
"Mina, buang benda itu!" titah Galen.
"Kemari kau gadis ******!" teriak Mina tidak peduli, gadis itu sudah seperti orang yang telah kehilangan akal sehat.
Seketika itu juga Aurora merasa ketakutan yang sangat ketika Mina mulai berjalan mendekatinya, dia menghawatirkan keselamatan dirinya terlebih kandungannya.
Namun beruntung Galen segera menyusul langkah Mina, menahan gadis itu untuk mendekati Aurora.
"Keluar dari kamarku!" teriak Galen. Dia masih mencoba menahan Mina disana.
Tubuh Aurora sejenak terasa membeku ketika melihat Mina yang terlihat serius ingin menyerangnya.
"Aurora, bergegaslah!" lagi-lagi teriakan Galen terdengar, lelaki itu tampaknya sudah mulai kualahan.
Aurora tersentak. Dengan langkah tak pasti gadis itu segera pergi meninggalkan kamar besar Galen.
"Lepaskan aku, Galen! Lepas!" berontak Mina.
"Mina, dengar! Ibu tidak akan memaafkanmu jika sampai kau melukai Aurora. Lampiaskan saja semuanya padaku karena ini adalah salahku!"
***
"Bibi, apa kuenya enak?" tanya Mark menunjuk kue tiramisu disana.
"Semuanya enak, Mark. Sudah makan saja dan lupakan kejadian saat kau bersama Aurora tadi, anggap saja itu sebagai rejeki agar pasanganmu bisa segera hamil juga." jawab Sarah.
"Tapi, Bi.. aku 'kan belum menikah." balas Mark.
"Kalau begitu bergegaslah.. adik perempuanmu bahkan sudah hampir punya dua anak."
"Doakan saja, Bi.."
"Tentu saja, aku akan doakan semoga kali ini gadis itu benar-benar jodohmu." balas Sarah.
Mark segera mengamini dalam hati. Dia hampir mengambil kue tiramisu ketika melihat Aurora yang tampak buru-buru turun dari tangga.
"Ceroboh sekali gadis itu. Apa dia lupa jika sedang hamil?" gumam Mark yang tak jadi mengambil kue tiramisu namun justru pergi menghampiri Aurora disana.
"Hei, kau iniㅡ"
"Mark, tolong antar aku pulang sekarang juga!" sela Aurora dengan wajah panik.
Mark bisa menemukan raut wajah Aurora yang tampak ketakutan.
Bagaimanapun juga dokter sudah mewanti-wanti agar Aurora benar-benar menjaga kandungannya. Keberadaan Mina membuat Aurora merasa tidak aman berada disini.
"Kenapa buru-buru? Kauㅡ" Mark belum selesai dengan ucapannya ketika menemukan Mina yang tiba-tiba datang dan kembali mendorong tubuh Aurora dengan kasar.
Beruntung Mark dengan sigap menahan tubuh kurus Aurora hingga tak sampai terjatuh, dia bahkan sudah melindungi Aurora dibelakang tubuh tingginya.
Mark hampir protes namun melihat Mina yang hampir menyerang Aurora kembali membuat Mark secara reflek balas mendorong Mina hingga gadis itu jatuh tersungkur.
__ADS_1
Suasana ruangan itu seketika berubah ricuh. Semua orang yang berada disana fokus melihat apa yang sedang terjadi bahkan Sarah dengan segera datang menghampiri dan membantu Mina untuk berdiri.
"Apa yang kau lakukan, Mark?!" teriak Galen yang baru datang menyusul setelah menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Mark bisa melihat lengan sahabatnya itu yang tampak terluka namun dengan sengaja Galen menutupinya.
Sepertinya Mina sudah berulah lagi.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sarah pada Mina namun gadis itu diem tak menjawab.
Mina hanya menatap Mark dan Aurora penuh benci.
Mark balas menatap Galen tajam. "Menurutmu apa?!"
"Jangan bersikap kasar terhadap seorang wanita!" balas Galen tak terima.
Si bodoh ini!
Dia bahkan sudah dicelakai tapi masih memberikan pembelaan. Dasar budak cinta level mengenaskan!
"Jika aku tidak mendorongnya dia mungkin sudah membuat Aurora terjatuh!" balas Mark tak mau kalah.
Galen terdiam.
"Kau marah karena aku mendorongnya tapi diam saja saat Mina hampir mendorong Aurora bahkan mencelakaimu. Lenganmu yang terluka itu pasti karena ulah Mina 'kan?" ucap Mark buka rahasia.
Sarah segera beralih menatap Galen, dia melihat lengan putranya yang sengaja dibalut dengan sebuah kaos untuk menutupi luka panjang akibat goresan gunting yang tak sengaja Mina berikan saat mereka saling berebut tadi.
"Pergilah ke klinik. Ibu akan menyusulmu sebentar lagi." titah Sarah mendorong pelan tubuh Galen untuk segera pergi.
"Aku baik-baik saja, Bu. Ini hanya luka ringan." balas Galen.
"Turuti saja permintaan ibumu ini! Jangan membuatku terus menerus merasa khawatir!" teriak Sarah sudah hampir menangis.
Pernikahan mereka sudah didepan mata namun malah ada kejadian mengejutkan seperti ini.
"Jika Mina terjatuh akibat dorongan dariku, dia mungkin hanya akan mengalami luka ringan. Tapi lain ceritanya jika itu adalah Aurora." ucap Mark sengaja menggantungkan kalimatnya.
Dia bisa melihat Galen sudah memberikan kode agar Mark tidak nekat untuk meneruskan pembicaraan ini. Namun nyatanya Mark tidak peduli.
"Galen.. apa kau memang berniat untuk membunuh darah dagingmu sendiri?" lanjut Mark tanpa perasaan ragu sedikitpun.
Galen hanya bisa memejamkan kedua matanya erat. Tamat sudah riwayatnya!
Sementara Sarah menganga tidak percaya mendengar ucapan Mark barusan. Seseorang yang membuatnya penasaran mengenai siapa ayah dari bayi yang Aurora kandung ternyata adalah putranya sendiri.
"Hentikan omong kosong ini! Yang ada didalam kandungan gadis murahan itu hanyalah bayi haram!" teriak Mina.
Mina tersentak ketika Sarah yang berdiri disebelahnya tiba-tiba memberikan tatapan tajam padanya.
"Apa kau baru saja menyebut keturunan Handoko sebagai bayi haram?!!" sentak Sarah tampak tak terima.
__ADS_1
Baru kali ini Mina melihat kemarahan calon ibu mertuanya.
***
Ruang keluarga..
18:04
Satu tamparan telah dilayangkan dengan keras oleh kepala rumah tangga keluarga Handoko.
Kendati demikian tampaknya nyali Galen tak juga menciut.
"Kau tau apa itu artinya tanggung jawab?! Sejak dahulu kala keluarga besar kita terkenal dengan sikap menjunjung tinggi sebuah tanggung jawab!" ucap Juniar.
Pada saat kejadian berlangsung Juniar tengah berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Mendengar kabar mengejutkan tersebut dengan segera Juniar bergegas pulang.
Tadinya juga ada Mina dan Hani disini namun Mina terus menerus histeris hingga membuat Aurora merasa stres. Hani pada akhirnya memutuskan untuk membawa Mina pulang, menyerahkan segala keputusan kepada pihak keluarga Handoko.
"Aku tidak mencintai dia! Perasaanku tetap sama, aku hanya mencintai Mina." ucap Galen.
Dia telah mendapatkan perawatan pada luka gores dilengannya dan pulang dari klinik tak lama setelah Juniar tiba di rumah.
Bahkan setelah Galen mendengar cerita sebenarnya tentang masa lalu Mina yang begitu kelam, dia masih sangat yakin jika hatinya tak akan goyah!
"Apa cinta masih begitu penting bagimu untuk saat ini? Ini mengenai sikapmu sebagai seorang laki-laki. Kau calon pemimpin rumah tangga dan juga calon seorang ayah. Apa kau tega membiarkan anak itu kelak tumbuh tanpa orang tua yang lengkap?!" tanya Juniar.
"Ayahㅡ"
"Sudahlah.. aku tidak mau mendengar alasanmu lagi!" sela Juniar.
Sarah berjalan mendekat, berusaha menenangkan Galen disana.
"Galen, dengarkan perkataan ayahmu." ucap Sarah dengan lembut.
"Bu, akuㅡ"
Galen kehilangan kata-kata.
Dia bahkan tak bisa mengeluarkan sebuah kalimat meskipun sebenarnya banyak sekali hal yang ingin Galen sampaikan.
"Pernikahanmu dengan Mina secara resmi telah dibatalkan." ucap Juniar dengan tegas.
Galen terdiam.
Sudah bisa menebak konsekuensi yang akan dia terima akibat dari kejadian tadi.
"Sebagai gantinya pernikahanmu dengan Aurora akan kami percepat."
Itu sudah menjadi keputusan final dari Juniar.
***
__ADS_1