
Galen sudah mendelik tak percaya mendengar itu, Aurora seperti sengaja ingin membongkar semuanya dihadapan Sarah.
"Bayi?! Kau hamil?" pekik Sarah.
Aurora mengangguk dengan nasi yang masih memenuhi mulutnya.
"Galen, apa tadi kau sudah ijin ke suaminya saat hendak membawa Aurora pergi?" tanya Sarah dengan segera.
"I-ituㅡ"
"Tenang saja, Bu.. Galen tidak perlu melakukannya karena aku tidak memiliki suami." sela Aurora.
"Apa maksudmu?" tanya Sarah tak mengerti.
"Lelaki itu tidak mau bertanggung jawab setelah mengetahui aku hamil, sekalipun kejadian malam itu terjadi dengan tidak di sengaja." jawab Aurora santai sementara Galen sudah memberikan kode agar gadis itu diam namun tentu saja Aurora tidak akan menuruti permintaan Galen.
"Astaga, kejam sekali! Maaf jika aku lancang, kalau boleh tau, apakah lelaki itu pacarmu?" tanya Sarah lagi.
"Bukan. Sekalipun dia bukan pacarku tapi dia sudah membuatku mengandung benihnya."
Sarah menghela nafas panjang. "Kau pasti merasa kesulitan." ucapnya prihatin.
"Ibu pasti tau bagaimana rasanya karena sudah pernah mengandung." balas Aurora.
Sarah mengangguk mengerti.
"Yakinlah.. kau pasti akan menemukan kebahagiaan suatu hari nanti."
Tangan Sarah terulur menyentuh lembut perut Aurora yang masih terlihat rata. Aurora terkejut karena tiba-tiba saja mendapatkan perlakuan seperti itu, dia beralih menatap Sarah disana. Sarah memberikan senyuman hangat dan terasa begitu teduh.
Tanpa sadar air mata Aurora jatuh menetes.
***
"Aku sangat menyukai desainnya. Menurutmu bagaimana?" tanya Mina sembari memperhatikan undangan pernikahan mereka yang baru dikirim lagi ini.
"Aku juga menyukainya." balas Galen lengkap dengan senyuman.
"Tidak terasa ya? Tinggal sebentar lagi. Aku sudah tidak sabar ingin segera menjalani kehidupan pernikahan yang indah denganmu."
"Aku juga, Mina."
Aroma kue bolu yang tengah Mina panggang didalam oven wanginya mulai menguar keseluruhan ruangan apartemen.
"Sepertinya kuenya sudah matang. Aku akan melihatnya sebentar." ucap Mina sebelum bergegas menuju ke dapur.
Galen menjawab dengan anggukan singkat. Menatap kosong pada tumpukan undangan mereka disana.
Galen bahkan sampai tidak menyadari kehadiran calon ibu mertuanya disana, sebelum wanita itu memanggil nama Galen berulang kali.
"Astaga, sebenarnya apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Hani.
"Bukan apa-apa, Bu." balas Galen merasa tak enak sendiri.
__ADS_1
"Dimana Mina?"
"Di dapur."
"Apa anak itu sedang membuat kue?"
Galen mengangguk pelan.
"Apa ini?" Hani meraih satu undangan yang kemudian mengamatinya dengan seksama.
"Itu undangan pernikahan kami yang baru datang pagi ini." balas Galen.
"Kalian akan tetap menikah di tanggal tersebut?"
"Apa maksud ibu? Tentu saja kami akan menikah." ucap Galen tak mengerti.
Hani meletakkan kembali undangan tersebut ketempat asalnya.
"Nasib gadis itu bagaimana pada akhirnya?"
Tentu saja Galen tak bodoh untuk mengerti gadis yang Hani maksud adalah Aurora.
"Aku sudah mencoba menuruti permintaan ibu dan Mina."
"Jadi kau sudah bicara pada kedua orang tuamu?" tanya Hani penasaran.
"Apa?" Galen merasa mereka benar-benar tak nyambung kali ini.
"Masalah gadis itu. Ibu tidak bisa menyampaikan secara langsung padamu saat itu karena pikiran ibu sangat kacau. Jadi ketika sudah menemukan jalan tengahnya, ibu menyampaikan hal tersebut pada Mina untuk bisa kalian bicarakan berdua. Mina sudah menyampaikannya padamu 'kan?"
"Tapi, Bu.. aku rasa tidak akan baik jadinya jika hal ini sampai terdengar oleh kedua orang tuaku."
"Apa maksudmu? Tentu saja ayah dan ibumu harus tau."
"Tidak bisakah ini hanya menjadi rahasia kita bertiga?" tanya Galen penuh harap.
"Bagaimana bisa? Setelah bayi itu lahir kalian akan mulai merawatnya bersama-sama. Jika ayah dan ibumu mendadak tau, menurutmu bagaimana reaksi mereka nantinya?" Hani balas bertanya dengan sedikit rasa kesal karena merasa Galen sangat susah untuk diajak bekerja sama.
Padahal saran yang Hani berikan adalah yang terbaik untuk mereka semua.
"Bu.." panggil Galen.
"Ya?"
"Aku rasa telah terjadi kesalahpahaman disini."
"Salah paham apalagi?" tanya Hani tak mengerti.
"Mina mengatakan padaku jika ibu meminta agar bayinya digugurkan saja." jawab Galen dengan hati-hati.
"Apa?!!"
Ditengah rasa terkejut Hani, mereka bisa melihat kehadiran Mina disana. Menatap Hani dan Galen dengan penuh amarah.
__ADS_1
***
Semua tampak kacau saat emosi mulai menguasai Mina. Beberapa perabotan jatuh tak beraturan juga pecah belah akibat perbuatan gadis itu.
Mina menangis histeris. Berusaha melukai dirinya sendiri, sementara Galen berusaha mencegah gadis itu.
"Ibu tidak pernah mengajarimu sebagai seorang pembunuh!"
"Diam!! Aku tidak ingin mendengar kata-kata ibu!" teriak Mina geram.
"Apa maksudmu dengan menggugurkannya? Dimana kau letakkan otakmu itu?!!"
"Hentikan!!"
Mina hampir meraih pecahan vas bunga didekat kakinya namun secepat kilat Galen mencegahnya, membawa Mina kedalam pelukan erat sembari mengucapkan beberapa kalimat penenang.
"Bu, sudahlah.. kita bisa menunggu Mina hingga merasa tenang." pinta Galen dengan sangat.
Karena melawan Mina yang sedang emosi adalah hal yang membuat Galen menjadi kualahan.
"Kau pikir hal itu akan bekerja padanya? Sudah berapa tahun kau mengenal Mina?!! Apakah dengan membiarkannya dia bisa berubah? Justru dengan mengalah hanya akan membuat Mina semakin menjadi-jadi. Kemarilah! Akan aku tunjukkan padamu cara yang benar untuk mendidik gadis ini."
Hani menarik Mina dari pelukan Galen dengan kasar, mereka memasuki kamar mandi dan membiarkan shower menyala dengan deras sembari membasahi tubuh Mina hingga basah kuyup.
"Ibu!" teriak Galen merasa khawatir.
Karena keadaan Mina yang seperti ini, di mata Galen dia hanyalah seorang gadis rapuh yang membutuhkan banyak dukungan untuk tetap memiliki semangat hidup.
Tapi Hani justru memperlakukan Mina dengan begitu kasar.
"Diamlah! Dia tidak akan mati hanya karena hal seperti ini!" balas Hani masih terlihat geram.
Galen sangat terkejut mendengar ucapan tersebut lancar keluar dari bibir calon mertuanya.
"Tapi, Buㅡ"
"Apa kau tidak merasa lelah terus menerus harus mengikuti keinginan Mina?" sela Hani.
"Kau seorang laki-laki, jangan semudah itu menjadi luluh hanya karena sudah melihat sedikit kelemahan wanita! Seharusnya kau bisa membimbing Mina, nyatanya aku keliru! Sejak mengenalmu sifat anak ini semakin menjadi-jadi."
Hani menatap Mina yang masih berada dibawah guyuran air shower.
"Renungkan semua perbuatmu itu! Setelah kau menyadari seluruh kesalahanmu, kau baru boleh keluar dari sini. Kau mengerti Mina?"
Galen tidak pernah menyangka akan melihat anggukan kepala samar itu sebagai jawaban dari tunangannya.
Dia pikir Mina akan semakin marah dan memberontak. Kembali meraih benda tajam disekitarnya dan melukai dirinya sendiri kemudian berakhir di ranjang rumah sakit.
Setidaknya seperti itu lah pikiran Galen, namun nyatanya semua tidak terjadi. Mina menjadi begitu penurut dihadapan Hani.
"Ayo kita pergi dari sini! Aku perlu menanyakan banyak hal padamu." ucap Hani sebelum pergi meninggalkan Mina sendirian di kamar mandi.
Galen mengangguk singkat.
__ADS_1
***