
"Benar-benar menyebalkan! Apa sekarang kau bahkan menggunakan kehamilanmu itu sebagai temeng?! Mengharapkan simpati dari orang-orang untuk mengasihimu? Orang lain mungkin akan terpengaruh, tapi tidak denganku!"
Aurora menatap Galen dengan kedua mata yang sudah tampak berkaca-kaca. Sebenarnya Aurora ingin memiliki kesempatan untuk bicara berdua dengan ayah dari bayinya.
Namun saat kesempatan itu ada justru hanya adu mulut yang terjadi. Tidakkah Galen bisa melihat jika sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya Aurora membutuhkan sosok lelaki itu. Sekalipun dia sering kali menyangkalnya mati-matian!
"Juga air mata itu! Aku tidak akan terpengaruh!"
"Ada apa ini?" sosok lelaki lain muncul diantara mereka secara tidak langsung sudah melerai pertengkaran diantara mereka.
Aurora mengingat sosok lelaki itu, dia adalah kekasih Anna.
Mark.
Sampai sekarang Aurora masih tidak mengerti. Bagaimana bisa sosok nyaris sempurna seperti Mark mau berpacaran dengan Anna yang super berisik dan ember bocor?
"Karena jodoh. Hehehe.." ucap Mark yang ternyata memiliki sisi humoris.
Aurora hanya tersenyum menanggapi ucapan Mark.
"Kira-kira bagaimana kalau aku melamar Anna akhir tahun ini? Menurutmu apa dia sudah siap?" tanya Mark.
Setelah Mark datang, Galen memutuskan untuk pergi dari sana.
"Tidak." balas Aurora singkat.
"Tidak?" Mark balas bertanya.
"Anna masih berusia dua puluh dua tahun. Masih terlalu muda untuk menikah."
"Akan menjadi dua puluh tiga tahun di tahun depan."
"Kalau begitu ikuti saja apa kata hatimu dan diskusikan hal ini dengan Anna juga. Pendapat Anna juga sama pentingnya dan apapun itu keputusan Anna, kau harus bisa menghargainya." ucap Aurora memberikan sedikit saran.
Mark mengangguk setuju dengan ucapan Aurora.
"Kau benar-benar tidak ingin makan sesuatu ya?" tanya Mark mengganti topik.
Aurora menggeleng.
"Ada satu menu ayam yang rasanya enak sekali. Aku akan mengambilkan sedikit untukmu, tunggu sebentar!" ucap Mark dengan antusias.
"Hei, tidak usah!"
Tapi Mark sudah keburu pergi. Lima menit kemudian Mark benar-benar kembali dengan menu ayam pilihannya.
Beberapa potong ayam goreng tepung dengan saus asam manis dan taburan biji wijen diatasnya.
__ADS_1
"Aku berkata pada bibi Sarah jika kau ingin makan menu yang ini. Jadi dia menambahkan ayamnya sedikit lebih banyak." ucap Mark.
"Kau bisa memakan semuanya." balas Aurora.
"Mana bisa begitu? Kau akan membuatmu menjadi seorang pembohong karena sudah menggunakan namamu untuk mendapatkan ayam ini."
Mark menarik tangan Aurora untuk mengambil satu potong ayam disana. Dengan terpaksa Aurora menerimanya. Gadis itu mengendus aromanya terlebih dahulu dan sepertinya itu aman.
Aurora kemudian memasukkan potongan ayam asam manis itu kedalam mulut dan benar saja seperti yang Mark katakan jika rasanya lezat.
"Apa kau akan menghabiskan semuanya?" tanya Mark yang melihat Aurora makan dengan cukup lahap beberapa saat kemudian.
"Kau mau?" Aurora menawarkan.
Mark tersenyum. "Tidak. Untukmu saja semuanya. Ayo, habiskan."
Aurora sangat menikmatinya seolah-olah itu makanan terlezat yang pernah dia makan.
Masih ada setengah porsi ketika Aurora merasakan perutnya mulai bergejolak.
"Ughㅡ"
"Ada apa? Kau merasa mual?!" tanya Mark panik.
Mark menatap Aurora yang kini menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Gadis itu tidak bisa menahannya lagi. Makanan yang baru masuk beberapa detik yang lalu kedalam perut Aurora kembali keluar.
***
"Pakai ini saja." ucap Galen menyodorkan setelah pakaian milik Mina.
Memang ada beberapa setelan disana karena Mina sering menginap dan tidur di kamar Galen.
Galen bersedia melakukan hal ini hanya karena menuruti perintah Sarah untuk mengurus Aurora terlebih dahulu.
Bagi Sarah, sosok Aurora itu sudah seperti anak nomer dua yang artinya dia sudah dianggap seperti adik perempuan Galen. Jadi apapun yang terjadi Sarah percayakan Aurora pada Galen dengan harapan agar kelak mereka bisa menjadi lebih akur.
"Pergilah ke kamar mandi untuk mengganti pakaianmu." titah Galen.
Aurora mengangguk setelah menerima pakaian itu dari tangan Galen, gadis itu kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Belum lama memasuki kamar mandi, Galen dikejutkan dengan suara muntahan Aurora didalam sana.
Galen hampir menerobos masuk namun berhenti di ambang pintu yang sedikit terbuka begitu menemukan Aurora yang belum mengenakan pakaian bagian atasnya dan hanya mengenakan sebuah tank top bra berwarna hitam.
Galen mengumpat dalam hati.
Bagaimana bisa Aurora seceroboh itu dengan tidak mengunci pintu kamar mandinya?
__ADS_1
Didalam sana Aurora tengah membersihkan mulutnya dari sisa muntahan sebelum akhirnya mengenakan pakaian Mina.
Dia terdiam didepan cermin besar yang terpasang disana sembari menyingkap sedikit bajunya yang kini sukses memperlihatkan perutnya.
"Kau sudah sebesar ini sekarang." gumam Aurora.
Gadis itu masih sibuk dengan pantulan dirinya disana tanpa menyadari sedari tadi Galen memperhatikan setiap gerak geriknya dari luar kamar mandi.
"Aku berharap bulan demi bulan akan segera berlalu, hingga pada akhirnya kita akan bertemu dan aku bisa memelukmu secara nyata. Rasanya sudah tidak sabar.. berjuanglah bersama ibu dan jangan pernah menyerah. Karena ibu juga tidak akan pernah menyerah." ucap Aurora sendirian.
"Galen.."
Galen tersentak dan segera melepaskan fokusnya dari sosok Aurora disana. Dia menemukan Mina sudah berdiri didekat pintu masuk kamar.
"Apa yang kau lakukan disana?" tanya Mina penuh curiga.
Mina kemudian teringat jika tadi Aurora pergi ke lantai atas bersama Galen dan kemudian dia menyadari jika yang berada di dalam kamar mandi saat ini sudah pasti adalah Aurora.
"Kau mengintip dia berganti pakaian?" tanya Mina tak percaya.
Galen segera tergagap. "Itu tidak seperti yang kau pikirkan."
"Lalu apa? Apa kau akan mengatakan aku hanya salah paham lagi? Lagi dan lagi.. semuanya saja kau anggap sebagai salah paham!" sentak Mina.
"Minaㅡ"
"Sejak hari dimana kau mengakui bayi itu adalah milikmu, aku sudah tidak bisa mempercayaimu lagi, Galen!" sela Mina marah.
Aurora keluar dari kamar mandi karena terkejut dengan suara teriakan Mina.
"Ada apa ini?" tanya Aurora.
Mina segera menatap Aurora dengan penuh benci. "Kauㅡ"
Mina berjalan cepat menuju Aurora yang berdiri tak jauh disana, mendorong kasar bahu Aurora hingga gadis itu mundur beberapa langkah, secara reflek tangan Aurora bergerak untuk melindungi perutnya.
"Kau adalah penyebab dari segala kekacauan ini!" sentak Mina.
"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak mencoba untuk mengusik ketenangan hubungan kalian berdua." balas Aurora tidak terima.
Apa Mina tidak sadar jika Aurora adalah korban disini!
"Diam! Atau aku akan membuatmu celaka!" ancam Mina.
Galen segera menghampiri Mina disana, mencoba menenangkan gadis itu ketika Mina dengan terburu-buru mencari sesuatu didalam laci meja nakas kamar Galen.
Apapun itu, hal tersebut sudah pasti berhubungan dengan niatan yang buruk, terlebih saat Mina sudah terlihat memegang erat sebuah gunting yang baru saja dia temukan.
__ADS_1
***