."


"Lalu apa?"


"Galen.." Aurora memanggilnya sekali lagi.


"Apa?"


"Sepertinya aku harus menarik kembali kata-kataku."


"Yang mana?"


"Yang bersumpah akan membuatmu menangis saat hari perceraian kita nanti." jelas Aurora.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Galen heran.


"Karena aku merasa sudah kalah sejak awal."


"Kau hanya menyerah pada keadaan tanpa mau berjuang terlebih dahulu."


"Apa yang harus aku perjuangkan? Melupakanmu? Atau bahkan membencimu? Apakah mencintai adalah sebuah kesalahan? Aku mencintai sosok ayah dari bayi yang berada didalam kandunganku memangnya itu salah? Aku bahkan tak mengharapkan balasan darimu." ucap Aurora dengan perasaan terluka.

__ADS_1


***


__ADS_2