Aroma Hujan

Aroma Hujan
END


__ADS_3

Ruangan dokter umum..


Saat nama Aurora dipanggil untuk giliran masuk kedalam, saat itu pula Leo mendadak ingin pergi ke toilet. Jadi Aurora masuk kedalam ruang periksa sendirian setelah dia meminta Galen untuk pergi menemani Leo ke toilet.


Saat Aurora keluar dari ruang pemeriksaan, ternyata Galen dan Leo sudah kembali.


"Bagaimana? Apa kata dokter? Kau tidak apa-apa 'kan?" serbu Galen.


Aurora tampak lebih lesu dari sebelumnya jadi Galen cukup merasa khawatir, takutnya ada penyakit serius yang tengah istrinya itu idap.


"Hei, reaksimu membuatku khawatir. Katakan ada apa?" tanya Galen dengan wajah serius.


Aurora tiba-tiba tersenyum geli, apalagi setelah dia melihat raut wajah Galen.


"Sepertinya kita tidak bisa ambil progam kehamilan, sayang." ucap Aurora.


"Kenapa?" tanya Galen penasaran. "Kalau kau belum merasa siap untuk hamil lagi aku tidak apa-apa kok, Leo juga bisa kita berikan pengertian secara pelan-pelan, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Untuk saat ini cukup fokus pada kesehatanmu dulu saja."


Aurora mengangguk setuju. "Dokter bilang aku harus mendapatkan rujukan."


"Rujukan? Apa penyakitnya parah hingga harus di rujuk segala?" tanya Galen makin merasa gusar.


"Aku rasa tidak. Ayo, kita pergi ke ruangan rujukannya terlebih dahulu, ruangan dokter Alina." Aurora menggandeng tangan Leo dan berjalan duluan.


Galen masih loading disana, tampak berpikir keras.


"Ruangan dokter Alina.." gumam Galen yang tiba-tiba menjadi terkejut beberapa detik kemudian setelah dia bisa mengingatnya. "Sayang, tunggu!"


Galen segera menyusul langkah Aurora dan Leo yang sudah jalan duluan menimbulkan tawa geli dari Aurora melihat suaminya itu mengejar dibelakang.


***


Ruangan dokter Alina..


Aurora tidak menyangka dia akan kembali ke tempat ini lagi, secepat ini.. padahal dulu Aurora sempat berpikir dia hanya akan memiliki Leo saja. Tidak pernah terbayangkan akan memiliki anak kedua, ketiga dan seterusnya.


Sejak memiliki Leo, siklus menstruasi Aurora memang tidak menentu karena perubahan hormon. Jadi dia tidak tau jika gejala lesu, lemas dan kelelahan yang Aurora alami akhir-akhir ini adalah tanda dari kehadiran adik Leo.

__ADS_1


Dokter Alina tampak serius menggerakkan alat USG diatas permukaan perut rata Aurora. Sementara Leo tampak begitu antusias melihat layar yang akan menunjukkan rupa dari bakal calon adiknya.


"Perkiraan usainya sudah sepuluh minggu." ucap dokter Alina.


"Wah, dia sudah sebesar itu ternyata." gumam Galen takjub.


"Lalu iniã…¡" dokter Alina tidak melanjutkan kata-katanya, raut wajahnya tampak lebih fokus dari sebelumnya.


"Ada apa, dok? Apa ada masalah?" tanya Aurora penasaran.


"Sebentar, saya perlu memastikannya sekali lagi." jawab dokter Alina.


Galen sudah tampak was-was disana, takutnya ada masalah dengan kandungan sang istri.


"Ah, ternyata benar.." senyum dokter Alina segera mengembang.


"Benar apanya, dok?" tanya Galen dengan segera.


"Lihat disini, pak Galen dan ibu Aurora." dokter Alina menunjuk layar USG. "Selamat ya, bayi kalian kembar, bisa lihat 'kan ada dua kantong disini."


Galen dan Aurora secara serempak menganga tidak percaya.


"Iya, ibu Aurora." balas dokter Alina dengan senyum cerah.


"Turunan darimu dan Briella, sayang." ucap Galen tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


Aurora mengangguk setuju.


"Leo."


"Ya, ayah?" balas Leo dengan polos, anak itu masih tidak paham jadi dari tadi hanya pasang wajah datar.


"Leo akan memiliki dua orang adik."


"Dua adik? Leo mau yang laki-laki." ucap Leo.


"Beberapa bulan lagi kita lihat ya, apakah calon adik Leo laki-laki atau perempuan." balas Galen.

__ADS_1


Sorakan bahagia Leo mengundang tawa gemas dari tiga orang dewasa disana.


***


Didalam mobil..


Aurora duduk di kursi belakang bersama dengan Leo saat mereka dalam perjalanan pulang, putranya itu tak henti-hentinya memeluk perut Aurora, merasa sangat senang karena dia akan memiliki dua orang adik.


"Pokoknya nanti kalau lahiran si kembar kau jangan bersikap seperti saat aku melahirkan Leo ya?" ucap Aurora yang membuat Galen tertawa malu saat mengingatnya.


Aurora ingat saat itu tangisan Galen dan Leo beradu sama kerasnya didalam kamar bersalin.


Austin yang berada di luar sampai panik sendiri mengira sesuatu yang buruk telah terjadi, lelaki itu bahkan sudah hampir mendobrak pintu kamar bersalin, untung saja ada Briella yang masih bisa berpikir dengan waras dan mencegah hal tersebut terjadi.


"Aku 'kan terharu, sayang.." balas Galen membela diri.


"Nanti harus ada dua bayi yang dikeluarkan, tangis harumu mungkin akan mengganggu konsentrasiku." ucap Aurora.


"Iya, akan aku coba kontrol. Tapi kalau tidak bisa aku akan keluar dari ruangan bersalin untuk sementara waktu sampai merasa tenang." balas Galen.


"Lalu kau akan membiarkan aku berjuang sendirian untuk mengeluarkan anak bungsu kita?" tanya Aurora dengan raut wajah sedih.


Memang tidak mudah menghadapi mood swing wanita hamil. Galen harus banyak-banyak bersabar, tapi dibalik semua itu dia merasa bahagia sekali bisa memiliki seorang istri seperti Aurora, anak setampan Leo dan juga dua calon bayi kembarnya. Semuanya kelihatan sangat sempurna.


***


Menjalani hari-hari dengan bahagia dan penuh rasa syukur, tidak terasa jika waktu telah berlalu dengan cepat. Hari inipun juga seperti itu, Aurora menikmati hujan yang turun sejak tadi sore sembari duduk didekat jendela dengan secangkir coklat panas.


Jika dulu Aurora selalu menikmatinya dalam kesendirian dan merasa hal tersebut benar-benar nyaman dan menyenangkan, kini setelah beberapa tahun terlewati rasanya semakin sempurna saja dengan adanya empat orang lainnya yang begitu Aurora cintai yang ikut menemaninya.


Suami serta ketiga orang anaknya.


Aurora yang tidak lagi menganggap pernikahan adalah sebuah beban melainkan anugerah terindah yang Tuhan berikan dalam hidupnya, sekalipun pada awalnya semua berjalan dengan sulit hingga membuat Aurora ingin menyerah. Namun dibalik semua itu rencana Tuhan adalah yang terbaik, Aurora mungkin tumbuh ditengah keluarga yang tidak sempurna, tapi dia berjanji tidak akan membiarkan anak-anaknya merasakan hal yang sama dengannya.


Galen yang telah berubah menjadi sosok ayah siaga, dia adalah lelaki yang baik meskipun awalnya sempat tersesat dan secara tak langsung telah banyak melukai hati Aurora, seiring berjalannya waktu semuanya menjadi semakin lebih baik lagi.


Leo yang kini sudah berusia lima tahun menjelma menjadi sosok kakak pelindung bagi kedua adik kembarnya, sepasang balita laki-laki dan perempuan berusia satu tahun yang mereka berikan nama Jio dan Jia.

__ADS_1


-END-


***


__ADS_2