
Galen mendesah keras sembari mengusap kasar wajahnya.
"Sekalipun dulu kau sudah menjanjikannya, akan menikahiku dan menceraikan Aurora setelah bayinya lahir, aku tetap memiliki kekhawatiran kau akan pergi meninggalkan aku. Ternyata hal itu menjadi kenyataan. Kau benar-benar pergi! Apa kau tau bahwa seminggu ini aku selalu memikirkan masalah ini sendirian? Aku merasa sangat tersiksa. Bagaimana caranya aku memberitahu kenyataan ini padamu, terlebih pada ayah dan ibumu. Aku sadar jika aku sudah melukai perasaan banyak orang dengan pengakuan ini, tapi jika tidak mengatakannya, aku takut, kedepannya aku tidak mampu untuk bertahan menghadapi ini sendirian."
"Mina, kauㅡ"
"Apa kau bersedia untuk bertanggung jawab atas kehadiran calon anak kita ini, Galen?" sela Mina bertanya.
Galen terdiam.
"Aku tidak mau bernasib sama seperti ibuku. Membesarkan seorang anak tanpa suami! Kau bahkan tidak tau bagaimana sulitnya keadaan ibuku saat itu. Dihina, dicaci maki dan juga direndahkan! Daripada menjalani hari-hari yang berat di masa depan, selagi kandungan ini masih berusia satu bulan, aku akan pergi untuk menggugurkannya saja jika kau tidak mau bertanggung jawab." ucap Mina sembari menangis.
"Apa yang kau katakan?!" seru Galen tidak terima.
Mina masih menangis disana. "Apalagi? Bayi ini bahkan tidak diharapkan oleh ayahnya sendiri."
"Aku tidak mau! Dimasa depan dia akan menjadi persis sepertiku. Aku sudah lama menderita, mengalami depresi karena nasibku yang tidak jelas dimana ayah kandungnya. Selama ini aku benar-benar kesulitan, Galen. Ini benar-benar terasa sangat sulit sekali untuk dilalui!"
Galen berjalan untuk mendekati Mina disana, memeluk tubuh kurus gadis itu. "Tenanglah, Mina.. kita pikirkan jalan keluarnya bersama-sama."
Mina membalas pelukan Galen kala lelaki itu memberikan usapan lembut dipunggung sempitnya.
"Aku hanya tidak ingin dia direndahkan karena tidak memiliki seorang ayah, sama seperti ibunya."
"Aku mengerti." balas Galen.
"Kau berubah Galen. Kau sudah berubah. Kau bukan lagi sosok Galen yang aku kenal selama ini." ucap Mina dengan tangis yang belum sepenuhnya reda.
"Aku masih Galen yang sama." balas Galen.
"Rasa cintamu padaku telah memudar, kau tidak lagi peduli padaku."
"Hubungan kita berakhir karena aku merasa tak pantas bersanding dengan gadis baik sepertimu. Maafkan aku karena tanpa sengaja telah merusak masa depanmu."
"Aku hanya mengingatkan tanggung jawabmu, Galen. Selayaknya seorang lelaki yang memiliki itikad baik. Aku dan anak ini membutuhkanmu, hanya kau seorang yang bisa aku percaya untuk saat ini, ibuku telah lama membenciku karena perbuatanku kala itu. Dia sudah tak lagi peduli, jika kau memilih untuk pergi meninggalkanku juga, aku mungkin akan segera mati."
"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak akan pergi kemana-mana, aku berjanji." ucap Galen.
***
Terhitung sudah tiga hari ini Galen tidak pulang ke rumah, Mina seolah-olah memonopoli lelaki itu dengan memanfaatkan keadaannya yang kini tengah berbadan dua.
__ADS_1
Perhatian manis Galen yang sangat Aurora sukai seolah direnggut dengan paksa. Aurora tidak pernah menyiapkan diri atas kehilangan yang terlalu mendadak ini, dia menyesalinya, menangisinya di setiap malam.
Senyum Galen beserta dengan tingkah manisnya, juga harapan tinggi Aurora akan hubungan mereka kedepannya terhempas begitu saja, hilang tak tersisa akibat dari pengakuan Mina.
Sekalipun terasa begitu sulit dan ingin menyerah, hidup ini harus terus berjalan sebagaimana mestinya.
"Aurora sudah menjadi istrimu sekarang! Pilih dia dan tinggalkan Mina!" sentak Juniar.
"Tapi, Yahㅡ"
"Apalagi?!" sela Juniar marah. "Apa kau berniat untuk pergi meninggalkan Aurora dan menikahi Mina? Ayah tidak akan pernah memberikan restu itu padamu! Camkan itu!"
Juniar pergi dari ruang keluarga setelah bicara seperti itu, meninggalkan Galen yang masih duduk diam sembari merenung.
"Dengarkan perkataan ayahmu, nak.." ucap Sarah dengan lembut.
Galen menatap wajah Sarah yang tampak lelah dan juga sedih. Alasannya hanya Galen, dia selalu membuat wanita itu menjadi kepikiran.
"Tapi bagaimana dengan nasib Mina, Bu? Dia juga sedang mengandung anakku. Aku sudah berjanji padanya untuk tetap menikahi Mina."
"Tidak, nak! Jangan seperti itu, hal itu hanya akan melukai perasaan Aurora."
"Aku akan menceraikan Aurora setelah dia melahirkan nanti lalu kemudian aku akan pergi untuk menikahi Mina."
Galen tidak menjawab, lebih memilih untuk berdiri dari tempatnya duduk kemudian pergi meninggalkan Sarah sendirian disana.
"Galen, ibu belum selesai bicara!" panggil Sarah namun Galen tidak peduli.
***
JJ Bridal Boutique..
11:27
"Aurora ada?"
Anna mengangkat kepalanya untuk melihat siapa gerangan seseorang yang saat ini tengah menanyakan keberadaan Aurora.
Itu adalah Austin.
"Ada. Apa kau ingin bertemu dengannya? Maaf ya, tapi bos kami berkata dia sedang tidak ingin menerima tamu untuk saat ini. Datanglah kembali di lain hari, mungkin besok atau lusa." ucap Anna.
__ADS_1
"Dimana dia sekarang?" tanya Austin tidak puas.
"Di ruangannya."
"Ruangannya sebelah mana?" Austin kelihatan ingin sekali tau.
"Aku 'kan sudah bilang bos kami sedang tidak ingin menerima tamu hari ini. Jika kau ada perlu, denganku saja untuk sementara waktu ini!"
"Cerewet!" dengus Austin kesal. "Tunjukkan dimana ruangannya saja apa susahnya sih?"
"Kau ini tidak mengerti dengan yang namanya privasi ya?" balas Anna ikutan kesal.
"Kau pacarnya Mark 'kan?" tanya Austin tiba-tiba.
Anna langsung merasa terkejut. "Darimana kau tau?"
"Tidak penting! Pokoknya aku tau! Kalau kau tetap bersikeras tidak mengijinkan aku bertemu dengan Aurora sekarang, aku doakan kau dan Mark putus ditengah jalan."
Jangan heran kalimat semacam itu bisa lancar keluar dari mulut Austin, dia memang sosok laki-laki yang penuh dengan kejutan.
"Heh!! Kau ini benar-benar ya!!" seru Anna emosi.
Bagaimana bisa Austin berdoa dengan buruk seperti itu? Apa dia tidak tau acara pertunangan mereka kemarin sudah menghabiskan banyak budget, seenaknya saja dia mendoakan mereka putus.
Dimata Anna Austin benar-benar sosok lelaki yang tidak memiliki hati nurani!
"Itu sebabnya, cepat beritahu Aurora jika aku datang kemari dan ingin bertemu dengannya. Aku tunggu disini." ucap Austin tampak menyebalkan dimata Anna.
"Tunggu sebentar!" sentak Anna dengan kesal.
Anna pergi dari hadapan Austin setelahnya, masuk kedalam sebuah ruangan untuk menemui Aurora disana. Tak lama kemudian dia sudah kembali keluar.
"Bagaimana?" tanya Austin penasaran.
"Kak Aurora memintamu untuk langsung masuk saja kedalam." balas Anna tanpa ada nada ramah sama sekali.
"Ruangannya yang itu 'kan?" Austin menunjuk satu ruangan disana.
"Iya."
Anna kemudian menghela nafas dalam-dalam. "Kenapa kesedihan selalu menghampiri Kak Aurora? Aku benar-benar tidak tega melihatnya terpuruk seperti itu." gumamnya.
__ADS_1
"Itulah gunanya kedatanganku kemari, aku akan pergi kesana untuk menghiburnya. Sampai jumpa nanti." ucap Austin sebelum melangkah memasuki ruangan Aurora.
***