Aroma Hujan

Aroma Hujan
Kebingungan


__ADS_3

"Bagaimana ceritanya kau bisa tau?" tanya Aurora penasaran.


"Jika kau benar-benar mengenalku maka kau bisa mengerti jika aku ini sosok lelaki yang peka. Aku menaruh banyak rasa curiga pada Mina, apa kau tau ancaman untuk melukai dirinya sendiri tidak lagi bekerja seratus persen pada Galen. Itu sebabnya saat Galen memutuskan untuk mengakhiri hubungan diantara mereka, Mina membutuhkan waktu kurang dari seminggu untuk menemukan ide baru yang bisa menarik Galen kedalam pelukannya kembali. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal sejauh ini, yaitu pura-pura hamil anak dari Galen." jelas Austin panjang.


"Dia juga mengaku di hadapanmu tentang kehamilan palsu itu?"


"Tentu saja tidak. Aku mencari tau sendiri lewat ibu kandungnya secara tidak langsung, kebetulan Mark punya nomer telpon bibi Hani. Aku menghubunginya, memberitahu kabar jika Galen dan Mina akan segera menikah, membujuk wanita itu agar mau datang dan memberikan restu. Tapi ternyata aku malah mendapatkan banyak sekali informasi dari bibi Hani. Hal ini sangat diluar dugaan."


"Informasi apa?" tanya Aurora ingin sekali tau.


"Mengenai kabar pernikahan Galen dan Mina yang akan segera digelar, itu artinya kau dan Galen telah setuju untuk bercerai dan memberikan hak asuh anak kalian pada Galen seperti perjanjian diawal dahulu. Bibi Hani juga berharap agar Mina bisa menyayangi anakmu seperti anaknya sendiri, ucapan bibi Hani benar-benar mengusik rasa penasaranku. Mengapa bibi Hani bersikeras agar Mina bisa menyayangi bayimu sementara dia memiliki peluang untuk memiliki anak bersama Galen?"


Aurora mengangguk paham dan setuju.


"Tapi ternyata ada alasan pahit dibalik itu semua." lanjut Austin.


"Apa?"


"Mina tidak mungkin hamil, bahkan untuk saat ini sudah bisa dipastikan jika dia hanyalah membuat omong kosong."


"Apa maksudmu?"


"Gadis itu sudah tidak memiliki rahim lagi. Jadi mustahil baginya untuk bisa mengandung seorang bayi." jawab Austin.


Aurora menganga tidak percaya, ini adalah sebuah fakta baru yang terungkap karena yang Aurora tau Mina hanya sekedar berpura-pura hamil saja.


"Jujur saja, Aurora.. aku prihatin pada Mina tapi untuk saat ini aku akan terus melawannya sampai dia menyadari jika perbuatannya adalah salah, tapi nanti saat semuanya sudah terbongkar dan telah bersedia untuk mengakui kesalahannya, aku akan pergi untuk menghiburnya persis seperti yang aku lakukan padamu saat ini." ucap Austin.


Tidak heran, Austin sebenarnya memang memiliki hati yang baik.


Pikiran Aurora kemudian menerawang jauh. Banyak hal yang berkecamuk didalam hatinya. Sosok Mina yang selalu dia pandang kejam itu, kini berubah menjadi sosok gadis yang malang.


Kini Aurora tau berapa besar cinta Mina pada Galen, dia bahkan rela berpura-pura hamil untuk bisa mengikat kembali lelaki itu kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Menurutmu bagaimana perasaan Galen saat dia tau kenyataan yang sebenarnya?" gumam Aurora tiba-tiba teringat pada sosok suaminya itu.-


Austin segera menggeleng. "Entahlah.."


"Gadis itu benar-benar malang sekali."


Austin mengangguk setuju. "Aku serius mengatakan akan datang pada Mina saat gadis itu telah berniat untuk bertaubat."


"Lalu kau akan pergi meninggalkan begitu saja aku dan berpaling pada Mina? Apa kau memiliki peran sebagai ibu peri?" protes Aurora.


Tidak bisa dipungkiri, sosok Austin telah menjadi bagian dari hidup Aurora.


"Aku akan mengunjungimu sesekali saat Mina sudah merasa baikan. Bagaimana? Terdengar cukup adil 'kan?" balas Austin.


"Kau ini kejam juga ya ternyata." jawab Aurora kesal.


"Kau juga jangan serakah!" ejek Austin main-main.


"Serakah apanya?" tanya Aurora tidak terima.


"Tidak mungkin. Lagipula semuanya sudah terlambat." ucap Aurora dengan raut wajah sedih.


"Tidak ada kata terlambat dan selalu ada kesempatan untuk menerima kembali selagi kau masih bersedia untuk membuka hatimu." Austin memberikan nasehat pada Aurora.


Aurora terdiam tak menjawab.


"Aku tidak menuntut jawaban darimu, kau pertimbangkan saja sendiri nanti ketika saatnya telah tiba. Lebih memilih hidup dengan Galen atau bahkan tetap pada rencana awal untuk bercerai. Semua keputusan ada ditanganmu, kau berhak penuh untuk menentukannya." ucap Austin mengakhiri obrolan mereka.


***


Galen telah menghadapi kebingungan setelah mendengar cerita Hani mengenai Mina.


Galen tidak tau, bagaimana caranya dia bisa bertemu serta menuntut penjelasan dari Mina setelah ini.

__ADS_1


Namun satu hal yang pasti dia baru saja menemukan fakta jika Aurora bukan gadis pembual seperti anggapan Galen selama ini.


"Mina datang menemuiku di butik. Mengatakan jika dia akan membuat situasi seolah-olah aku sudah membunuh bayi kalian. Aku begitu ketakutan hanya dengan membayangkan segala kebencian yang akan segera aku terima." ucap Aurora dengan raut wajah yang terlihat tidak nyaman karena teringat kembali dengan kunjungan Mina hari itu.


Aurora tidak tau angin apa yang sudah membawa Galen datang kemari bahkan setelah Aurora mengatakan jika dia tidak ingin terlibat lagi dengan lelaki itu.


Aurora bisa melihat ada sesuatu yang tengah mengusik Galen namun untuk bertanya dia bahkan tak berminat.


"Maaf.." gumam Galen.


Aurora segera memberikan tatapan tak percaya pada lelaki itu. Mengapa secara tiba-tiba Galen meminta maaf padanya? Setelah kemarin dia bahkan masih saja terus berpihak Mina dan tak segan-segan untuk memojokkan Aurora.


"Kau meminta maaf untuk hal apa?" tanya Aurora penasaran.


"Karena aku sudah menutup mata untuk mempercayaimu." jawab Galen.


Lelaki itu sangat menaruh kepercayaan besar terhadap Mina, namun mempertimbangkan ucapan Hani yang tidak mungkin mengungkapkan kebohongan. Galen tidak tau dia harus percaya pada siapa, namun yang jelas hatinya menuntut untuk meminta maaf terlebih dahulu pada Aurora.


Karena terlepas dari semua masalah itu, Galen sudah terlalu sering menyakiti perasaan istrinya tersebut.


Aurora mengangguk, memberi maaf pada Galen dengan begitu mudah. Lagipula sebentar lagi dia akan segera pergi meninggalkan negara ini, memaafkan mungkin bisa membuat perasaan Aurora bisa menjadi lebih tenang dan tak lagi menaruh dendam terhadap calon mantan suami tersebut.


"Terima kasih, Aurora.." ucap Galen.


"Sama-sama."


"Kapan kau bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Galen.


"Besok pagi.. Austin sudah bertanya pada dokter tadi." jawab Aurora.


Galen tersenyum samar, ada rasa segan untuk mengobrol dengan santai bersama sang istri, karena selama ini Galen bagaikan orang yang tak tau diri.


Mudah kembali, mudah pula meninggalkan.. karena dulu Aurora tak pernah memberikan batasan juga penegasan.

__ADS_1


***


__ADS_2