
Mimik wajah Sarah dengan segera berubah berseri-seri, sudah membayangkan setelah nanti Galen menikah, mereka akan segera mendapatkan seorang cucu laki-laki yang lucu, mungil dan menggemaskan.
"Itu 'kan hanya mimpi, Bu.."
Sarah menghela nafas panjang. "Kau bisa tidak sih tidak usah merusak kebahagiaan ibumu ini?"
"Mengenai masalah Mina, nanti aku akan mencoba bicara padanya. Dia harus meminta maaf pada ibu mengenai masalah ini." ucap Galen tegas.
"Bicara baik-baik saja, jangan bersikap kasar. Tampaknya ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiran Mina hingga dia menjadi lebih sensitif, karena biasanya 'kan dia tidak seperti itu."
"Iya, Bu.."
Sisa perjalanan mereka habiskan dengan membicarakan Aurora. Sebenarnya hanya Sarah saja yang melakukannya, sementara Galen cuma menjadi pendengar setia.
Begitu sampai di rumah, Galen meminta Sarah untuk pergi beristirahat, namun Sarah menolak.
"Aku bisa menata semuanya dengan rapi, Bu.."
"Tidak akan sama hasilnya dengan jika aku yang melakukannya." ucap Sarah bersikeras.
"Tapi kaki ibu masih sakit."
"Ibu sudah baik-baik saja."
"Kalau begitu biarkan aku membantu."
Sarah akhirnya mengangguk setuju.
"Tumben sekali ibu banyak membeli cemilan manis?" tanya Galen heran saat membuka satu kantong belanjaan mereka.
Sarah melihat kearah cemilan yang Galen maksud, menemukan beberapa biskuit dan snack disana.
"Itu bukan milik ibu."
"Lalu siapa? Mina? Mina 'kan tidak suka makanan manis."
"Ah, aku tau!" Sarah segera teringat sesuatu. "Itu pasti milik gadis itu, Aurora. Kau bisa pergi untuk mengembalikannya 'kan? Ibu benar-benar merasa tidak enak."
"Buang saja!"
"Buang bagaimana?!! Jangan jadi orang yang tidak tau terima kasih. Aurora sudah banyak mambantu ibu tadi. Pokoknya ibu tidak mau tau! Antarkan semua snack itu kepada pemiliknya. Katakan juga pada Aurora jika keluarga kita ingin mengundangnya untuk datang kemari dan makan malam bersama.
***
Apartemen Mina..
"Ibumu mengadu?ㅡaku benci ketika wanita itu mulai membahas masalah anak!"
"Mengapa kata-katamu seolah kau tidak lagi menaruh rasa hormat pada ibuku?" tanya Galen tidak terima.
"Bagaimana bisa aku melakukannya? Disaat dia terus saja membahas masalah anak dan anak! Aku benar-benar muak mendengarnya!"
"Ibuku bahkan tidak mengetahui apapun!"
"Itu sebabnya buat dia tutup mulut!"
"Mina, hentikan!!"
Mina tersentak, baru kali ini Galen berani membentaknya dan dia tidak menyangka.
"Kau berani membentakku?!" seru Mina tak percaya.
__ADS_1
Galen menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya menatap Mina lekat-lekat disana.
"Terserah jika kau menghinaku dengan kata-kata sekasar apapun, aku tidak akan marah. Namun berbeda jika itu menyangkut ibuku, sampai kapanpun aku tidak akan bisa terima."
Setelah mengatakan hal tersebut Galen bergegas meninggalkan apartemen Mina. Pikirannya tengah kacau menghadapi perubahan sikap tunangannya itu.
"Galen!"
Galen yang hampir masuk kedalam lift seketika menghentikan langkahnya ketika tangan Mina tiba-tiba saja memeluk perutnya dari belakang.
Gadis itu sudah menangis disana.
"Aku minta maaf. Aku tau aku salah.. pikiranku tengah kacau akhir-akhir ini. Selalu merasa pernikahan kita akan gagal karena gadis itu." ucap Mina sesenggukan.
Galen berbalik, menemukan Mina masih menangis. Dia bergerak untuk memberikan pelukan pada tunangannya setelah menghapus air mata yang jatuh dipipi gadis itu.
"Bagaimana bisa kau memiliki pikiran seperti itu?" tanya Galen dengan nada lembut.
"Aku takut. Gadis itu akan datang dan meminta pertanggungjawaban!"
Galen melepaskan pelukan mereka demi bisa mendengarkan keluh kesah Mina lebih lanjut.
"Kau sudah melakukannya 'kan? Meminta dia untuk menggugurkannya?"
Galen mengangguk pelan.
"Kapan dia akan melakukannya?" tanya Mina penuh harap.
"Aku belum bicara lagi dengannya." balas Galen.
"Segera lakukan! Karena pernikahan kita sudah didepan mata."
***
Galen tidak pernah tahan dengan ocehan Sarah ketika permintaan wanita itu tidak juga dikabulkan.
Ini sudah hampir pukul setengah sembilan malam, tapi Sarah memaksa Galen pergi ke rumah Aurora untuk membayar hutang.
Dia baru saja pulang dari apartemen Mina dan memberitahu Sarah jika Mina sudah menyesali perbuatannya tadi siang, juga meminta maaf namun belum bisa datang untuk berkunjung.
Sarah yang tidak ingin memperpanjang masalah mengatakan jika dia sudah lebih dulu memaafkan Mina bahkan sebelum gadis itu memintanya.
Namun tetap saja kunjungan ke rumah Aurora wajib Galen lakukan saat ini juga. Galen sudah mengatakan mereka bisa membayarnya besok-besok. Namun rengekan Sarah membuat Galen pada akhirnya menyerah.
Galen menekan bel pintu rumah Aurora, menunggu dengan sabar, tak lama kemudian pintunya terbuka.
"Mengapa kau datang kemari?" tanya Aurora heran.
Galen tidak menjawab, malah menyodorkan sebuah tas karton pada gadis itu.
"Apa ini?"
"Milikmu." balas Galen singkat.
Aurora segera melihat isinya.
"Pasti tidak sengaja tertinggal." gumam Aurora.
"Kau benar."
"Kau sudah selesai 'kan? Kalau begitu segera pergi dari sini."
__ADS_1
"Masih ada satu hal lagi." ucap Galen sebelum Aurora menutup pintunya.
"Apa lagi?"
"Ibuku bilang dia punya hutang padamu."
"Lupakan saja!"
"Mana bisa begitu?" tanya Galen yang kemudian reflek memperhatikan Aurora dari atas hingga kebawah. Membuat gadis itu merasa risih.
"Apa yang kau lihat?" tanya Aurora galak.
Galen berdehem pelan. "Bukan apa-apa. Hanya saja kau sudah tampak baikan setelah tadi siang terlihat tidak enak badan."
"Kenapa? Itu 'kan sama sekali bukan urusanmu. Atau sekarang kau mulai peduli pada bayiku?" tuduh Aurora yang membuat Galen segera menyangkal.
"Kau benar. Itu bukan urusanku." balas Galen acuh.
"Baguslah kalau kau sadar diri. Karena bayi ini sudah sepenuhnya menjadi hak ku!"
"Aku tau."
"Sekarang sudah selesai 'kan? Silahkan pergi dari sini."
"Tunggu sebentar! Ada satu hal yang harus aku tanyakan padamu."
"Apa?"
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Galen yang membuat Aurora merasa laki-laki ini benar-benar tidak jelas sama sekali.
"Wah.. pertanyaanmu barusan sungguh diluar nalar ya?!ㅡtidak usah sok peduli padaku!"
"Aku cuma tanya karena ibuku mengundangmu makan malam. Kapan kau ada waktu?"
"Katakan pada beliau terima kasih atas undangannya, tapi aku tidak memiliki waktu untuk memenuhinya. Aku akan segera berangkat ke luar negeri minggu depan."
"Ah, begitu rupanya.." gumam Galen.
Tanpa sengaja Galen melihat layar ponsel Aurora yang memperlihatkan gambar sebuah makanan yang sedang ramai diperbincangkan saat ini.
"Apa kau sedang mengidam ingin makan sesuatu?" tanya Galen tiba-tiba.
"Huh?" Aurora kemudian menyadari jika dia sudah kepergok.
"Ayo kita pergi untuk membelinya." ajak Galen.
"Tidak perlu. Aku bisa pergi beli sendiri besok."
"Yang namanya mengidam mana bisa ditunda-tunda sih?"
"Sok tau!"
"Aku belajar tentang banyak hal mengenai tips kehidupan pernikahan yang harmonis, juga mempersiapkan diri menjadi seorang ayah yang baik untuk calon anakku dengan Mina kelak. Jadi sedikit banyak aku tau, bukan sok tau seperti tuduhanmu."
Ada sakit hati yang menjalar di lubuk hati Aurora begitu mendengar ucapan Galen barusan. Sekalipun tidak diakui, Galen adalah ayah biologis dari bayi yang tengah Aurora kandungan dan itu fakta! Tapi Galen mengatakan hal tersebut seolah-olah bayi ini bukan apa-apa baginya. Menyebalkan sekali!
"Pulang saja.. aku tidak berminat menerima sikap pura-pura baikmu ini." usir Aurora.
"Jangan salah paham. Aku melakukan ini untuk terakhir kalinya, sebagai ucapan terima kasih karena tadi kau sudah membantu ibuku."
***
__ADS_1