Aroma Hujan

Aroma Hujan
Menginap


__ADS_3

"Ibu, boleh aku masuk kedalam?" ucap Aurora sembari mengetuk pintu kamar Sarah.


Sahutan lirih Sarah terdengar dari dalam, mengatakan jika Aurora diperbolehkan untuk masuk.


Begitu Aurora membuka pintu kamar, dia bisa menemukan Sarah yang kini tengah duduk ditepi ranjang. Wajah cantik wanita itu tampak sembab.


"Kenapa kau meninggalkan meja makan? Kau harus makan siang." ucap Sarah.


"Aku bisa melakukannya setelah ini." balas Aurora.


"Bu.." Aurora mulai menggenggam tangan Sarah disana. "Mengapa ibu menangis?"


Sarah menghela nafas dalam kemudian menggeleng pelan.


"Ibu hanya merasa bersalah padamu. Maaf, karena ibu tidak bisa lebih tegas untuk melarang Galen membawa Mina datang kemari." balas Sarah.


"Ini bukan salah ibu. Jadi jangan bicara seperti itu." ucap Aurora sedih melihat Sarah yang meminta maaf untuk suatu kesalahan yang tidak dia lakukan.


Aurora mengetahui dengan baik hal apa yang sudah mengusik ketenangan hati Sarah. Dia sempat mendengarnya tadi, pertengkaran antara Sarah dan Galen sebelum mereka makan siang dan itu tentang kedatangan Mina ke rumah ini.


"Aku baik-baik saja, Bu.. sungguh.." ucap Aurora ingin menenangkan Sarah.


Bukannya merasa lega, air mata Sarah justru jatuh mengalir mendengar ucapan Aurora. Sarah segera bergerak memeluk Aurora disana.


"Maafkan ibu, nak.. ibu sudah berusaha sebisa mungkin menasehati Galen tapi dia tidak mau mendengarnya. Dulu dia sangat penurut, namun sekarang berubah. Ibu merasa sangat sedih." ucap Sarah ditengah pelukan mereka.


"Aku mengerti, Bu.. Galen bertindak seperti itu mungkin karena dia merasa tidak adil, terpaksa menikah denganku dan meninggalkan Mina. Padahal semua orang bisa melihat betapa besar rasa cinta Galen pada Mina. Galen hanya butuh waktu."


Atau mungkin bahkan tidak. Yang Galen inginkan mungkin hanya hidup bahagia bersama dengan Mina. Menanti hari dimana mereka bisa segera berpisah setelah bayi ini lahir nanti.


"Ibu sangat merasa bersalah karena kau harus mengalami hal ini. Tapi kami terpaksa melakukannya sebagai bentuk dari rasa tanggung jawab." ucap Sarah masih belum bisa merasa tenang.


Sarah bisa melihat jika Aurora tidak merasa bahagia atas pernikahannya akibat dari perbuatan Galen yang mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Aurora tidak bisa berkomentar apa-apa lagi, hanya mengusap dengan lembut punggung Sarah yang masih memeluknya disana.


Mereka masih betah mengobrol berdua didalam kamar sampai akhirnya Aurora pamit keluar setengah jam kemudian.


Didepan kamar Sarah tanpa sengaja Aurora berpapasan dengan Galen yang sudah berdiri didepan pintu hendak masuk kedalam.


"Mau apa kau datang kemari?" tanya Aurora.


"Ibu ada didalam 'kan? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan ibu." balas Galen.


"Tentang apa?"

__ADS_1


"Kenapa kau ingin sekali tau? Ini bahkan bukan urusanmu." balas Galen kesal.


Aurora menghela nafas dalam, berusaha untuk tidak terpancing emosi bicara dengan Galen. "Ibu sedang tidak merasa baik. Jika yang ingin kau bicarakan adalah hal yang tidak penting, sebaiknya kau tidak usah pergi untuk menemuinya."


Aurora bisa melihat raut terkejut Galen.


"Apa ibu sakit?!" serbu Galen.


"Bukan seperti itu. Ibu hanya sedang butuh waktu untuk sendiri." balas Aurora.


"Aku hanya sebentar, meminta ijin untuk Mina, dia akan menginap disini malam ini."


"Tidak perlu minta ijin segala. Jika kau anggap hal itu pantas untuk kau lakukan, maka lakukan saja. Jangan membuat ibu semakin merasa bersalah padaku, aku tidak bisa melihat ibu terus menerus meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah ibu perbuat."


Setelah mengucapkan hal tersebut Aurora segera pergi dari hadapan Galen.


Jika Galen cukup pandai untuk mengartikan ucapan Aurora, dia pasti tidak akan masuk kedalam untuk menemui Sarah.


Diruang tengah, Austin tengah asik menonton siaran televisi, sementara Mina sibuk dengan ponselnya.


"Sebaiknya kau pulang saja! Kubur dalam-dalam keinginanmu untuk menginap disini malam ini!" ucap Aurora dengan segera setelah dia berada didekat tempat Mina duduk.


"Apa hakmu melarangku?!" tanya Mina tak terima.


Aurora kini menatap Austin sebal. "Kau juga! Sudah kenyang 'kan setelah makan siang? kalau sudah kau segera pulang saja!"


Austin segera mengangguk.


"Kenyang sekali. Menu makanannya enak-enak semua, buah potongnya juga enak. Maaf ya, tadi buahmu aku habiskan, salahmu sendiri tidak kunjung kembali ke meja makan."


Aurora sama sekali tidak peduli. "Segera pulanglah! Terima kasih tadi sudah bersedia mengantarku ke bandara."


"Tidak perlu merasa sungkan." balas Austin.


"Kau juga, Mina! Pulanglah.. akan aku pesankan taksi untukmu." usir Aurora.


"Aku akan menunggu Galen datang! Dia sudah berjanji memperbolehkan aku menginap disini malam ini." balas Mina masih bersikeras.


"Mina.."


Melihat Galen yang datang, Mina segera datang mendekat.


"Apa kau mau pergi ke kamar tamu sekarang?" tanya Galen menawarkan.


Aurora dan Austin terkejut mendengar ajakan Galen.

__ADS_1


"Apa ibu sudah memberikan ijin?" tanya Mina.


"Dia belum bicara pada ibu." gumam Aurora menahan rasa kesal.


Galen menatap Mina. "Aku akan bicara nanti, tidak usah dipikirkan."


Mina mengangguk setuju.


"Jangan membuat ibu semakin merasa sedih. Bawa Mina pulang sekarang juga. Lakukan sebelum hari menjelang sore." titah Aurora dengan tegas.


"Mengapa kau jadi mengatur?!" tanya Galen tidak terima.


"Ini semua demi kebaikan ibu. Apa kau tidak memikirkan perasaan ibu?" Aurora balas bertanya.


"Pergilah! Tidak perlu mencampuri urusan kami." ucap Galen.


"Galen, dengarkan!" seru Austin. "Dengarkan kalau istri sedang menasehati!"


Galen berdecak kesal. "Austin, pergi dari sini! Kehadiranmu hanya akan membuat keadaan menjadi semakin keruh!"


"Bukan aku, tapi Mina!" balas Austin.


"Apa maksudmu?!" Galen mendekati Austin dengan raut wajah marah.


Lelaki itu sudah mencengkram baju bagian depan yang Austin kenakan dengan kasar, kendati demikian tidak terlihat raut wajah ketakutan disana.


"Santai saja! Tidak perlu emosi segala." ucap Austin.


"Galen, hentikan!" pinta Aurora berusaha menyingkirkan tangan Galen dari Austin.


"Lihat! Sekarang kau bahkan membelanya? Apa dia sudah resmi menjadi selingkuhanmu sekarang?!" ucap Galen tak terima.


"Berhentilah menuduh orang sembarangan dan katakan hal itu pada dirimu sendiri!" balas Aurora.


Aurora menyingkirkan tangan Galen dari sana membuat Austin terlepas dari cengkraman suaminya itu.


"Lakukan apapun itu keinginanmu bersama dengan Mina! Tapi jangan pernah menyakiti orang lain untuk menyangkalnya. Jika kau terus seperti ini, aku tidak akan tinggal diam!" ucap Aurora dengan tegas.


Austin tersenyum bangga. "Gadis ini benar-benar luar biasa. Jangan salahkan aku jika semakin merasa tertarik padamu, Aurora Alexandra!"


"Berhentilah bicara omong kosong! Cepat pergi dari sini! Aku muak melihat kalian semua!!" teriak Aurora kesal kemudian pergi dari sana.


"Gadis yang unik. Aku suka!" gumam Austin.


***

__ADS_1


__ADS_2