Aroma Hujan

Aroma Hujan
Supermarket


__ADS_3

"Sebenarnya dokter belum mengijinkan, hanya saja aku memaksa ingin pulang, bosan sekali berada disana, tidak ada yang bisa menemaniku sepanjang hari." jelas sekali Mina tengah menyindir Galen.


"Aku kan harus pergi bekerja. Jadi tidak bisa berada di sisimu sepanjang waktu." balas Galen memberikan pembelaan.


"Aku tau, tapi hal itu sungguh menjengkelkan sekali."


Tahu jika emosi Mina akan segera meluap, dengan segera Galen mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kau sudah sarapan?"


Mina menggeleng pelan.


"Tunggulah dibawah, aku akan mandi sebentar kemudian kita pergi sarapan bersama." pinta Galen.


"Baiklah.. aku akan mengobrol bersama ibu selama menunggumu."


Lima belas menit kemudian, Galen turun kebawah, menemukan Mina sudah berada di ruang makan bersama Sarah.


"Ibu sudah menyiapkan menu sarapannya. Kalian berdua makanlah yang banyak, terutama Mina. Jangan pikirin masalah berat badan, kau baru saja sembuh.. fokus saja untuk pulih terlebih dahulu."


"Iya, Bu.."


"Lalu, Galen.. setelah sarapan antarkan ibu pergi ke supermarket untuk belanja bulanan."


"Iya, Bu.." balas Galen menurut begitu saja.


"Apa aku boleh pergi bersama ibu?" tanya Mina pada Galen.


"Tidak boleh. Nanti kau lelah." tolak Galen dengan segera.


"Benar apa yang Galen katakan. Kau disini saja ya." bujuk Sarah.


"Tapi aku ingin membantu ibu belanja bulanan, pasti seru jika dilakukan bersama-sama."


"Kau yakin mau ikut?" tanya Galen memastikan.


Mina mengangguk dengan antusias.


"Baiklah, tapi kau harus segera mencari tempat untuk beristirahat begitu mulai merasa lelah." Galen akhirnya memberikan ijin.


"Aku mengerti."


***


"Kau mau pergi?" tanya Briella saat melihat Aurora keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang sudah rapi.


"Iya."


"Kemana?"

__ADS_1


"Ada beberapa barang yang harus aku beli sebagai persiapan pergi ke luar negeri." jawab Aurora.


"Kau bisa melakukannya nanti, lagipula kau baru saja keluar dari rumah sakit tadi pagi. Perhatian kondisi tubuhmu."


"Brie, jangan berlebihan! Keadaanku sudah sangat baik sekali."


"Bagaimana kalau perginya nanti malam saja, bersamaku? Karena pagi ini aku harus pergi ke butik terlebih dahulu." bujuk Briella memberikan penawaran.


"Selesaikan pekerjaanmu saja dan jangan khawatirkan aku. Aku akan pergi sekarang."


"Aurora!"


"Aku akan menghubungi nanti." teriak Aurora yang sudah berjalan menjauh.


Briella berdecak kesal. Mengapa adik kembarnya itu bebal sekali?! Tentu saja Briella khawatir, membiarkan gadis yang tengah hamil muda itu pergi sendirian. Kalau saja tidak terkendala dengan pekerjaan, Briella mungkin akan segera menyusul Aurora.


Aurora telah bersiap untuk pergi, memasang seat belt yang kemudian mengusap permukaan perutnya yang masih rata.


"Kau tenang saja ya, ini akan menjadi permulaan hidup kita yang damai dan bahagia. Sekalipun ayahmu tidak menginginkanmu, masih ada ibu disini. Aku berjanji akan selalu berusaha membuatmu merasa bahagia setelah kau lahir nanti." ucap Aurora pada janin didalam perutnya.


Sekalipun dia tahu jika janin itu masih belum bisa mendengarkan ucapan sang ibu karena usianya yang masih begitu muda.


"Kau ingin makan egg sandwich 'kan? Ayo, kita beli sekarang juga!"


Mobil Aurora mulai berjalan meninggalkan halaman rumah.


***


Aurora bisa merasakannya, egg sandwich terenak yang pernah dia makan. Bisa sarapan tanpa mual dan muntah adalah sesuatu yang patut Aurora syukuri.


Apapun itu yang bayinya inginkan, Aurora akan berusaha memenuhinya demi bisa mencukupi kebutuhan gizi sang jabang bayi.


Aurora sempat mencari informasi mengenai cara mengurangi gejala morning sickness dan menemukan makanan tertentu bisa menjadi solusinya.


Itu sebabnya saat dia pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan yang akan Aurora bawa ke luar negeri, sekalian saja dia mampir pergi ke supermarket untuk membeli aneka cemilan ringan yang sehat untuk mengurangi gejala morning sickness-nya.


Hyundai Departemen Store..


11:39


Troli belanja Mina sudah hampir penuh terisi dengan berbagai bahan makanan, namun Sarah tampaknya masih belum selesai dengan urusan belanjanya. Ditambah lagi dengan Galen yang mendadak harus pergi karena ada urusan dari perusahaan.


"Mina, apa kau sudah lelah?" tanya Sarah.


"Lumayan, Bu.." balas Mina seadanya.


"Apa kita perlu istirahat sebentar?"


"Tidak perlu, Bu. Kita selesaikan saja ini terlebih dahulu baru kemudian pergi untuk makan siang bersama." tolak Mina.

__ADS_1


"Baiklah.."


Sementara Aurora berada di deretan rak berisi aneka biskuit manis. Dia memilih beberapa diantaranya sebagai penutupan belanja cemilan hari ini sebelum akhirnya bergegas menuju kasir untuk membayar.


"Mina.."


"Ya, Bu?"


"Setelah menikah nanti kalian ingin punya anak laki-laki atau perempuan?" tanya Sarah ketika mereka sedang berada di kasir.


"Belum terpikirkan olehku, Bu."


"Galen sangat menyukai anak-anak. Jadi kalau bisa jangan menunda-nunda ya? Ibu dan ayah juga ingin segera punya seorang cucu."


Mina menghela nafas dalam. "Anak adalah titipan Tuhan. Jika Tuhan belum mempercayai kita tidak bisa memaksa 'kan!"


Sarah terkejut mendengar ucapan Mina juga nada bicaranya yang terdengar sedikit sinis.


"Lagipula aku masih ingin mengejar karirku sebagai seorang balerina." tambah Mina.


"Bukankah kau sudah menyetujui akan berhenti bekerja setelah menikah nanti?" tanya Sarah bingung dengan perubahan mood calon menantunya.


"Aku tidak akan berhenti. Aku tidak mau!"


"Mengapa tiba-tiba berubah pikiran, nak? Apakah Galen tau tentang hal ini?"


Mina menggeleng. "Aku belum memberitahunya."


"Ibu sarankan padamu untuk tidak merubah apa yang sudah kalian sepakati bersama di awal. Ayah dan ibu hanya ingin seorang cucu yang lucu. Tidak peduli itu laki-laki ataupun perempuan, bagi kami sama saja, tak ada bedanya. Tapi sepertinya itu laki-laki, karena kemarin malam ibu bermimpi lagi. Kali ini tentangă…ˇ"


"Hentikan, Bu!" sela Mina dengan wajah sebal. "Mengapa ibu berubah jadi sosok yang kolot begini? Mengapa ibu masih mempercayai mimpi semacam itu? Ibu benar-benar konyol!"


Mina membanting satu kotak strawberry di meja kasir. Menimbulkan reaksi terkejut dari Sarah, para pengunjung yang mengantri hendak membayar juga petugas kasir yang ada disana.


"Berhentilah menjadi menyebalkan! Ucapan ibu benar-benar membuatku muak!" setelah berkata seperti itu, Mina pergi meninggalkan Sarah sendirian disana.


"Mina.. kau mau kemana? Tunggu ibu!" Sarah mencoba mengejar namun terjatuh akibat sepatu hak tinggi yang dia kenakan, kaki wanita itu terkilir. Mina sempat melihatnya namun tak datang menghampiri, justru berjalan semakin menjauh.


Aurora yang kebetulan baru saja selesai dengan urusan membayar, menemukan Sarah yang sudah terjatuh tak jauh disana, dia segera datang untuk memberikan pertolongan.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya Aurora.


"Bisakah kau membantuku berdiri?" tanya Sarah meminta bantuan.


"Tentu."


Aurora membantu Sarah berdiri, kemudian mendudukkannya disebuah kursi tak jauh disana.


***

__ADS_1


__ADS_2