Aroma Hujan

Aroma Hujan
Morning sickness


__ADS_3

Sebelum pergi Galen sudah berniat untuk membersihkan kekacauan di apartemen terlebih dahulu namun Hani melarangnya.


"Yang membuat kekacauan adalah orang yang harus membersihkannya." ucap Hani dengan tegas tanpa ingin dibantah.


"Tapi keadaan Mina masih sangat kacau, Bu." pinta Galen memohon.


"Percayalah padaku! Mina tidak selemah itu. Satu-satunya hal yang perlu kau khawatir saat ini adalah calon bayimu. Tanggungjawabmu atas bayi yang sudah kau minta untuk digugurkan tersebut. Apa kau tidak takut dengan adanya karma?" tanya Hani tak percaya jika Galen bisa bersikap sekejam itu.


Galen hanya terdiam tak menjawab.


"Apakah kau pikir hidupmu bisa kembali tenang setelah ini? Apa kau tidak merasa ketakutan akan terus dihantui oleh mimpi buruk atas kesalahan fatal yang sudah kau perbuat?" tanya Hani masih dengan emosi yang meluap.


"Ibu tenanglah.. bayinya masih ada." balas Galen setengah berbisik, takut Mina akan mendengarnya.


"Kau bersungguh-sungguh?" Hani mencoba untuk memastikan, dia hanya takut salah dengar.


Galen segera mengangguk. Tidak lama kemudian dia bisa menemukan raut wajah Hani yang mulai melunak.


"Aku sudah bicara pada Aurora mengenai rencana menggugurkan bayi itu. Dan dia menolaknya."


"Tentu saja. Itu adalah naluri seorang ibu yang selalu berusaha melindungi anaknya. Sekalipun nyawa mereka menjadi taruhannya."


"Aku hanya berbohong pada Mina jika kami sudah sepakat untuk menggugurkannya. Mina selalu merasa gusar dengan adanya bayi tersebut, jadi aku terpaksa berbohong."


"Kau sudah melakukan hal yang benar. Aku tau kau sebenarnya lelaki yang baik, kau tidak akan mungkin bisa melakukan hal sekejam itu." ucap Hani.


Galen lagi-lagi terdiam. Ucapan Hani tidak benar, lelaki baik katanya? Tidak, Galen tidak sebaik itu.


"Kau tau apa yang membuatku marah ketika kau mengatakan akan menggugurkan bayinya? Padahal posisiku disini adalah ibu dari Mina, menjadi wanita yang ikut merasa tersakiti akibat ulahmu yang sudah menghamili gadis lain di saat pernikahan kalian sudah berada didepan mata."


"Aku memang pantas untuk dibenci." gumam Galen menyesal.


Perbuatan tak disengajanya malam itu sudah membuat banyak pihak menjadi tersakiti, entah apa yang akan terjadi setelah kedua orang tuanya tau mengenai hal ini, mungkin rasa sesal yang Galen rasakan akan bertambah menjadi berkali-kali lipat setelah melihat raut kecewa ibu dan ayahnya.


"Tidak. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Membencimu sampai matipun tidak ada gunanya." balas Hani.


Galen menemukan Hani yang kini tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Gadis itu mengingatkan aku pada diriku sendiri ketika masih muda dulu. Kau tau? Ayah Mina tidak mati, dia hanya pergi meninggalkan tanggung jawabnya. Lelaki itu memintaku untuk menggugurkan kandunganku, saat itu duniaku seakan-akan telah runtuh."


Air mata Hani jatuh menetes.


"Aku memilih untuk mempertahankannya, berjuang sendirian untuk membesarkannya. Begitu dewasa dia malah jadi sosok gadis yang begitu egois! Bagaimana dia bisa melakukan hal tersebut terhadap gadis malang itu?! Galen, aku mohon padamu! Apapun yang terjadi, tetep lindungi bayi kalian. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab. Karena bagaimanapun juga bayi itu sudah seharusnya mendapatkan haknya untuk memiliki sebuah keluarga yang utuh."


Mereka tidak tau, jika sedari tadi Mina mendengarkan pembicaraan tersebut dibalik pintu.


Tubuh gadis itu luruh secara perlahan.


Ibunya sendiri bahkan telah memberikan restu pada Galen untuk pergi meninggalkan dirinya, membatalkan pernikahan mereka dengan cara yang kejam.


"Mengapa ibu tega sekali bicara seperti itu pada Galen?! Ibu kejam!!"


Tak tahan lagi, Mina segera keluar dari persembunyiannya.


"Mina.." gumam Galen tak menyangka jika Mina ada disana, mendengar semuanya.


"Apa kau akan menuruti permintaan ibuku? Pergi meninggalkanku untuk menikah dengan gadis itu?!" tanya Mina menuntut dengan emosi yang meledak-ledak.


"Dengarkan aku terlebih dahulu." Galen menghampiri Mina disana, memeluk tubuh basah kuyup gadis itu.


Masih berada dipelukan Galen, Mina menangis meraung, sementara Hani memilih untuk meninggalkan mereka berdua disana.


***


Hari dimana Aurora datang untuk makan nasi goreng di rumah Galen kala itu menjadi hari terakhir mereka bertemu.


Ini sudah seminggu berlalu, mungkin saat ini gadis itu sudah berada di luar negeri seperti ucapannya waktu itu.


Setelah Aurora mengaku hamil pada Sarah, tampaknya Galen benar-benar marah. Sepanjang perjalanan mengantar Aurora pulang, lelaki itu hanya diam tanpa minta mengeluarkan sepatah katapun, hingga hanya kesunyian yang melanda diantara mereka.


Sejak hari itu Sarah semakin penasaran dengan sosok lelaki yang sudah tega meninggalkan Aurora setelah menghamilinya.


Sarah bahkan sudah berniat menyewa seorang detektif handal untuk menyelidikinya. Tentu saja hal itu dilarang oleh Juniar dan Galen.


Padahal maksud Sarah dia melakukan hal tersebut sebagai bentuk dari rasa terima kasihnya terhadap Aurora.

__ADS_1


Siapa tau setelah Sarah mencoba bicara pada lelaki itu, lelaki itu akan berubah pikiran kemudian bersedia untuk bertanggung jawab menikahi Aurora.


Tapi Juniar bilang hal tersebut sudah termasuk dalam pelanggaran privasi.


"Astaga, kau kenapa lagi?" tanya Briella dengan khawatir masuk kedalam kamar Aurora setelah mendengar gadis itu tengah muntah-muntah disana.


Aurora menatap Briella dengan tatapan tak berdaya. "Brie, sepertinya aku akan segera mati."


"Kau ini bicara apa?!" sentak Briella marah namun juga semakin merasa khawatir. "Ayo, aku antar kau berbaring di ranjang."


Aurora hanya menurut ketika Briella menggandeng lengannya untuk keluar dari kamar mandi.


"Morning sickness-mu semakin parah ditambah kau tidak bisa makan apapun. Sekalipun itu terasa menyiksa, cobalah untuk memaksa memakan sesuatu! Memangnya kau tidak kasian pada bayimu?"


Briella menemukan Aurora sudah berkaca-kaca disana, tak lama setelah itu tangis gadis itu benar-benar pecah.


Briella hanya bisa memutar bola matanya malas. "Hamil benar-benar membuatmu berubah menjadi orang lain. Dimana perginya Aurora Alexandra yang aku kenal selama ini? Yang kuat, tegas dan tidak takut pada apapun!"


"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri!" usir Aurora masih menangis.


"Berhentilah berdrama dan segera ambil makananmu! Kau ingin makan apa? Aku akan berusaha menuruti apapun itu keinginanmu asalkan kau mau makan!"


Aurora kemudian berpikir sejenak. "Nasi goreng." gumamnya.


"Nasi goreng?" ulang Briella.


"Nasi goreng apa? Seafood? Ayam? Daging? Atau apa?"


"Nasi goreng ayam." jawab Aurora.


"Ah, nasi goreng ayam ternyata. Itu mudah sekali. Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau ingin makan itu? Aku bisa memã…¡"


"Buatan bibi yang bekerja di rumah Galen." sela Aurora.


Kepergian Aurora ke luar negeri terpaksa ditunda, setidaknya untuk sementara. Dia tidak mendapatkan ijin terbang dari dokter karena kandungannya dinyatakan dalam keadaan lemah.


Jika dipaksakan hal itu bisa berakibat fatal. Menuruti saran dari Briella, Aurora menetap saja disini hingga melahirkan, setelah nanti bayinya berada di usia siap untuk dibawa berpergian jauh, mereka baru bisa pergi ke luar negeri untuk menetap disana.

__ADS_1


***


__ADS_2