Aroma Hujan

Aroma Hujan
Pisah ranjang


__ADS_3

Saat Aurora pulang dari butik dan memasuki kamar, dia terkejut melihat sosok Galen ada disana setelah tiga hari ini lelaki itu tak pernah menampakkan batang hidungnya.


Juniar sudah melakukan banyak cara agar Galen mau pulang setidaknya sebentar saja untuk melihat keadaan Aurora namun tampaknya Galen tetap keras kepala untuk menuruti ucapan Juniar, bahkan saat Sarah jatuh sakit, Galen tetap bertahan bersama dengan Mina.


"Kau baru pulang?" sambut Galen dengan senyum tipis.


"Iya." balas Aurora singkat.


Galen masih disana, sibuk menggunakan jam tangannya.


"Kau akan pergi?" tanya Aurora begitu menyadari penampilan Galen yang sudah rapi.


"Iya, Mina ingin pergi ke suatu tempat."


"Kemana?" tanya Aurora ingin tau.


"Daerah pegunungan yang kemarin."


"Ini 'kan sudah malam. Perginya bisa besok pagi saja." ucap Aurora, sebenarnya dia ingin menahan Galen untuk menemaninya saja malam ini di rumah.


"Tidak apa-apa. Mina sedang mengidam ingin pergi kesana, jadi aku harus menurutinya dengan segera. Kami mungkin akan menginap di luar jadi kau tidak perlu menungguku pulang ke rumah." pesan Galen.


"Galen.." panggil Aurora dengan raut wajah sedih.


"Hm?" balas Galen singkat yang kini tengah menata rambutnya didepan cermin.


Aurora berdiri dari posisi yang semula hanya duduk ditepi ranjang sembari menatap kegiatan Galen disana, gadis itu kemudian berjalan mendekat dengan nekat melingkarkan tangannya ke pinggang Galen sekalipun itu terhalang oleh perutnya yang telah membuncit.


Galen tampak terkejut namun lebih memilih untuk diam.


"Jangan pergi.. aku ingin malam ini kau menemaniku setelah tiga hari ini kau tidak pernah pulang ke rumah, sekali ini saja, Galen. Hampir setiap hari kau menghabiskan waktumu bersama dengan Mina hingga secara perlahan tanpa sadar kau mulai mengabaikanku."


Galen melepaskan pelukan Aurora dipinggangnya, dia berbalik menatap gadis itu masih dengan menggenggam kedua tangan Aurora.


"Aurora.."

__ADS_1


"Ya?"


"Maaf jika kalimat yang aku katakan ini mungkin akan menyinggung perasaanmu, tapi kau harusnya menyadari, sejak awal gadis yang aku cintai hanyalah Mina. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku hanya mengikuti apa kata hatiku." balas Galen.


"Tapi akhir-akhir ini aku bisa merasakan perasaanmu terhadap Mina secara perlahan mulai melebur. Kau sudah hampir melihatku, hanya tinggal sedikit lagi, sebelum Mina datang membawa pengakuan mengejutkan itu, menghancurkan segala harapanku yang sudah terlanjur membumbung tinggi."


"Mina terpaksa melakukan hal itu karena dia membutuhkanku."


"Lantas bagaimana denganku? Aku juga membutuhkanmu! Bayi kita juga butuh sosok ayahnya." tuntut Aurora.


"Apa kau lupa? Sebelumnya aku tidak pernah menjanjikan apa-apa padamu, terlebih pada anak didalam kandunganmu." ucap Galen yang terdengar menyakitkan bagi Aurora.


"Aku putus dari Mina bukan karena kesalahan yang telah diperbuat oleh gadis itu melainkan karena aku yang tidak memiliki kepercayaan diri untuk hidup berdampingan dengan Mina yang begitu baik. Aku merasakan banyak penyesalan saat melihat sosok Mina, dia tidak pantas menunggu lelaki bajingan sepertiku yang bahkan meninggalkan dia ketika hari pernikahan kami telah berada didepan mata." lanjut Galen.


Benar.


Aurora hanya terlalu percaya diri, menggantungkan segala kebahagiaannya hanya ditangan Galen. Hingga ketika Galen memilih untuk berpaling, seluruh harapan dan juga sumber kebahagiaan Aurora hancur lebur tak tersisa.


Menimbulkan rasa kecewa yang begitu mendalam. Untuk bangkit kembali, rasanya terlalu sulit, Aurora telah jatuh terlalu dalam pada sosok suaminya itu.


"Wanita yang sangat aku cintai tengah mengandung calon keturunanku. Itu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku. Sekalipun ayah dan ibu menganggap itu sebagai aib keluarga tapi aku tidak peduli. Mengapa ayah dan ibu bisa bicara seperti itu pada Mina sementara padamu tidak? Padahal keadaan kalian sama hanya berbeda waktu saja."


"Aku hanya ingin hidup bahagia bersama dengan Mina dan anak kami, tidak ada hal lain yang lebih berharga dari pada itu semua. Aurora.. ijinkan aku untuk meraihnya, meraih kebahagiaan yang telah lama aku impikan."


Aurora dengan segera menghempaskan tangan Galen, dia menatap Galen dengan perasaan terluka.


"Baru kali ini aku mencintai seseorang sampai seperti ini. Jatuh terpuruk, kemudian bangkit lagi, sudah akan menyerah, namun menemukan harapan lagi, lagi, dan lagi.." ucap Aurora menahan tangis.


"Galen, tidakkah kau bisa merasakan lelahnya menjadi aku?! Kali ini aku akan memberikan kesempatan terakhir. Kau bisa memilih antara membantu aku untuk bangkit kembali atau malah membiarkan aku jatuh terpuruk semakin dalam. Semua pilihan itu ada ditanganmu."


Galen menatap kedua mata Aurora lekat-lekat dan bisa menemukan gadis itu memiliki harapan besar akan jawaban yang Galen pilih.


Aurora benar-benar sudah jatuh cinta pada sosok suaminya itu, namun jika kali ini tidak berhasil dia akan memilih untuk menyerah saja. Rasanya sungguh melelahkan setelah merasakan disakiti berkali-kali.


"Maaf, Auroraㅡ"

__ADS_1


Aurora memejamkan kedua matanya erat-erat, mencegah air matanya itu jatuh mengalir.


"Mina dan calon bayi kami lebih membutuhkanku." ucap Galen lirih.


Aurora sudah mendapatkan jawabannya.


***


Aurora sudah berada dalam fase pasrah akan kelanjutan hubungannya dengan Galen.


Sementara Juniar masih berusaha agar Galen tidak buru-buru pergi menikahi Mina dan meninggalkan Aurora begitu saja.


Juniar dan Sarah telah mengundang Hani untuk datang guna membicarakan hal ini bersama-sama secara kekeluargaan demi menemukan solusi terbaik.


Sudah dua bulan berlalu sejak Juniar meminta Mina menghubungi Hani untuk datang, namun hingga hari ini sosok ibu kandung Mina itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Galen saat dia dan Mina sedang sarapan bersama.


"Aku baik." balas Mina.


"Mina, jangan makan terlalu sedikit. Ingat, kau sedang hamil." ucap Galen menambahkan satu lembar roti tawar di piring Mina.


Sejak Juniar secara tidak langsung telah mengusir Galen dari rumah juga mengancam akan mencoret nama Galen dari daftar keluarga, Galen memilih untuk tinggal di apartemen Mina.


Galen melakukan hal itu demi menghindari pertengkaran dengan Juniar dan Sarah. Disisi lain, Aurora juga sudah memutuskan untuk kembali ke kediamannya sendiri sejak bulan lalu.


Aurora merasa sudah tidak ada gunanya bertahan di kediaman Handoko sekalipun Juniar dan Sarah masih meminta Aurora agar bersedia tinggal disana. Namun tidak, untuk saat ini hubungan antara Galen dan Aurora sedang dalam keadaan pisah ranjang.


Hanya tinggal menunggu hingga Aurora melahirkan kemudian mereka akan segera bercerai.


Galen akan pergi menikahi Mina sebelum usia kandungan gadis itu semakin besar.


"Tapi, sayang.. aku sudah kenyang." ucap Mina menolak.


"Serius kau sudah kenyang hanya dengan selembar roti tawar?" tanya Galen tidak percaya.

__ADS_1


"Iya. Kenapa? Tidak semua wanita hamil itu sama. Beda tubuh, beda juga kondisinya." jawab Mina.


***


__ADS_2