Aroma Hujan

Aroma Hujan
Tonkatsu


__ADS_3

"Mengenai mimpi yang ibu bicarakan tadi pagi saat kita sarapan bersama, apa kau yakin tidak memiliki wanita lain diluar sana?" tanya Sarah saat hari sudah begitu larut, jam dinding di kamar Galen bahkan sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tujuh menit malam.


Galen menatap ibunya sekilas, masih enggan untuk menjawab. Apakah ini yang dimaksud dengan naluri seorang ibu?


"Bukan apa-apa sebenarnya.. ibu hanya merasa khawatir, pernikahanmu dengan Mina sudah didepan mata. Ibu tidak mau semuanya menjadi kacau."


"Tidak ada yang perlu ibu khawatirkan. Semuanya baik-baik saja." balas Galen meyakinkan.


"Syukurlah kalau begitu." Sarah menghela nafas lega. "Segeralah pergi beristirahat. Besok pagi kau harus bangun untuk menjemput calon mertuamu di bandara."


Galen hanya menjawab dengan anggukan singkat.


Sepeninggal Sarah, Galen hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Semuanya kacau dalam sekejap. Sampai saat ini dia masih belum bisa mengambil keputusan.


Mempertahankan bayi itu hingga lahir bukanlah ide yang bagus, apalagi jika sampai menggugurkannya. Sebuah dosa besar yang akan dia tanggung seumur hidup.


Lalu Mina..


Galen memiliki kekhawatiran besar jika tunangannya itu sampai mengetahui fakta jika dia sudah menghamili seorang gadis diluar sana.


Parahnya lagi, sudah terlihat dengan jelas jika Mina tidak begitu menyukai sosok Aurora.


***


Kelaparan tengah malam menjadi kebiasaan baru Aurora akhir-akhir ini.


Kemarin saat belum ketahuan sedang berbadan dua, gadis itu hanya akan mengabaikan rasa laparnya dengan alasan jika makan malam akan menambah kadar lemak diperut.


Aurora akan menanti hingga pagi menjelang dan dia bisa pergi ke dapur untuk sarapan lebih awal.


Tapi berbeda ceritanya dengan sekarang.


Rasa lapar ini membuat Aurora tidak bisa memejamkan kedua matanya hingga pagi hampir menjelang.


Tidak tahan lagi, Aurora terpaksa melangkah keluar menuju dapur untuk makan sesuatu.


Selama bersama Galen tadi, lelaki itu sesekali memberikan nasehat agar untuk saat ini Aurora harus lebih peduli pada keadaan tubuhnya, karena bagaimanapun juga ada satu nyawa yang hidup bergantung padanya didalam sana.


Sebenarnya banyak makanan yang bisa Aurora makan disana, hanya perlu memanaskan didalam microwave saja, sesimpel itu.. namun yang menjadi kendala adalah diantara berbagai macam makanan disana, Aurora malah ingin makan sesuatu yang lain, yang tidak dia miliki di rumah.


Tonkatsu..


Entah mengapa gambaran tentang tonkatsu seolah tengah berputar-putar didalam kepala Aurora. Dia bisa saja memesan menu tersebut melalui aplikasi food delivery, tapi lagi-lagi tidak sesimpel itu.


Tonkatsu yang Aurora inginkan adalah tonkatsu yang dibeli oleh Galen.


Apakah ini yang orang-orang sebut dengan mengidam? Mengapa merepotkan sekali? Padahal sekalipun bukan Galen yang beli, rasa tonkatsu tetaplah sama seperti itu. Tapi sepertinya jika Galen yang membelikan, Aurora bisa makan menu tersebut dengan lahap tanpa dimuntahkan lagi.


Aurora menatap layar ponselnya lama, seolah tengah menimbang sesuatu. "Apa aku benar-benar harus menghubunginya? Hanya demi satu porsi tonkatsu?"

__ADS_1


"Hah~ yang benar saja! Aku pasti sudah gila. Sadarlah, Aurora Alexandra! Dia pasti akan menganggapmu hanya memanfaatkan keadaan jika kau sampai nekad melakukan hal itu."


Demi memudahkan dalam hal komunikasi, mereka memang sengaja saling bertukar nomor HP saat di cafe kemarin.


Galen mengatakan jika Aurora tak perlu merasa ragu untuk menghubunginya jika memang ada sesuatu yang penting.


Memang sih..


Sejak pengakuan Aurora mengenai kehamilannya kemarin, sifat Galen mendadak menjadi lembut. Tak lagi menunjukkan sikap dingin seperti sebelumnya juga mendadak jadi perhatian.


Tentu saja itu semua bisa terjadi karena adanya bayi ini. Galen hanya ingin menjaga calon bayinya. Aurora harus sering-sering mengingat hal tersebut.


Galen bersikap manis hanya untuk calon bayinya, bukan dia!


***


Setelah tadi pagi sekuat tenaga mencoba menahan diri melupakan keinginannya mengidam. Siang ini, ketika baru saja tiba di butik, Aurora dikejutkan dengan kedatangan Galen disana.


Aurora memeriksa sekitar lingkungan butik, mencari keberadaan Mina, namun tampaknya Galen memang sengaja datang sendiri.


Lelaki itu kemudian menyadari keberadaan Aurora yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk, Galen beranjak menghampiri Aurora.


"Kau ada jadwal fitting baju dengan Briella ya?" tanya Aurora penasaran.


"Tidak ada."


"Lalu mengapa kau datang kemari?"


"Kau sudah sarapan?" Galen malah balas bertanya.


"Ini sudah siang dan kau belum sarapan?!" tanya Galen tak percaya.


"Tadi sebenarnya sudah, tapi sepertinya dia tidak menyukai menu sarapannya. Aku baru memasukkan satu gigitan roti dengan selai strawberry namun berakhir dengan memuntahkannya kembali." jawab Aurora lesu.


"Apa ada sesuatu yang kau ingin makan sekarang?"


Aurora segera mengangguk.


"Apa? Beritahu aku."


"Tonkatsu."


"Tonkatsu? Kalau begitu ayo kita pergi untuk makan itu." ajak Galen.


"Sekarang?"


"Iya."


"Tapi aku harus pergi kerja." tolak Aurora sekalipun dia menginginkannya.


Galen menghela nafas. "Aku tahu dia mungkin tidak berarti untukmu atau mungkin malah sudah menjadi penghambat bagimu."

__ADS_1


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu." balas Aurora enggan dituduh.


"Itu sebabnya aku datang kemari ingin mengatakan agar kau bersedia menjaganya untukku. Aku tahu itu akan menyusahkanmu, tapi cobalah bertahan." pinta Galen.


"Alasan lain aku menolak pergi bersamamu sekalipun aku sangat ingin makan tonkatsu adalah karena aku tidak mau tunanganmu salah paham."


Galen cukup maklum jika Aurora memiliki alasan seperti itu, karena memang Mina tidak begitu menyukai gadis itu.


"Mina tidak akan tahu. Karena seharian ini dia akan menghabiskan waktu bersama ibunya yang baru saja datang dari Jepang. Itu sebabnya kau tidak perlu khawatir. Ayo kita pergi ke restoran untuk makan tonkatsu."


***


Restoran tonkatsu..


11:15


"Kau menikmati makanannya?"


Aurora menjawab dengan anggukan karena kini mulutnya tengah dipenuhi dengan tonkatsu.


"Ini enak, karena aku sudah membayangkan sejak tadi pagi." balas Aurora setelah selesai mengunyah makanannya.


"Kenapa kau tidak pergi untuk memesan jika memang kau sangat ingin memakannya?" tanya Galen heran.


'Karena aku ingin kau yang belikan.' batin Aurora. "Entahlah.."


"Lain kali jika ingin apa-apa katakan saja padaku, aku akan berusaha untuk memenuhinya." ucap Galen.


"Kau tidak perlu melakukan hal tersebut, aku tidak ingin merepotkanmu." tolak Aurora.


"Sebelum kau merepotkanku, aku sudah lebih dulu merepotkanmu." balas Galen.


"Huh?!" Aurora mengernyit tak paham.


"Hamil itu tidak mudah 'kan? Aku memang tidak sengaja sudah melakukannya, meskipun begitu, tak bisa dipungkiri jika itu memang kesalahanku."


Aurora masih ingat jika hal terberat adalah mengalami morning sickness, kram perut, juga tubuhnya yang mendadak jadi gampang lelah dan selalu merasa gerah.


"Lalu bagaimana nasib anak ini kedepannya? Apa kau sudah menemukan sebuah solusi?" tanya Aurora penasaran.


Galen menggeleng lesu. "Bahkan didepan ibuku yang terkenal bijak dan pengertian saja aku tidak bisa berkata jujur."


"Saudara kembarku juga belum tahu. Tapi kita tidak bisa terus seperti ini saja, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga."


Galen hanya diem merenung, bahkan tak lagi menyentuh tonkatsu-nya.


Mengetahui hal itu sangat mengganggu Galen, Aurora memutuskan untuk tidak membahasnya lebih jauh. Gadis itu kembali fokus pada makanannya.


Pintu restoran terbuka.


Dua orang pelanggan masuk dan berhasil menarik perhatian Galen.

__ADS_1


Galen tidak menyangka akan bertemu dengan Mina dan calon ibu mertuanya disini.


***


__ADS_2