Aroma Hujan

Aroma Hujan
Oriole bar


__ADS_3

"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dariku karena sudah bicara keterlaluan hingga membuatmu merasa gusar dan menyebabkan kecelakaan ini terjadi." balas Galen.


"Kau terlalu baik." gumam Aurora lirih.


"Hm?"


Aurora menatap Galen lekat-lekat. "Kau ini terlalu baik untuk bersanding dengan gadis egois seperti Mina."


Entah setan dari mana yang sudah merasuki tubuh Aurora hingga dia bisa bicara seperti itu dengan berani.


Galen tersenyum sinis mendengar ucapan Aurora. "Tidak mungkin juga gadis sepertimu yang akan bersanding denganku."


Anehnya, Aurora sama sekali tidak merasa tersinggung.


"Sekalipun bukan denganku, jika saja ada celah untuk mengganti posisi Mina. Aku berharap dia adalah gadis lainnya yang memiliki kepribadian baik, sama sepertimu." ucap Aurora tulus dari dalam hati.


"Tampaknya ucapan ngelanturmu ini efek dari obat-obatan yang diberikan oleh dokter." Galen tidak menganggap serius obrolannya dengan Aurora barusan. "Segera habiskan makananmu sebelum itu menjadi dingin. Lalu pergilah untuk tidur."


"Kau sudah akan pergi sekarang?" tanya Aurora.


"Iya."


"Baiklah.. hati-hati di jalan dan terima kasih atas pertolongan yang telah kau berikan juga cheese corndog yang sudah kau belikan."


Galen hampir beranjak ketika pintu rawat Aurora terbuka. Seorang gadis menerobos masuk kedalam dengan segera memeluk tubuh Aurora sembari menangis.


"Kakak.. bagaimana bisa kecelakaan ini menimpamu, malang sekali nasibmu huhuhu.."


"Anna, hentikan!" pinta Aurora dengan sangat. "Kau lihat sendiri 'kan aku baik-baik saja."


Anna tampaknya belum menyadari keberadaan Galen disana.


"Dimana Briella?" tanya Aurora setelah Anna melepaskan pelukannya.


"Kak Brie?ㅡah, benar! Aku terlalu panik sampai lupa untuk menghubunginya. Sebentar.." Anna hampir mengeluarkan ponselnya namun dengan segera Aurora mencegahnya.


"Jadi kau belum melapor pada Briella?"


Anna menggeleng.


"Ah, syukurlah.. kalau begitu jangan beritahu dia."


"Kenapa tidak boleh?"


"Karena aku tidak mau membuat Briella merasa khawatir."

__ADS_1


"Tapi dia saudara kembarmu."


"Aku mohon dengan sangat padamu. Aku sudah baik-baik saja dan ada kemungkinan akan keluar dari rumah sakit besok pagi."


"Baiklah.." balas Anna mengalah. Meskipun sebenarnya dia merasa berat hati.


"Ngomong-ngomong kau datang kemari dengan siapa? Sendirian?" tanya Aurora basa basi.


"Dengan pacarku. Tadi aku meninggalkannya begitu saja di tempat parkir karena panik ingin segera melihatmu. Tapi mengapa dia belum tiba juga ya? Apa jangan-jangan kesasar? Aku akan mencoba menelponnya sebentar." jawab Anna.


Anna mengeluarkan ponselnya, memeriksanya beberapa saat sebelum akhirnya kembali memasukkannya kedalam tas bahkan sebelum dia melakukan sebuah panggilan.


"Dia baru saja mengirim pesan dan bilang akan segera sampai. Ohㅡbukankah kau laki-laki yang tadi di restoran tonkatsu?" seru Anna saat dia menyadari keberadaan Galen disana.


"Ternyata kau yang menghubungi ponsel Aurora tadi?" tanya Galen.


"Iya, benar." balas Anna.


"Karena kau sudah ada disini, aku akan pergi sekarang saja."


"Masih ada hal yang harus aku tanyakan padamu." cegah Anna begitu melihat Galen yang hendak pergi.


"Apa?"


"Apalagi? Dia tidak ada hubungannya, biarkan saja dia pergi." ucap Aurora.


"Tidak ada bagaimana? Dia patut dicurigai!" balas Anna bersikeras.


"Jangan aneh-aneh! Dia hanya kebetulan menolongku tadi. Galen, kau bisa pergi sekarang. Terima kasih banyak atas bantuanmu."


Galen hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Di ambang pintu ruang rawat, seorang laki-laki berpawakan tinggi hampir bertabrakan dengannya.


"Ah, itu dia.. pacarku sudah datang." sambut Anna dengan senyum lebar.


Aurora reflek menatap laki-laki yang Anna maksud. "Kau pintar cari pasangan rupanya." pujinya setelah melihat tampang rupawan pacar Anna.


"Tentu saja." balas Anna berbangga diri.


"Mark? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Galen heran.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, apa yang kau lakukan disini?" tanya Mark sama herannya. "Lalu apa ini? Kau memiliki hubungan dengan atasan dari kekasihku?"


"Diam saja jika tak mengerti apapun!" balas Galen dingin.


Bagi Galen, bertemu dengan Mark disini adalah sebuah kesialan. Lelaki itu pasti akan terus bertanya, mencari informasi sedetail mungkin hingga rasa penasarannya terpuaskan.

__ADS_1


"Permisi.." seorang suster hendak masuk kedalam ruang rawat Aurora. Galen dan Mark segera memberikan jalan.


Suster itu menjalankan tugasnya untuk memastikan keadaan pasien.


"Ini sudah memasuki jam istirahat bagi pasien. Sebaiknya para pembesuk segera pulang dan bisa datang kembali besok pagi sesuai jadwal yang diterapkan rumah sakit." ucap suster tersebut. "Lagipula keadaan pasien yang tengah hamil membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar bisa segera pulih."


"H-hamil?!!" pekik Anna tampak shock.


***


Oriole bar.


23:15


"Aku tau, kau mungkin merasa bosan pada Mina. Itu sebabnya kau pergi untuk mencari hiburan." ucap Mark setelah meneguk minumannya hingga tersisa setengah didalam gelas.


Jika itu Anna, dia mungkin tak akan bisa menebak siapa lelaki yang sudah menghamili Aurora, tapi Mark bisa langsung mengetahuinya begitu dia menatap kedua mata Galen.


"Kau salah, aku sama sekali tidak merasa bosan." balas Galen. "Dan apakah dimatamu gadis itu tampak seperti wanita penghibur?"


Mark menggeleng. Karena jujur saja dia melihat sosok Aurora selayaknya gadis anggun dan berkelas. Apalagi gadis itu adalah atasan dari Anna, pacarnya.


Anna sering bercerita tentang Aurora dan sedikit banyak Mark bisa menilai karakter Aurora melalui cerita sang pacar.


"Maksudku kalian melakukannya atas dasar suka sama suka." ucap Mark masih ingat menggali informasi lebih lanjut.


Tapi dasar suka sama suka adalah hal yang mustahil. Karena Mark tau jika Galen adalah seorang bucin, dia tidak akan mengkhianati Mina sampai seperti itu.


"Itu tidak sengaja!" ucap Galen singkat.


"Bagaimana bisa disebut tidak sengaja jika pada akhirnya hal tersebut bisa menghasilkan seorang bayi." balas Mark tidak percaya. "Kalian pasti sudah pernah melakukannya beberapa kali."


"Aku bersumpah, Mark! Itu hanya satu kali, secara tak sengaja disalah satu kamar JWN hotel dengan keadaan kita berdua yang sama-sama mabuk berat. Apa sekarang kau sudah puas setelah aku menceritakan bagaimana detailnya?!"


Melihat Galen yang tampak kesal, Mark justru menanggapinya dengan tertawa.


"Tapi serius, Gal.. jauh didalam lubuk hatimu, kau pasti pernah merasa bosan pada tunanganmu itu 'kan?"


Galen menghela nafas panjang. "Aku sudah berhasil melewati masa bosan itu, itu artinya aku sudah berada pada titik tertinggi untuk mencintai Mina seumur hidupku."


Mark hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Galen. Sekalipun Mark dapat melihat ada sedikit keraguan didalam hati Galen saat mengucapkan hal tersebut.


"Jika itu aku, aku mungkin tidak akan tahan. Jujur saja ya, Mina itu merepotkan." ucap Mark blak-blakan.


***

__ADS_1


__ADS_2