
Apa yang kelihatannya jauh dan tak mungkin untuk digapai, kenyataannya mungkin saja tidak sejauh itu, juga tidak semustahil itu.
Austin cukup peka untuk melihat gelagat Mina yang tampak mencurigakan. Tentang kehamilannya, cara dia mengendalikan Galen juga sikap aneh gadis itu yang tak kunjung menghadirkan ibu kandungnya sementara Juniar dan Sarah sudah berulang kali memintanya.
"Mau ikut reuni minggu depan tidak?" tanya Mark.
"Tidak, Mark. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini, banyak hal yang harus aku lakukan! Ini sudah membuatku merasa seperti menjadi seorang detektif dadakan." balas Austin.
"Sok keren!" ejek Mark.
"Memang keren!" ucap Austin percaya diri. "Karena masalah ini menyangkut lintas negara. Menurutmu bagaimana caranya aku bisa mendapatkan nomor ponsel seseorang yang berkewarganegaraan Jepang?"
"Apa sih? Kau mau punya pacar orang Jepang?" tanya Mark penasaran.
Austin menggeleng. "Bukan. Bukan begitu! Ini lebih rumit lagi, bukan nomor ponsel orang sembarangan."
"Kalau kau begitu tertarik pada gadis Jepang, gampang! Minta saja Mina untuk memperkenalkan salah satu temannya padamu. Itupun kalau dia memang punya teman." ucap Mark memberikan saran.
"Nah! Itu dia masalahnya. Menurutmu apa Mina tidak akan curiga saat aku mengatakan padanya ingin minta nomor ponsel ibunya?"
"Memangnya untuk apa?" tanya Mark lagi-lagi merasa penasaran.
"Ada sesuatu yang penting."
"Kalau nomor ponsel ibu Mina saja aku juga punya!"
Austin menganga tidak percaya mendengar pengakuan Mark barusan.
"Mark, seriously?!" tanya Austin dengan ekspresi berlebihan.
"Iya."
"Bagaimana bisa, Mark? Kau punya nomor ponsel ibu kandung Mina. Wah! Ini sungguh menakjubkan! Tidak bisa dipercaya sama sekali."
Menakjubkan apanya? Bagi Mark ini hal wajar Austin saja yang berlebihan.
"Aku 'kan dulu dekat dengan Mina, dia beberapa kali pernah meminjam ponselku untuk menghubungi ibunya. Jadi aku punya nomernya." penjelasan Mark terdengar masuk akal.
Austin buru-buru mengeluarkan ponselnya sendiri dari dalam saku celana.
"Berikan aku nomernya. Cepat, Mark!"
"Apa-apaan? Aku tidak bisa sembarangan memberikan nomor ponsel orang lain." balas Mark menolak.
"Mark, please.. hanya kau satu-satunya harapanku." pinta Austin memohon.
"Tidak mau!"
__ADS_1
"Ah, begini saja! Aku akan memberikan voucher makan gratis di Seorae BBQ khusus untukmu. Bagaimana?"
Mark menahan senyumnya. "Bagaimana ya? Ini 'kan menyangkut privasi seseorang jadi aku tidak bisa sembarangan."
"Mark, tolonglah.. sekali ini saja! Aku mohon." pinta Austin dengan sangat.
"Tukar dengan voucher makan gratis di Seorae BBQ bersama dengan pasangan. Bagaimana?" ucap Mark mencoba untuk bernegosiasi.
Austin mencibir lelaki itu. "Baiklah.."
Ini yang dinamakan terkesan jauh namun ternyata begitu dekat. Masalah nomor ponsel yang Austin anggap akan menjadi hal tersulit untuk dia temukan, ternyata malah semudah ini untuk dia dapatkan.
Dengan keahlian bicaranya, Austin menemukan fakta baru yang mengejutkan setelah dia berhasil menghubungi Hani disana.
Ini seperti sebuah kartu mati bagi Mina.
***
JJ Bridal Boutique..
14:50
Dua hari tanpa Austin nyatanya hidup Aurora terasa semakin hambar, meskipun berisik Austin cukup menghibur, lagipula hanya lelaki itu yang tau detail masalah yang saat ini tengah Aurora hadapi.
Saat Galen pergi mengacuhkan Aurora kala itu, Austin tiba-tiba datang.
Dan sekarang, saat Galen kembali menyakiti perasaan Aurora, Austin kembali datang seperti seorang penolong, meluangkan banyak waktunya hanya demi Aurora.
Aurora sampai berpikir apakah Austin adalah jelmaan nyata dari seorang ibu peri?
Dia sangat baik sekali meskipun kepribadiannya agak aneh.
"Kakak.. ada yang mencarimu." ucap Anna yang masuk kedalam ruangan Aurora setelah mengetuk pintunya.
Senyum Aurora mengembang. 'Pasti Austin.. baru juga dibicarakan, dia sudah sampai sini saja.' batinnya.
"Suruh langsung masuk saja." ucap Aurora yang tampak sibuk membaca majalah fashion.
"Tapi, kakㅡ"
"Biarkan dia masuk, Anna." sela Aurora.
"Baiklah." Anna keluar dari ruangan Aurora setelahnya.
Aurora masih sibuk dengan majalahnya saat tamunya mulai masuk kedalam. Namun, suara ketukan sepatu high heels yang beradu dengan lantai ruangan Aurora menyadarkan gadis itu jika yang datang bukan Austin.
Aurora mendongak dan menemukan Mina sudah berada dihadapannya.
__ADS_1
"Kenapa kau datang kemari? Pergilah.. aku tidak bisa menerimamu disini." usir Aurora.
Kehadiran Mina hanya membuat emosi Aurora meledak seketika. Entah mengapa dia begitu marah mengingat Galen yang pergi meninggalkan dia dan calon bayinya hanya demi Mina.
"Keluar!!"
Mina mengabaikan perintah Aurora. Gadis itu justru sudah mengambil posisi duduk di sofa. "Mari kita bicara sebentar."
"Aku tidak perlu lagi bicara denganmu! Kau sudah mendapatkan segalanya, kau juga sudah berhasil menghancurkanku. Kurang apalagi?"
Mina menghela nafas dalam. "Kau tidak hancur. Justru aku yang hancur lebur disini. Mengetahui perasaan Galen telah terbagi dengan gadis sepertimu. Aku hanya ingin memiliki Galen, sepenuhnya."
"Tidak ada gunanya kau membicarakan hal ini padaku. Dia sudah bersamamu sekarang, menjadi milikmu!" balas Aurora.
"Terkadang dia masih merasa ragu, Aurora. Itu sebabnya, aku perlu meyakinkannya. Mengunci dirinya hanya untuk melihatku seorang dengan cara membuat dia membencimu sampai dia tidak ingin lagi melihat wajahmu!"
"Apa maksudmu?!"
"Sedikit fitnah yang aku buat mungkin bisa membantu." gumam Mina lirih dengan senyum penuh ejekan.
Habis sudah kesabaran Aurora, dia melangkah penuh emosi kearah Mina yang kini sudah menunjukan tatapan remehnya.
"Pergilah dari sini!" tekan Aurora.
Mina mengangguk setuju. "Aku akan melakukannya setelah kau mendengarkan rencanaku ini. Bagaimana jika seandainya Galen tau jika aku mengalami keguguran karena kau sengaja melukaiku?"
Aurora menganga tak percaya mendengar ucapan Mina. "Apa kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau mengorbankan nyawa bayimu sendiri hanya demi hal semacam ini?!"
"Bayi?" Mina tertawa keras. "Bayi yang mana? Aku tidak percaya mereka semua mudah sekali dibodohi, termasuk kau! Astaga.. ini lucu sekali!"
"Jadiㅡkau.." Aurora kehilangan kata-kata setelah menyadari maksud dari perkataan Mina.
"Aku tidak hamil, Aurora.. tidak pernah! Dan Galen juga tidak pernah menyentuhku, itu hanya cerita karangan yang aku buat demi merebut Galen kembali di sisiku."
Aurora sudah selesai dengan gadis ini. Mina benar-benar luar biasa dalam segala hal!
"Lihat saja, Mina.. aku pasti akan membongkar semuanya!" ancam Aurora.
Mina menanggapinya dengan santai. "Coba saja kalau kau bisa!"
Mina berdiri dari tempatnya duduk, posisinya berada begitu dekat dengan Aurora sekarang.
"Mulai sekarang berhati-hatilah.. selalu perhatikan langkahmu karena dalam waktu dekat ini aku akan membuat semua orang mengecapmu sebagai seorang pembunuh yang telah membunuh bayi kami. Anakku dan juga Galen." bisik Mina tepat didekat telinga Aurora.
Aurora secara reflek hampir melayangkan sebuah pelukan namun Mina berhasil menahan tangan gadis itu.
***
__ADS_1