Aroma Hujan

Aroma Hujan
Pergi ke gunung


__ADS_3

Tentang Galen yang datang pagi-pagi begini, mengingatkan Aurora disaat lelaki itu menawarkan tonkatsu padanya kala itu.


Kenangan itu begitu manis namun kini terlalu menyakitkan untuk di ingat.


"Jangan keras kepala! Aku sudah jauh-jauh datang kemari."


"Aku tidak pernah memintamu untuk datang!" balas Aurora.


"Sudahlah.. ini masih terlalu pagi untuk memulai sebuah pertengkaran. Ayo, berangkat denganku."


Galen menarik tangan Aurora untuk memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh disana. Tanpa mengetahui, Austin tengah melihat kebersamaan mereka dari lantai dua.


"Apa ada yang ingin kau makan pagi ini?" Galen buka suara tak lama setelah mobil melaju meninggalkan halaman rumah Aurora.


Kenapa?


Kenapa sikap Galen berubah?


Dia bahkan tak sudi untuk mendengar permintaan Aurora kemarin, mengenai pura-pura bahagia atas pernikahan mereka yang tersisa kurang dari lima bulan lagi.


Disaat Aurora berusaha keras untuk membenci suaminya itu, Galen justru tiba-tiba saja datang dengan membawa perhatian yang selama ini selalu Aurora rindukan.


"Aku sudah sarapan." balas Aurora cuek.


"Austin menginap di rumahmu ya? Aku tidak sengaja melihat mobilnya terparkir di halaman rumahmu tadi." tanya Galen.


"Aku sudah berusaha untuk mengusirnya tapi dia tetap bersikeras." jawab Aurora.


Dia menjawab seperti itu bukan untuk menghargai perasaan Galen melainkan berjaga-jaga takut Galen mengadu yang tidak-tidak pada Sarah dan Juniar.


Galen tertawa ringan. "Dia pasti tidak akan mendengarkan ucapanmu. Austin selalu seperti itu. Mengejar apa yang ingin dia kejar, hingga pada akhirnya dia berhasil untuk mendapatkannya."


Aurora tidak menjawab, tidak tertarik lebih tepatnya.


"Apa kau mulai tertarik padanya?" tanya Galen penasaran.


"Apa kau sudah gila?!" balas Aurora kesal. "Jangan tanyakan hal itu padaku! Aku bukan tipe seseorang yang dengan mudah menaruh perasaan pada setiap laki-laki yang baru saja aku temui! Apa kau pikir aku segampang itu?! Ah ya, benar! Aku mulai mendapatkan image gampangan setelah bertemu dengan laki-laki sepertimu yang sudah membuatku mengandung bayimu!"


"Maaf, jika ucapanku membuatmu tersinggung." ucap Galen kemudian terdiam untuk waktu yang lumayan lama.


Sepertinya Galen memang sedang tidak ingin ribut dengan Aurora.


Sisa perjalanan masih panjang, akan canggung sekali rasanya jika mereka hanya saling diam seperti ini.

__ADS_1


"Galen.." jadi Aurora mencoba untuk membuka topik obrolan diantara mereka setelah rasa kesalnya secara perlahan mulai mereda.


"Apa?" balas Galen singkat.


"Jadi sekarang kau sudah memulainya ya? Sejak hari ini?" tanya Aurora.


Galen mengernyit tak mengerti. "Apa maksudmu?"


"Sikapmu yang berpura-pura menjadi baik padaku." jawab Aurora.


"Bukankah kita sudah membicarakan hal ini kemarin?" tanya Galen.


"Jadi seperti itu? Kau bahkan tidak menerima penolakan dariku, tetap menjalankan apa yang kau mau tanpa peduli dengan pendapatku, padahal aku juga memiliki hak untuk menolak!" emosi Aurora kembali tersulut.


"Ini adalah hal yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk saat ini." balas Galen enggan menanggapi rasa marah dan kecewa yang tengah Aurora rasakan.


"Kau akan bersikap baik padaku dalam waktu lima bulan ini 'kan?" tanya Aurora.


"Itu benar!" jawab Galen.


"Kau pikir aku akan menderita karena hal itu, Galen Addy Handoko? Apa kau pikir aku akan terpuruk setelah kau menceraikan aku nanti?! Mari kita buktikan saja! Sikap baikmu ini tidak akan membuatku goyah!"


Galen sama sekali tidak terpengaruh. Tetap fokus menyetir karena baginya saat ini Aurora hanya bicara omong kosong.


***


Sejak hari itu, Aurora memutuskan untuk mengikuti segala permainan Galen. Dia sudah lelah, menjadi seorang wanita yang lemah hanya karena cinta.


Lebih dari itu, cinta yang Aurora rasakan hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Kali ini, Aurora akan berusaha menjadi kuat, demi dirinya sendiri terlebih juga calon bayinya.


"Ibu, ayah.. kami berangkat dulu." ucap Aurora pamit dengan senyum cerah setelah mereka selesai menikmati sarapan bersama.


"Aku akan pergi ke perusahaan setelah mengantar Aurora pergi ke dokter kandungan." Galen bicara pada Juniar.


"Apa kau perlu mengambil cuti untuk hari ini?" Juniar menawarkan.


"Aku rasa tidak perlu, Yah.. ini mungkin hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga jam saja, jadi aku masih bisa pergi ke perusahaan setelahnya." balas Galen.


"Ambil cuti juga tidak masalah. Selama ini kau sudah bekerja dengan keras untuk perusahaan, sesekali pergi bersama dengan istri sembari menikmati waktu berdua seharian juga terkadang diperlukan." ucap Sarah yang kedua matanya tampak berbinar-binar melihat kerukunan antara anak dan menantunya.


"Apalagi Aurora sedang hamil. Perhatian ekstra yang kau berikan padanya pasti akan membuat dia merasa senang dan terhindar dari stres." lanjut Sarah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu.. kami masih bisa menghabiskan waktu bersama setelah Galen pulang dari perusahaan. Iya 'kan, Galen?" tanya Aurora.


"Benar! Tapi kalau ayah dan ibu memaksa, aku akan membawa Aurora pergi ke suatu tempat. Sebenarnya kami sudah berencana pergi di akhir pekan ini, aku berencana mengajak Aurora pergi ke daerah pegunungan untuk menikmati pemandangan disana."


"Kau akan mengajakku kesana?" tanya Aurora dengan raut bahagia namun hanya sebatas pura-pura karena sebenarnya dia sudah tau mengenai rencana Galen yang satu ini. Galen sudah menceritakannya saat pekan lalu.


Aurora hanya menyetujuinya begitu saja saat Galen mengatakan mereka akan pergi menikmati pemandangan gunung.


"Iya. Kau mau?" tanya Galen.


Aurora segera mengangguk. "Aku rasa itu bukan ide yang buruk."


"Itu terdengar bagus!" puji Juniar. "Suasana di daerah pegunungan sangat menenangkan, cocok untuk dinikmati oleh seseorang yang sedang hamil. Itu yang sering ayah dan ibumu lakukan saat kau masih berada didalam kandungan ibumu dulu."


"Melihat mereka jadi teringat kita pada saat masih muda dulu 'kan suamiku?" ucap Sarah mengenang masa lalu.


"Benar, istriku." balas Juniar dengan senyum cerah.


Juniar dan Sarah kemudian membagi cerita singkat mereka, hari bahagia saat Galen mulai hadir melengkapi kebahagiaan rumah tangga yang tengah mereka bina.


Aurora tersenyum mendengar cerita Juniar, betapa beruntungnya Sarah memiliki Juniar yang begitu perhatian.


Sama seperti Galen sebenarnya, bedanya Juniar benar-benar perhatian pada Sarah sementara Galen hanya berpura-pura pada Aurora.


"Apalagi udara di pegunungan pasti lebih bersih dan sejuk. Itu akan membuat Aurora merasa nyaman. Kalian bisa pergi bersama, apa ibu perlu menyiapkan bekal untuk kalian?"


"Tidak perlu, Bu.." tolak Galen dengan segera. "Kami bisa membelinya diperjalanan saja agar ibu tidak repot."


"Galen benar, Bu.. lagipula kami harus segera pergi ke rumah sakit. Kami sudah membuat janji dengan dokter Alina."


Sarah mengangguk mengerti. "Ya sudah, kalau begitu kalian hati-hati dijalan."


"Iya, Bu.." balas Aurora.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Galen pada Aurora.


Aurora mengangguk setuju. "Ayo."


Galen berjalan keluar dari ruang makan dengan menggandeng tangan Aurora. Melihat itu senyum Sarah dan Juniar seketika merekah.


Mereka merasa sangat bahagia, pada akhirnya Galen dan Aurora bisa bersatu selayaknya pasangan suami istri yang harmonis.


***

__ADS_1


__ADS_2