Aroma Hujan

Aroma Hujan
Krematorium


__ADS_3

Dua bulan kemudian..


Via grup chat keluarga.


Austin : [mengirim foto bayi] Baby rangers sudah lahir, tadi siang pukul 12:25 waktu setempat dalam keadaan sempurna tanpa kekurangan apapun.


Sarah : Cucu nenek.. tampan sekali.


Juniar : Akhirnya kami punya cucu juga. Kami akan segera datang untuk membesuk.


Austin : Aurora bilang dia akan memberi nama baby rangers seperti saran dari bibi Sarah yaitu Leo.


Sarah : Astaga.. aku bahagia sekali. Leo mirip dengan siapa? Apakah mirip dengan Galen?


Aurora : Iya, Bu. Leo sekali mirip dengan Galen.


Sarah : Apakah semuanya baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu sekarang? Maaf ya, ibu tidak bisa menemanimu saat proses melahirkan.


Aurora : Aku sudah baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu merasa bersalah karena hal itu, aku sungguh tidak apa-apa.


Juniar : Jadi cucu ayah mirip dengan Galen? Anak itu pasti merasa bangga disana.


Sarah : Sudah pasti.


Austin : [Mengirim foto Aurora yang menggendong Leo] kelemahan terbesarku, melihat anak dan calon istri bersama-sama.


Sarah : Semoga pertunangan kalian dua bulan yang akan datang berjalan dengan lancar.


Austin : Terima kasih bibi Sarah.


Juniar : Do'a terbaik kami untuk kalian berdua.


Austin : Terima kasih, paman.


***


Auckland city, Selandia baru..


Tiga tahun berlalu dengan cepat. Aurora masih bisa mengingat saat pertama kali dia menginjakkan kaki di kota ini. Kemudian tinggal bersama Briella dan Sean sebelum akhirnya melahirkan Leo.


"Sayang.. ayo, siap-siap! Mainnya nanti lagi ya. Kakek dan nenek sudah rindu, ingin kembali bertemu dengan Leo." titah Aurora.


"Ibu, mau coklat." rengek Leo.


"Nanti ya, sayang.. kita harus mandi dulu, nanti ketinggalan pesawat."


Pada akhirnya Leo mengangguk setuju.


Briella berserta Jamesã…¡suami bule yang dia nikahi setahun yang lalu mengantarkan Aurora dan Leo menuju bandara. Sekedar informasi, dari suami barunya, Briella dikaruniai seorang bayi perempuan. Mereka memberikan nama Kate, bayi menggemaskan dengan wajah yang sembilan puluh sembilan persen mirip dengan James.


"Hubungi aku begitu kau sudah mendarat ya?" pesan Briella.

__ADS_1


"Iya, Brie.." balas Aurora. "Leo, berikan salam perpisahan pada bibi Briella dan paman James."


Leo dengan segera memeluk Briella dan memberikan beberapa ciuman perpisahan, begitu juga dengan James.


"Astaga, si tampan ini. Sepertinya dia sudah waktunya memiliki adik seperti Sean. Jika memang iya, tolong segera wujudkan saja. Memangnya kau tidak rindu punya mahluk kecil yang lucu seperti Kate?" goda Briella.


"Kau ini! Sama seperti suamiku, selalu saja minta adik untuk Leo." jawab Aurora.


"Leo sudah berusia tiga tahun sekarang, sudah cukup besar untuk memiliki seorang adik."


"Akan aku pikirkan nanti. Kau tau sendiri jika hamil itu tidak mudah apalagi melahirkan. Aku trauma." gumam Aurora.


Briella mencibir main-main, karena dia ingat dulu Aurora mengalami proses persalinan yang lancar, tidak seperti Briella yang telah menahan sakitnya kontraksi hampir selama dua hari dua malam namun ujung-ujungnya Kate harus lahir melalui operasi sesar, merasa perjuangan dua hari dua malam itu berakhir dengan sia-sia.


"Kasian sekali keluarga kalian tidak akan memiliki tambahan anggota baru karena kau sudah keburu trauma." ucap Briella.


"Kau tenang saja, Brie.. kita pasti akan punya anggota baru. Tapi mungkin nanti, tidak dalam waktu dekat ini, kami bahkan sudah berencana ingin memiliki tiga orang anak, agar kelak Leo tidak merasa kesepian." jelas Aurora.


"Rencana yang bagus! Kami akan tunggu kelahiran anak kedua dan ketiga kalian." seru Briella bersemangat.


***


Internasional airport..


15:55


"Selamat datang, cucu kakek! Kangen tidak pada kakek?" seru Juniar.


Sarah yang merasa gemas tidak bisa menahan dirinya untuk segera memberikan pelukan pada Leo. "Kenapa cucu nenek jadi murung begini?"


"Dari tadi dia terus merengek minta beli coklat, Bu." balas Aurora.


"Coklat? Leo mau coklat?" tanya Sarah pada Leo.


"Mau.."


"Kalau begitu kita pergi beli coklat disana ya bersama dengan kakek dan nenek." ajak Sarah yang membuat Leo tersenyum cerah.


Leo mengikuti langkah Sarah dan Juniar yang menggandengnya memasuki toko yang menjual aneka permen dan coklat.


"Ah~ akhirnya tidak ada yang mengganggu. Capek tidak perjalanan kalian?" tanya Austin yang sedari tadi sudah berada disana namun memilih untuk diam.


Lelaki itu hanya sedang membiarkan Juniar dan Sarah melepas rasa rindunya terlebih dahulu terhadap sang cucu.


"Lumayan.." jawab Aurora.


"Aku kangen sekali pada istriku, ingin peluk yang erat."


Aurora hanya pasang wajah datar.


"Mana cium untukku, Aurora?"

__ADS_1


Aurora diam tak menanggapi.


"Austin.." panggil Aurora.


"Ya, istriku?" jawab Austin dengan segera.


"Kau bisa antarkan aku pergi ke suatu tempat sebelum pulang tidak?" tanya Aurora.


"Kau sendiri pasti sudah tau jawabannya. Aku akan mengantarmu kemanapun tujuanmu, sekalipun itu ke ujung dunia." jawab Austin dengan berlebihan.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang." ajak Aurora.


"Tapi anak kita bagaimana? Si tampan Leo?"


"Dia akan aman dan baik-baik saja bersama dengan ayah dan ibu." balas Aurora.


"Jadi kemana tujuan kita?" tanya Austin penasaran.


"Mari saling bicara didalam mobil selama perjalanan saja. Aku akan memberitahumu tujuan disana."


"Baiklah.."


***


Krematorium..


"Wah, tidak bisa dipercaya. Kau bahkan masih ingat dengan hari kematiannya?"


Aurora mengangguk. "Aku mengingatnya dengan baik. Dua bulan tepat sebelum kelahiran Leo."


"Aku pikir itu masih lusa."


"Hari ini, Austin.." koreksi Aurora.


Austin mengikuti langkah ringan Aurora sampai ketempat tujuan. Disana terdapat sebuah guci yang menyimpan abu jenazah dari mendiang Mina.


Tiga tahun sudah gadis itu pergi meninggalkan dunia ini, tempat yang terlalu kejam bagi gadis malang seperti dia.


"Hai, Mina.. aku datang. Apa kau sudah merasa bahagia sekarang? Terbanglah dengan bebas tanpa merasa ketakutan lagi. Kami disini selalu mendoakanmu, juga jangan terlalu mengkhawatirkan ibumu, aku dan suamiku sudah berjanji akan menjadi penggantimu untuk menjaga beliau." ucap Aurora dengan tulus.


"Benar, Mina.. kami menjaga beliau dengan sangat baik. Jadi kau bisa tenang sekarang." tambah Austin.


Hari itu ketika Galen terluka saat Mina hampir menusukkan pisau tajam itu tepat di dada Galen, Mina tiba-tiba saja tersentak begitu mendengar ajakan Galen untuk mati bersama.


Entah hal apa yang sudah membuat Mina segera tersadar untuk menghubungi petugas medis, mengatakan dengan suara panik jika seseorang tengah terluka dan membutuhkan bantuan dengan segera.


Gadis itu menangis histeris melihat apa yang sudah dia perbuat terhadap Galen. Begitu petugas medis hampir mencapai lokasi, Mina berlari menuju balkon, sisa tenaga yang Galen miliki dia kerahkan untuk mencegah Mina. Namun, saat kegelapan mengambil alih seluruh kesadaran Galen, gadis itu terjun bebas dari balkon apartemennya yang terletak di lantai sepuluh dan menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga.


Hampir tiga tahun berlalu dan pedihnya masih saja terasa. Apalagi saat Aurora mendengarkan cerita mengenai masa lalu Mina dari Hani.


Bagaimana Mina bisa kehilangan rahimnya akibat perbuatan dari pamannya yang memperkosa Mina hingga mengandung dan berakhir dengan digugurkan. Namun hal itu menyebabkan infeksi fatal pada rahim Mina hingga gadis itu terpaksa harus merelakan rahimnya demi menyelamatkan nyawanya.

__ADS_1


***


__ADS_2