
"Jika kau tau mencintai seorang diri itu rasanya menyakitkan, mengapa kau tidak pergi untuk mencari orang lain yang lebih bisa menghargai perasaan tulusmu itu?" tanya Galen ingin tau.
"Karena aku tidak bisa." gumam Aurora. "Aku tidak bisa melakukannya kecuali pada dirimu."
"Maaf, jawabanku tetap sama, kita tidakㅡ"
Aurora reflek meremas tangan Galen sembari mengeluh pelan sementara sebelah tangannya memegang perutnya sendiri.
Galen yang terkejut segera menoleh, menatap gadis itu. "Kenapa?"
Aurora menggeleng pelan dan mulai melepaskan tangan Galen dari genggamannya. "Tidak apa-apa, aku hanya sedikit merasa terkejut karena dia baru saja bergerak."
"Apa itu terasa sakit?" tanya Galen penasaran.
"Sebentar.." gadis itu mengusap lembut perutnya yang sudah membuncit meskipun belum terlalu besar, gerakan Alexandra junior didalam baru saja berakhir, membuat Aurora bisa menghela nafas lega.
"Tidak, namun cukup membuatku terdiam beberapa saat sembari menikmati tubuh mungilnya yang seolah-olah tengah berputar-putar didalam sana. Mungkin akan terasa sedikit sakit dan tidak nyaman saat usianya semakin bertambah, Briella bilang itu wajar, sakitnya hanya sementara setelah itu semuanya akan kembali normal seperti semula." jelas Aurora.
Setelah penjelasan panjang yang Aurora berikan, Galen tidak lagi bicara ataupun mengajukan pertanyaan lainnya, jadi Aurora pikir mungkin saja Galen memang tidak tertarik akan pembicaraan mengenai calon bayinya.
"Kalau kau sudah mau pergi, tolong matikan lampunya. Aku akan pergi tidur sekarang." ucap Aurora.
Aurora menarik selimut dibawah kakinya dan mengenakannya, dia mengambil posisi tidur membelakangi Galen.
Cukup lama waktu telah berlalu, namun Aurora belum juga merasakan Galen yang beranjak dari atas ranjang.
"Aurora.."
Dan benar saja, lelaki itu masih ada disana.
"Hm?" Aurora menggumam tanpa menoleh.
"Aku penasaran."
"Soal apa?"
"Dia.."
Aurora mengernyit heran.
"Bolehkah aku menyentuhnya?" tanya Galen.
Aurora diam tak menjawab, dia mengerti dengan baik jika yang tengah Galen bicarakan adalah calon bayinya.
Diamnya Aurora membuat Galen mendekat. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh permukaan perut Aurora yang hingga kini belum merubah posisinya berbaring.
Hanya gerakan yang teramat lembut yang Galen berikan, terkesan hati-hati namun efeknya sungguh luar biasa.
Aurora merasakan dadanya berdesir, menimbulkan sensasi geli yang menyenangkan.
"Dia tidak bergerak." suara Galen terdengar begitu dekat dibelakang tubuh Aurora.
__ADS_1
Bahkan jarak diantara mereka tampaknya telah terhapus. Terbukti dari Aurora yang bisa merasakan dada bidang suaminya itu tengah berada tepat dibelakang punggungnya.
"Coba kau gerakan tanganmu sedikit kebawah." ucap Aurora sembari menahan nafas karena terlalu gugup berada dijarak sedekat ini dengan Galen.
"Dimana? Disini?" kendati sudah berpindah, Galen masih saja menempatkan tangannya diposisi yang salah.
"Bukan."
Aurora meraih tangan lelaki itu dengan gerakan kaku, menggerakkannya secara perlahan diatas perutnya sendiri.
"Disini. Agak sebelah kanan. Jika malam tiba, dia lebih dominan bergerak disebelah sini."
Mereka menunggu beberapa saat untuk menunggu momen bayinya bergerak.
"Nah, baru saja! Apa kau merasakannya." tanya Aurora dengan antusias.
Galen tampak ragu. "Yang itu tadi?" tanyanya tak yakin.
"Iya. Kau bisa merasakannya 'kan?"
"Entahlah, aku tidak yakin. Itu hanya seperti gerakan samar." balas Galen.
"Memang seperti itu, dia 'kan masih kurang dari lima bulan. Nanti juga akan semakin terasa jika dia sudah tumbuh semakin besar." jelas Aurora.
Wonwoo mengangguk mengerti kemudian menarik tangannya dari permukaan perut Aurora.
Aurora menggantinya dengan tangannya sendiri, mengusap perutnya dengan penuh rasa sayang.
Mengetahui Aurora yang memberikan nama panggilan bayinya 'Alexandra junior' sebenarnya Galen merasa sedikit terusik.
Namun dia segera menyadarkan dirinya sendiri jika sejak awal dia sendiri juga yang selalu berkata tidak menginginkan kehadiran bayi itu.
***
Sudah sejak beberapa saat yang lalu, Galen ingin mengakhiri hubungan bersama dengan Mina. Alasannya bukan karena adanya Aurora atau mungkin calon bayinya, tapi murni keinginan dari dalam diri Galen sendiri.
Ini demi kebaikan mereka berdua, Galen merasa dia sudah banyak sekali mengecewakan Mina. Membuat perasaan gadis itu terluka.
Namun Mina memilih untuk bertahan. Mempercayai jika dia dan Galen akan bersatu suatu hari nanti kemudian hidup dengan bahagia bersama, selamanya..
Malam itu, setelah pulang dari menikmati suasana pegunungan, Galen yang merasa lelah justru ketiduran. Dia tidak menepati janjinya untuk pergi ke apartemen Mina.
Esok paginya Galen segera dilanda panik saat dia melihat ponselnya yang telah penuh dengan pesan dan panggilan masuk dari Mina.
Gadis itu menggunakan cara lamanya untuk membuat Galen merasa bersalah. Saat Galen datang dia bisa menemukan lengan Mina yang penuh dengan sayatan baru.
Mina menganggap jika Galen telah berubah, dia lebih memilih untuk menemani Aurora di rumah dan mengingkari janjinya, padahal kenyataan yang ada Galen benar-benar ketiduran akibat kelelahan.
Saat melihat Galen sudah merasa menyesal, Mina dengan segera akan memberikan maaf pada tunangannya tersebut dengan janji jika Galen tidak akan mengulanginya lagi lain kali.
Apartemen Mina..
__ADS_1
10:32
"Selamat datang.. aku baru saja selesai memasak makanan favoritmu. Ayo kita makan bersama." ajak Mina menggandeng tangan Galen untuk pergi ke meja makan.
Sudah tertata rapi dua mangkuk berisi sup cream disana dan juga dua gelas jus jeruk yang terlihat segar.
"Sayang, makanlah.. aku harap kau menyukai masakanku ini." ucap Mina dengan senyum mengembang.
Galen mulai mencicipi masakan Mina.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Mina penuh harap.
Galen mengangguk. "Seperti biasa, kau ahli dalam membuat makanan favoritku." jawabnya.
"Kalau begitu habiskan ya?"
"Iya." balas Galen singkat.
Selama makan, Galen lebih banyak diam, hanya sesekali menanggapi ucapan Mina.
"Mina.."
"Ya?"
"Terima kasih atas makanannya."
Mina tersenyum. "Sama-sama."
"Aku akan membantumu mencuci mangkuk dan gelas kotornya." Galen menawarkan diri.
"Kalau begitu aku yang akan membersihkan dapur." ucap Mina membagi tugas.
Galen mengangguk setuju.
Mina selesai lebih cepat dan memberikan hadiah pada Galen berupa apel kupas, dia membawanya ke ruang tengah dimana Galen sudah menunggu kedatangannya disana sembari menonton siaran televisi.
"Sayang, ini apelnya." ucap Mina menaruh apel kupas itu di meja.
Gadis itu kemudian mengambil posisi duduk didekat Galen.
"Sayang.." panggil Mina.
"Ya?"
"Aku merasa senang karena tidak lama lagi kita akan kembali bersatu lagi." ucap Mina.
Galen hanya diam.
"Kejadian kemarin, segala kekacauan yang telah terjadi akan aku anggap sebagai cobaan untuk kita berdua sebelum meraih suatu kebahagiaan yang besar. Aku tidak akan menaruh rasa dendam pada Aurora. Aku sudah mencoba untuk mengikhlaskan kesalahan yang pernah terjadi diantara kau dan dia. Hanya berjanjilah satu hal padaku, setelah ini jaga hatimu hanya untuk aku seorang. Kau mengerti, sayang?"
***
__ADS_1