
"Ah, kau ada disini rupanya." ucap Aurora pada sosok yang sudah menunggunya didepan pintu masuk krematorium.
Itu adalah Galen.
"Kau sudah selesai?" tanya Galen.
Aurora mengangguk. "Baru saja."
"Suamimu dikehidupan sekarang sudah datang rupanya." ucap Austin. "Baiklah, Aurora.. kalau begitu, suamimu dikehidupan selanjutnya akan pergi. Aku duluan ya?"
"Terima kasih karena sudah bersedia menjemput anak dan istriku di bandara, Austin." ucap Galen.
"Tidak perlu berterima kasih.. itu sudah menjadi kewajibanku. Aku melakukannya demi istri dan anakku." balas Austin ngawur.
Galen dan Aurora secara kompak memasang wajah datar. Sudah tidak bisa berkomentar apa-apa lagi tentang sifat Austin.
"Aku pergi ya?" pamit Austin.
"Hati-hati di jalan." balas Aurora.
"Siap, istriku."
Kendati demikian tidak ada rasa cemburu ataupun sakit hati di dalam diri Galen. Dia sudah terbiasa dengan sikap Austin yang seperti ini.
Begitu Austin berjalan menjauh, Galen dengan segera menyodorkan tangannya, Aurora dengan senang hati menerima genggaman tangan hangat suaminya itu. Mereka saling bergandeng tangan menuju tempat parkir.
"Lagi-lagi kau merepotkan Austin. Aku jadi merasa tidak enak, dia 'kan juga punya kesibukan sendiri." ucap Aurora.
"Aku tidak memintanya untuk menjemputmu kok, karena sudah ada ayah dan ibu disana, ini pasti karena keinginan Austin sendiri." balas Galen.
"Ah, begitu rupanya.."
"Tadi aku sempat menyusulmu di bandara tapi hanya menemukan ayah, ibu dan juga Leo disana. Ibu bilang kau datang kemari jadi aku menjemputmu kesini."
"Padahal tadi aku sudah memberitahumu melalui sebuah pesan." ucap Aurora.
"Ponselku ketinggalan di perusahaan jadi aku tidak bisa melihat pesan darimu."
Aurora mengangguk mengerti.
"Kau kelihatannya lesu sekali. Apakah perjalanannya terasa melelahkan?" tanya Galen khawatir.
Aurora menggeleng singkat. "Mungkin hanya gejala flu biasa. Akhir-akhir ini 'kan cuaca memang sedang tidak menentu."
"Ayo, kita pergi ke rumah sakit. Aku khawatir sakitmu jadi semakin parah. Mumpung kau masih belum kembali bekerja, karena kalau sudah berurusan dengan pekerjaan kau pasti akan lupa waktu, lagipula jika sakit begini ada kemungkinan Leo akan tertular juga." jelas Galen.
"Ya sudah, kita mampir ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum pulang." ucap Aurora akhirnya setuju.
__ADS_1
Galen membuka pintu mobil, membiarkan Aurora masuk sebelum kembali menutup pintu mobilnya.
"Loh? Kenapa Leo ada disini? Kau meninggalkan anak kita yang tertidur sendirian didalam mobil?" tanya Aurora tidak percaya.
"Hanya sebentar, sayang.. lagipula aku bisa melihat keberadaan mobil kita dari depan pintu krematorium, jadi tidak apa-apa." balas Galen mencoba menenangkan Aurora yang tampak kesal karena menganggap Galen terlalu menggampangkan banyak hal.
"Seharusnya tadi biarkan Leo bermain-main dengan ayah dan ibu terlebih dahulu, mereka sudah tidak bertemu hampir selama seminggu ini, pasti ayah dan ibu masih merasa rindu." ucap Aurora.
"Aku sudah menawarinya, tapi Leo sendiri yang menolak. Dia lebih rindu padaku katanya, padahal baru berpisah sebentar untuk menjenguk bayi Briella."
"Itu karena dia sangat dekat denganmu." balas Aurora.
"Iya, kau benar."
"Kau tau tidak?"
"Apa?"
"Kate sangat lucu sekali jika dilihat secara langsung. Wajahnya mirip sekali dengan James."
"Sayang sekali ya aku tidak bisa ikut kesana karena pekerjaan yang selalu menumpuk ini, padahal sebenarnya aku ingin lihat Kate juga. Kalau bisa ingin punya dua lagi yang seperti Kate." gumam Galen sengaja memancing perhatian Aurora.
"Kalau sudah rejeki dia pasti akan datang sendiri ditengah keluarga kecil kita." balas Aurora.
"Iya, sayang.. aku tidak akan memaksamu apalagi kau bilang masih trauma."
"Tapi, Galen.. aku rasa sekarang sudah tidak apa-apa, kita bisa mulai berusaha untuk memberikan Leo seorang adik."
Aurora tersenyum geli melihat ekspresi sang suami kemudian mengangguk yakin. "Anak kita sudah cukup besar 'kan untuk memiliki seorang adik?"
"Tentu saja. Leo pasti akan merasa senang sekali. Tidak hanya Leo saja, melainkan aku juga." balas Galen yang kini terus saja tersenyum selama sisa perjalanan mereka menuju rumah sakit.
Dulu..
Jika Aurora tidak mengambil keputusan ini dan lebih memilih berputus asa untuk tetap meninggalkan Galen begitu saja, Aurora mungkin tidak akan sebahagia ini.
Aurora yang saat itu sudah hamil tujuh bulan pergi ke Auckland city bersama dengan Briella dan Austin.
Proses perceraiannya dengan Galen sudah masuk ke pengadilan, sementara Aurora berusaha membuka hati untuk Austin. Menyetujui untuk bertunangan dengan Austin dua bulan setelah kelahiran Leo.
Galen yang keadaannya sudah hampir membaik setelah tragedi di apartemen Mina pergi menyusul Aurora disana dan enggan pulang hingga bayi mereka lahir.
Saat Galen pamit pulang setelah satu bulan kelahiran Leo untuk menyelesaikan masalah perceraian mereka sekalipun dia merasa sangat berat karena selama ini telah melihat bagaimana Leo tumbuh sehari-hari, tingkah lucunya, tangisannya, kebiasaan begadangnya yang terasa melelahkan namun anehnya juga terasa bahagia.
Aurora tak lagi menaruh harapannya pada Galen, membiarkan segalanya mengalir seperti air.
Sekalipun Mina telah meninggalkan dunia ini, namun Aurora bisa melihat jika Galen masih sangat mencintai gadis itu.
__ADS_1
Suatu hari, saat Galen pamit untuk pulang dan melanjutkan proses perceraian mereka yang sempat tertunda, saat itu pula Aurora mencoba untuk memberikan kesempatan kedua pada Galen.
Hingga Galen mempercayai jika keajaiban itu nyata adanya.
Aurora memutuskan kembali membuka hatinya untuk Galen, mengenyampingkan kemungkinan jika suatu saat nanti Aurora akan kembali terluka akibat keputusan ini.
Saat itu Galen bahkan tidak bisa memberikan jaminan apapun, termasuk janji, karena terakhir kali Galen berjanji pada Aurora, itu berakhir dengan dia yang tidak bisa menepatinya.
***
Rumah sakit..
"Apakah kita perlu ambil progam kehamilan sekalian? Mumpung kita ada disini?" tanya Aurora.
"Aku terserah kau saja, sayang.. selagi kau merasa nyaman." jawab Galen.
Mereka berjalan beriringan di sepanjang lorong rumah sakit dengan Galen yang menggendong Leo yang tampaknya masih mengantuk.
"Baiklah, setelah aku mendapatkan pemeriksaan, kita pergi untuk mendaftar ke poli kandungan."
"Ide, bagus!" balas Galen dengan senyum cerah. "Hei, jagoan ayah!"
"Hm?" balas Leo seadanya.
"Leo ingin punya adik tidak?" tanya Galen.
"Mau.."
"Ingin punya beberapa?"
"Dua."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Kalau ibu ingin punya yang perempuan." jawab Aurora. "Kalau Leo dan ayah?"
"Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja yang penting dia bisa tumbuh dengan sehat." balas Galen.
"Leo mau dua-duanya." jawab Leo.
Galen tertawa gemas. "Satu dulu, nak."
"Leo mau dua!" anak itu tetap bersikeras.
"Bagaimana, sayang? Leo maunya dua." adu Galen.
Aurora hanya tersenyum maklum. "Ya tidak apa-apa. Masih sesuai dengan rencana kita 'kan yang ingin punya tiga anak?"
__ADS_1
"Iya.."
***