Aroma Hujan

Aroma Hujan
Ikut Briella


__ADS_3

"Sebenarnya dia bisa melakukannya sendiri atau justru ingin menutupi sesuatu darimu?" tanya Austin sengaja membuat Galen semakin terpojok.


Aurora sebenarnya heran mendengar ucapan Austin yang seolah-olah dia sudah mengetahui rahasia Mina. Merasa penasaran dia tau darimana.


"Semua orang juga tau bagaimana manjanya Mina padamu selama ini. Sekarang begini saja, apakah masuk akal bagimu ketika Mina secara terus menerus merasa tidak apa-apa untuk melakukan pemeriksaan kandungan sendirian? Bahkan hanya untuk pergi ke salon rambut saja dia minta diantar." gumam Austin.


Memang tidak masuk akal namun Galen masih bersikeras menyangkal ucapan Austin dan Aurora sekalipun saat ini rasa curiganya terhadap Mina semakin menjadi-jadi.


"Pergilah, Austin!" usir Galen.


"Kau saja yang pergi!" Aurora balas mengusir Galen.


Lelaki itu tampak terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang istri.


"Malam ini lebih baik aku ditemani oleh Austin." ucap Aurora.


"Kau dengar itu? Sudah mengerti 'kan apa yang Aurora inginkan? Jika iya, silahkan segera angkat kaki dari sini." Austin menunjukkan pintu keluar untuk Galen.


"Bagaimana bisa kau melakukan hal ini padaku? Disaat aku berusaha meluangkan waktu untukmu bahkan rela meninggalkan Mina sendirian di apartemen." ucap Galen tidak terima.


"Aku hanya merasa tidak nyaman berada di dekatmu. Karena kemungkinan hal itu bisa kembali mengundang amarah Mina. Aku tidak mau calon anakku celaka, aku hanya ingin melindunginya dengan caraku sendiri." balas Aurora dengan tegas.


"Sekarang kau bahkan menuduh Mina tanpa alasan?! Kau ini ternyata kejam sekali! Aku tau kau membenci Mina, tapi bukan begini caranya! Jika ayah dan ibu mendengar ucapanmu, mereka bisa saja menjadi salah paham, jadi berhati-hatilah jika kau tidak ingin menimbulkan fitnah pada seseorang yang bahkan tidak bersalah." ucap Galen menahan emosinya.


Aurora segera menatap Galen dengan tajam. "Kau pikir, siapa yang sudah membuatku masuk rumah sakit begini?!"


"Maksudmu Mina? Tidak mungkin! Ini sudah keterlaluan!" Galen tampak semakin geram, menganggap Austin dan Aurora sudah menuduh Mina dengan sembarangan.


"Terserah jika kau tidak percaya. Yang pasti, antara kau dan Mina, aku sudah tidak ingin terlibat lagi. Tidak usah menunggu hingga bayiku lahir, aku akan segera mengurus perceraian kita!" ucap Aurora.


***

__ADS_1


Briella datang keesokan harinya sendirian tanpa Sean. Tampaknya anak itu sudah cukup betah tinggal di luar negeri. Austin ingat, dia batal menghubungi Briella kemarin karena fokusnya teralih pada Aurora yang terbangun dan memanggil namanya.


Austin meminta maaf dengan sangat karena hal itu terjadi di luar kuasanya, dia mengaku telah lalai menjalankan tugas yang Briella percayakan padanya.


Briella berkata dia mendapatkan kabar tentang Aurora dari Anna yang membuatnya segera terbang menemui saudara kembarnya disini.


"Aku akan membawa Aurora terbang ke luar negeri setelah dia keluar dari rumah sakit dan keadaannya sudah dinyatakan pulih sepenuhnya oleh dokter." ucap Briella.


Aurora tidak ikut bicara dan tidak ingin menyangkal. Untuk saat ini Aurora hanya akan menyerahkan segalanya pada Briella karena dia tau saudara kembarnya itu akan memberikan yang terbaik bagi Aurora dan juga calon bayinya.


"Jaman sekarang ini segalanya bisa dipermudah. Proses perceraian dalam keadaan hamil tidak akan jadi masalah besar." lanjut Briella.


Sarah sudah menangis disana sementara Juniar mencoba untuk menenangkannya.


"Kami benar-benar merasa sangat malu. Seharusnya kami bisa menjaga Aurora dengan lebih baik lagi hingga kejadian seperti ini tidak sampai dia alami." ucap Sarah dengan tersedu.


"Kami merasa sangat menyesal karena sudah bersikap mengecewakan setelah kemarin berjanji akan menjaga Aurora selayaknya anak kami sendiri namun ternyata kami masih belum mampu." Juniar ikut merasa bersalah.


"Aurora benar, ini bukan kesalahan kalian. Kami tau, kalian sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk saudara kembarku. Aku membawa Aurora pergi bukan karena merasa marah ataupun sebagai bentuk balas dendam. Aku melakukan ini hanya untuk kebaikan Aurora dan calon bayinya. Hidup seorang diri di kota besar ini, apalagi dalam keadaan hamil, tentu saja tidak mudah." Briella mencoba untuk menjelaskan.


"Tolong beri kami kesempatan sekali lagi. Kami masih ingin merawat Aurora, melihat cucu kami lahir." ucap Sarah memohon.


"Jika Aurora bersedia, anda bisa mendapatkan semua keinginan anda, Nyonya Sarah. Bagaimana? Kau untuk tinggal disini atau memilih untuk pergi bersamaku?" tanya Briella.


"Maaf, Bu.. ayah.. aku akan mempercepat proses perceraianku dengan Galen kemudian tinggal di luar negeri bersama dengan Briella. Karena disini aku tidak merasa aman sama sekali, banyak sekali hal yang mengusik ketenanganku." ucap Aurora memberikan penjelasan.


Sarah sudah beralih memegang erat kedua tangan Aurora disana. "Hanya sampai bayimu lahir, nak. Berikan kesempatan bagi ibu untuk merawatmu berserta dengan calon cucu ibu. Setelah usia bayimu cukup untuk dibawa berpergian jauh, kau bisa pergi. Nanti, biar ayah dan ibu yang datang untuk mengunjungi kalian disana. Tolong beri kami kesempatan sekali lagi."


Melihat Sarah yang menangis membuat pertahanan Aurora menjadi lemah dan kemudian runtuh, air mata gadis itu jatuh mengalir.


"Maaf, Bu.. maaf karena aku merasa tidak mampu bahkan setelah aku mencoba untuk menguatkan diri. Mengingat keadaanku sekarang ini, aku hanya tidak mau mengambil resiko demi keselamatan bayiku." balas Aurora.

__ADS_1


"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, ayah dan ibu akan berusaha untuk menghargainya." ucap Juniar pada akhirnya.


Juniar hanya tidak ingin bersikap egois dengan terus menahan Aurora disini sementara gadis itu telah mengakui jika dia sudah tak mampu.


Apapun keputusan yang diambil Aurora, Juniar hanya berharap menantu dan calon cucunya selalu diberikan kesehatan dan di lindungi dimanapun mereka berada.


Sementara itu ditempat lain..


Galen secara diam-diam pergi menemui Hani setelah ibu kandung dari Mina itu menghubunginya tadi pagi dan menanyakan kabar Mina karena sudah hampir seminggu ini Mina jarang sekali membalas pesan yang Hani kirimkan.


Galen meminta Hani datang menuju restoran dan pergi ke private room yang telah dia reservasi.


"Ibu apa kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu." sambut Galen.


"Kabarku baik. Kau sendiri?"


"Aku juga baik, Bu."


"Kau datang sendirian? Dimana Mina?" tanya Hani penasaran.


"Aku sengaja tidak membawa Mina, Bu.. karena ingin bicara berdua saja bersama ibu." jawab Galen.


Hani kemudian mengangguk mengerti.


"Bagaimana kabar Mina? Dia baik-baik saja 'kan? Kenapa dia tiba-tiba mengacuhkan aku?" tanya Hani dengan ekspresi bingung.


"Mina baik, Bu." balas Galen.


"Apa kau tau, Galen? Sejak kejadian di apartemen hari itu, anak itu masih saja marah padaku, padahal aku melakukan semua itu demi kebaikan dia juga, tapi Mina tidak pernah mau mengerti, hanya menganggap jika aku telah merusak hubungan kalian." Hani mulai bercerita.


***

__ADS_1


__ADS_2