Aroma Hujan

Aroma Hujan
Hari perkiraan lahir


__ADS_3

Ruangan dokter Alina..


09:20


"Hari perkiraan lahir tanggal lima bulan November." ucap dokter Alina setelah Aurora melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Usia janin dan perkembangannya juga sesuai, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tetap bahagia, makan makanan sehat dan bergizi, juga yang terpenting hindari stres." lanjut dokter Alina.


Aurora mengangguk paham.


"Untuk jenis kelaminnya? Kapan kami bisa mengetahuinya, dok?" tanya Galen penasaran.


"Karena usai kandungan sudah mencapai hampir lima bulan kemungkinan besar kita bisa mengetahuinya pada saat ibu Aurora melakukan pemeriksaan selanjutnya." jawab dokter Alina.


"Ah, begitu rupanya.." gumam Galen mengangguk paham.


"Kalau bapak Galen sendiri berharap calon bayi kalian laki-laki atau perempuan?" tanya dokter Alina yang memang terkenal ramah tersebut.


"Laki-laki ataupun perempuan sama saja, dok. Yang penting ibu dan bayinya sama-sama sehat." jawab Galen dengan bijak.


Aurora berharap ucapan Galen yang satu ini tidak hanya sekedar berpura-pura semata, karena Galen yang berdoa untuk calon bayi mereka adalah kebahagiaan tersendiri bagi Aurora.


"Itu benar sekali." ucap dokter Alina. "Ada beberapa jenis vitamin yang saya resepkan untuk ibu Aurora. Apa masih ada yang perlu ditanyakan lagi?"


"Tidak ada. Terima kasih, dokter." ucap Aurora sebelum mereka keluar dari ruang periksa.


Selama perjalanan pulang dari rumah sakit, Aurora tak henti-hentinya memandangi foto USG bayinya. Dia merasa bahagia karena dokter Alina mengatakan jika bayinya tumbuh dengan baik dan sehat.


Bulan November akan menjadi bulan yang paling Aurora nantikan, bulan dimana dia bisa bertemu secara nyata dengan bayinya, Alexandra junior.


"Galen.." panggil Aurora.


"Hm?"


"Aku ingin makan es krim rasa karamel."


"Es krim karamel?" ulang Galen.


Aurora mengangguk.


"Didepan sana ada kedai es krim yang enak. Ayo kita mampir sebentar sebelum pergi ke gunung." ajak Aurora.


"Baiklah.." balas Galen menuruti.


Setelah es krim karamel, terbitlah cheese corndog dan juga waffle dengan potongan buah strawberry segar.

__ADS_1


Sepertinya itu jajanan favorit Aurora karena dulu dia juga menginginkan makan jajanan itu.


"Mengikuti porsi makanmu hanya akan menambah kadar lemak di tubuhku. Kenapa kau suka sekali makan makanan manis?" keluh Galen heran.


"Entahlah.. bawaan bayi mungkin, padahal dulu aku tidak terlalu suka makanan manis." balas Aurora seadanya, dia masih asik menikmati waffle-nya.


"Lagipula, siapa yang menyuruhmu ikutan makan juga?" tanya Aurora heran.


Benar juga! Aurora bahkan tidak menawari Galen, lelaki itu terus saja memesan dua porsi pada setiap makanan yang Aurora inginkan. Satu untuk Aurora dan satu lagi untuk Galen sendiri.


"Kalau kau begitu takut gemuk. Ya sudah jangan makan! Apalagi yang manis. Biarkan semua makanan ini jadi milikku!"


"Aku 'kan juga mau.." gumam Galen dengan ekspresi tidak rela makanannya dibagi-bagi.


Melihat itu senyum Aurora secara otomatis mulai mengembang tanpa dia sadari.


"Sudah hampir siang. Ayo kita mulai perjalanan menuju gunung untuk menghilangkan stres." ajak Galen.


Aurora mengangguk penuh semangat.


"Tapi sebelum itu kita mampir terlebih dahulu ke suatu tempat." ucap Galen.


"Kemana?" tanya Aurora penasaran.


Tangan Aurora yang bergerak hendak memasukkan potongan waffle ke dalam mulutnya seketika terhenti.


Bahkan saat Galen sudah mulai berjalan menuju mobilnya, Aurora masih bertahan berdiri disana sendirian.


Mendengar ucapan Galen, semangat Aurora seketika menghilang, senyum ceria tak lagi menghiasi wajahnya, bahkan kini Aurora tak lagi memiliki nafsu untuk menghabiskan waffle yang masih tersisa setengah ditangannya.


"Aurora, ayo!" ajak Galen yang melihat Aurora masih diam disana.


Gadis itu kemudian menghampiri Galen didalam mobil.


"Aku tidak jadi pergi saja." ucap Aurora.


Galen mengernyit heran. "Kenapa?"


Aurora segera menatap laki-laki itu. "Kau masih bisa bertanya kenapa? Kau ini bodoh atau apa?! Antarkan aku ke butik sekarang juga!"


Bukannya merasa tersinggung Galen justru tersenyum mendengar ucapan Aurora. "Kau ini sama sekali tidak profesional ya? Dimana sosok Aurora yang pernah bersumpah akan membuatku menyesal dan menangis saat hari perpisahan kita? Sedangkan disini saja aku sudah bisa melihat jika kelak kau yang akan menangisi kepergianku dari hidupmu."


"Galen, hentikan!" pinta Aurora merasa segala sesuatu tentang dirinya mudah sekali untuk terbaca.


"Apa kau sudah menyerah untuk membuktikan ucapan kala itu?! Jangan menyerah begitu saja dan tetap bersemangat jika kau masih memiliki keinginan yang besar untuk membuatku menangis saat kita bercerai nanti."

__ADS_1


Aurora hanya diam tanpa berniat untuk menjawab.


"Bukankah wajar jika aku pergi bersama dengan Mina? Dia seseorang yang aku cintai, ingin mengajakku pergi ke pegunungan untuk menikmati udara segar disana, namun jika aku pergi sendirian hal itu akan menyebabkan ayah dan ibu merasa curiga dan hubunganku bersama dengan Mina yang masih berlanjut secara diam-diam ini akan segera ketahuan oleh mereka, itu sebabnya aku membawa serta dirimu untuk pergi kesana." jelas Galen panjang.


Aurora segera menertawakan kebodohan dirinya sendiri.


Akhir-akhir ini Galen memang sudah tidak pernah terlihat pergi bersama Mina dan dengan percaya diri Aurora menganggap hubungan mereka telah kandas.


Selama ini Aurora selalu berharap suatu hari nanti sikap baik Galen menjadi suatu kenyataan bukan hanya sekedar berpura-pura semata.


Namun sepertinya itu hanya akan menjadi sebuah harapan yang tidak akan pernah bisa terwujud sampai kapanpun.


Perjalanan mereka membutuhkan waktu selama dua jam dengan Mina yang duduk disebelah kursi kemudi sementara Aurora dibelakang seolah-olah kehadirannya disana tidak dianggap sama sekali.


"Apa perjalanannya melelahkan?" tanya Galen dengan senyum cerah sembari menatap lekat Mina disebelah.


"Lumayan. Tapi semuanya terbayarkan dengan pemandangan indah disini." jawab Mina dengan senyum yang sama.


"Mau keluar untuk menikmati udara segar?" ajak Galen.


"Tentu."


Galen kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu agar Mina bisa keluar juga.


"Ah~ segar sekali! Aku suka!" seru Mina sembari menghirup udara pegunungan.


"Disana pemandangannya lebih bagus. Kau mau lihat?"


Mina mengangguk penuh semangat, mengikuti langkah Galen yang menggandengnya dengan lembut.


Aurora telah diabaikan sepenuhnya.


Antara hubungan Galen dan Mina, tidak ada yang berubah, semuanya masih sama, kecuali perasaan Aurora yang mulai terpengaruh oleh perhatian manis yang Galen berikan.


Aurora tidak tau.


Bagaimana dia harus mengatasi rasa sakitnya ketika mereka memutuskan untuk bercerai setelah bayi ini lahir nanti.


Sudah sampai disini dengan perjalanan yang melelahkan selama dua jam, rasanya rugi sekali untuk tetap berdiam diri didalam mobil tanpa keluar sembari menikmati udara segar pegunungan.


Udara pegunungan memang berbeda, sejenak setelah menghirup kesegaran udara disana, secara perlahan pikiran Aurora mulai kembali tenang.


Tidak masalah tanpa Galen, Aurora masih bisa pergi berjalan-jalan disekitar sini berdua bersama dengan Alexandra junior.


***

__ADS_1


__ADS_2