
Secara tidak terduga. Galen dan Aurora nyatanya memiliki satu kesamaan. Itu adalah snow white seekor kucing jantan peliharaan Galen dengan warna bulu putih bersih secara keseluruhan.
Galen tidak pernah mengira jika Aurora dan snow white bisa seakrab itu. Sebulan ini hampir setiap malam pemandangan Aurora dan snow white yang tengah tidur bersama menyambut kedatangan Galen saat dia baru memasuki kamar.
Berbeda dengan Aurora, Mina tidak menyukai hewan berbulu itu, dia kerap kali mengusir snow white ketika berada didekatnya. Mina berkata jika kucing hanya membawa penyakit bahkan resiko kemandulan.
Sarah sudah melarang Aurora untuk dekat-dekat dengan snow white tapi dia berkata jika resiko yang Mina sebutkan hanyalah mitos belaka, apalagi snow white adalah kucing rumahan yang terjamin perawatannya.
Aurora sangat menyukai kucing namun Briella tidak. Itu sebabnya Aurora bisa memeliharanya di rumah padahal sebenarnya dia ingin memiliki satu atau dua ekor sebagai teman pelepas lelah.
"Apa kemarin malam kacau sekali?" tanya Austin penasaran sembari mengunyah kentang goreng.
"Sangat kacau." balas Aurora setelah menelan potongan pizza didalam mulutnya.
Aurora tidak tau hal apa yang sudah membuat Austin datang ke JJ Bridal Boutique siang ini sembari membawa satu paket pizza.
Tapi hal itu mendadak membuat Aurora merasa lapar hanya dengan mencium aromanya saja, hingga dia tidak bisa menolak kehadiran Austin disana.
"Sudah aku duga." gumam Austin.
"Saat itu aku sudah tidur di kamar, aku mendengar teriakan dari luar, membuatku seketika terbangun karena terkejut. Aku melihat Galen sedang bertengkar dengan ayah mertua. Aku tidak menduga ayah mertua akan pulang malam ini, padahal rencananya baru minggu depan." ucap Aurora bercerita.
"Pasti bibi Sarah." lagi-lagi Austin menggumam.
"Apa?" tanya Aurora tidak begitu bisa mendengar suara Austin.
"Yang mengadu. Hingga paman Juniar terpaksa pulang kemarin malam." jawab Austin.
"Ah, begitu rupanya." Aurora mengangguk percaya.
"Yang aku tidak habis pikir, Galen berani melawan ayah mertua. Aku dan ibu sudah berusaha melerai mereka tapi kemudian Galen pergi dengan membawa serta Mina. Dia tidak pulang ke rumah hingga tadi pagi membuat ibu terus menangis, jadi aku berusaha untuk menenangkan ibu semalaman."
"Kau sudah lihat sendiri 'kan buktinya? Itu jelas efek dari pengaruh buruk Mina. Apa kau akan diam saja melihat hal itu terjadi didepan mata kepalamu sendiri?" tanya Austin.
__ADS_1
"Entahlah.." balas Aurora.
"Aku sih sangat menghargai diammu. Itu tandanya kesempatanku untuk memilikimu semakin terbuka lebar karena kau sudah tidak menaruh rasa peduli terhadap Galen, tapi jika kau memiliki keinginan untuk melawan Mina dan merebut Galen kembali, aku tidak akan ragu-ragu untuk memberikan dukungan padamu."
Aurora segera menatap Austin dengan pandangan heran.
"Tidak perlu berekspresi seperti itu! Aku sudah tau kok, kalau aku ini keren!" ucap Austin percaya diri.
Aurora segera mengabaikan. "Adalah sebuah kewajaran jika Mina membenciku karena aku sudah merebut calon suaminya. Aku merasa tidak pantas untuk menghakimi gadis itu, itu terkesan seperti aku adalah seseorang yang tidak tau diri. Perasaan semacam ini mungkin hanya bisa dimengerti oleh sesama wanita."
Austin mengangguk paham. "Ya terserah kau saja. Segala keputusan ada ditanganmu. Kalau kau diam, itu artinya kau sudah siap untuk kehilangan."
Aurora terdiam dan berpikir.
"Jujur saja, aku ini benar-benar sangat menyukaimu, tapi aku tidak ingin kau memiliki penyesalan di masa depan."
Gadis itu menatap Austin seolah-olah tengah menilai jika Austin benar-benar sosok lelaki yang aneh tapi nyata, dia berbeda dengan yang lain.
"Coba kau tanyakan hal itu pada dirimu sendiri sekali lagi. Apakah kau mencintai Galen? Apa kau sudah siap untuk kehilangan suamimu? Saat ini aku memang sedang berusaha keras untuk mendapatkan hatimu, tapi dibalik semua itu aku percaya jika segalanya sudah ada yang mengatur. Termasuk usia, rejeki dan juga jodoh." ucap Austin.
"Meskipun begitu kau tetap harus berusaha. Jangan cuma pasrah! Raihlah apa yang ingin kau raih. Jangan pernah menyerah sebelum mencoba." Austin memberikan suntikan semangat.
"Melihat Galen rasanya sakit sekali, Austin.. lelaki itu telah mematahkan perasaan cintaku padanya sesaat setelah aku mengakuinya. Dia menolakku begitu saja tanpa perasaan, padahal saat itu menjadi kali pertama aku mengakui perasaanku terlebih dahulu terhadap seorang laki-laki." Aurora mengingat kembali kejadian malam itu. Malam pertama saat dia dan Galen resmi menjadi sepasang suami istri.
"Ingat, Aurora.. kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu sendiri jadi jangan pernah mengantungkan sebuah harapan terhadap sesama manusia karena ujung-ujungnya pasti akan menyakitkan." ucapan Austin menjadi akhir dari obrolan diantara mereka berdua.
Karena setelahnya Aurora jadi lebih banyak terdiam sembari merenung.
Aurora tidak mengerti mengapa Austin bisa begitu betah hampir seharian ini menghabiskan waktu di JJ Bridal Boutique. Namun dari obrolan mereka, Aurora bisa lebih mengenal lagi sosok Austin, dia lelaki yang unik dan tampaknya bisa diandalkan.
Pulang dari butik bersama dengan Austin di malam hari, tidak ada rasa curiga yang ditunjukkan Sarah dan Juniar, mereka justru menyambut kedatangan Austin dengan hangat, kemudian mengajaknya mengobrol sembari menikmati segelas kopi dan cemilan yang Sarah suguhkan, sementara Aurora lebih dulu pamit untuk masuk kedalam kamar.
"Oh, kau sudah pulang ternyata." sambut Aurora begitu melihat ada Galen didalam kamar.
__ADS_1
Aurora sebenarnya hanya ingin basa-basi karena jika hanya sama-sama diam, suasana akan berubah menjadi canggung sekali.
"Ada apa dengan wajahmu? Mengapa jadi terluka begini?" secara reflek Aurora langsung datang mendekat setelah melihat wajah Galen yang tampak lebam juga sudut bibir lelaki itu yang telah koyak.
Itu pasti akibat dari perbuatan Juniar.
Aurora mencoba memegang wajah Galen, namun dengan segera Galen menepisnya.
"Maaf.." gumam Aurora.
"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri!" pinta Galen kesal.
"Baiklah." balas Aurora.
Aurora masuk kedalam kamar mandi setelahnya, membersihkan diri sebelum nantinya harus turun kebawah untuk makan malam bersama dengan yang lain.
Aurora selesai dua puluh menit kemudian dan dia masih menemukan Galen disana, tengah duduk terdiam ditepi ranjang.
"Segara pergi mandi. Sebentar lagi ibu pasti akan memanggil kita untuk makan malam." titah Aurora.
Galen menghela nafas dalam. "Aurora.."
"Apa?"
"Mari kita bicara."
"Tentang apa?"
"Kelanjutan hubungan kita."
Aurora mengangguk setuju kemudian mengambil posisi duduk tepat disebelah Galen.
Memang, cepat atau lambat mereka harus membicarakan hal ini.
__ADS_1
***