Aroma Hujan

Aroma Hujan
Seekor beruang putih


__ADS_3

"Kaki anda terluka, sepertinya anda harus bergegas pergi ke rumah sakit." ucap Aurora melihat kaki Sarah yang tampak memar.


"Tapi belanjaanku? Aku belum selesai."


"Dimana?"


"Di kasir sebelah sana." tunjuk Sarah.


"Tunggulah disini, sementara saya akan mengambilnya." Aurora segera pergi ke kasir yang Sarah maksud.


"Astaga, aku lupa memberikan kartuku padanya untuk membayar belanjaan itu." gumam Sarah.


Beberapa saat kemudian, Aurora menghampiri Sarah dengan troli yang berisi penuh dengan bahan makanan yang sudah dimasukkan kedalam beberapa kantong belanja.


"Kau pasti sudah membayar semuanya 'kan? Berikan struknya padaku, aku akan mengganti uangnya." pinta Sarah.


"Nanti saja. Untuk saat ini kondisi kaki anda yang lebih penting. Jika kita tidak pergi ke rumah sakit sekarang juga kaki anda akan semakin membengkak."


Seorang petugas supermarket datang membantu membawakan troli belanjaan Sarah sementara Aurora memapah Sarah keluar dari area supermarket.


"Apakah anda membawa mobil?" tanya Aurora.


"Ya. Tapi sepertinya Mina sudah membawanya pergi." jawab Sarah.


"Mina?" gumam Aurora, sebuah nama yang tak asing bagi telinganya.


"Dia calon menantuku."


Persetan dengan Mina!


Lagipula di dunia ini yang namanya Mina tidak hanya satu.


"Kalau begitu kita pergi dengan mobilku saja." putus Aurora pada akhirnya.


Sarah mengangguk setuju. Sudah tidak tahan dengan nyeri yang semakin menjalar dipergelangan kakinya.


***


Selama menunggu Sarah ditangani oleh dokter, Aurora duduk di kursi tunggu sembari mengusap lembut perutnya.


Terasa sedikit kram.


Aurora beberapa kali memapah Sarah juga membantu petugas supermarket untuk memindahkan barang belanjaan Sarah kedalam bagasi mobilnya. Sungguh melelahkan sekali!


Tidak lama kemudian Sarah sudah keluar dari ruang tindakan. Sudah tampak jauh lebih baik, bisa berjalan sendiri sekalipun terlihat masih agak sedikit pincang.


"Ternyata kau masih disini." ucap Sarah begitu menemukan Aurora disana.


"Saya menunggu anda karena merasa khawatir." balas Aurora, dia mengeluarkan sesuatu dari sebuah tas karton yang dibawanya.


Sebuah sandal tanpa hak dengan permukaan yang empuk.


"Untuk sementara jangan menggunakan sepatu hak tinggi terlebih dahulu."


"Kau bahkan membelikan sandal ini untukku?" tanya Sarah tak percaya. "Aku benar-benar sangat merepotkanmu."


"Tidak. Saya hanya teringat membawanya didalam mobil, jadi saya pergi untuk mengambilnya agar bisa anda kenakan."


"Ah, begitu rupanya. Terima kasih ya atas bantuannya." Sarah segera mengganti sepatu hak tinggi miliknya dengan sandal pemberian Aurora.

__ADS_1


"Kau banyak sekali membantuku hari ini."


"Tidak perlu merasa sungkan."


Mereka berjalan sepanjang lorong rumah sakit dengan saling mengobrol. Aurora dengan sabar mengikuti langkah pelan dan hati-hati Sarah agar tetap beriringan.


"Kau sungguh baik sekali." puji Sarah untuk kesekian kalinya.


"Melihat anda mengingatkan saya pada sosok mendiang ibu saya." balas Aurora jujur.


"Ah, aku turut berduka cita atas kepergian ibumu."


Aurora membalas ucapan Sarah dengan senyuman tipis.


"Dimana alamat rumah anda? Saya akan mengantarkan anda pulang." ucap Aurora menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, aku sudah cukup merepotkanmu hari ini. Lagipula aku sudah menghubungi putraku untuk menjemputku kemari. Dia mungkin masih dalam perjalanan."


"Baiklah kalau begitu.."


"Kau ini cantik dan baik hati. Seandainya aku memiliki satu anak laki-laki lagi, aku mungkin tidak akan ragu untuk memintamu menjadi calon menantuku."


Aurora tertawa ringan mendengar itu.


"Kita tunggu putraku di luar saja ya?"


Aurora mengangguk setuju.


***


"Aku tidak menyangka jika kau orangnya. Tapi terima kasih telah memberikan banyak bantuan pada ibuku hari ini." ucap Galen sembari memindahkan barang belanjaan Sarah dari dalam bagasi mobil Aurora.


"Ya."


"Ada apa? Perutmu sakit?" tanya Galen.


Dia tadi sempat melihat Aurora mengusap-usap perutnya beberapa kali, juga wajah gadis itu yang tampak pucat.


"Cepat pindahkan semuanya! Aku harus segera pergi." ucap Aurora malas menjawab pertanyaan Galen.


"Apa kita perlu masuk kedalam? Kau perlu memastikan kandunganmu baik-baik saja."


"Tidak usah sok peduli padaku!"


Aurora bergegas memindahkan belanjaan Sarah dengan cepat, namun Galen segera menangkap tangan gadis itu.


"Kau istirahat saja didalam mobil. Biar aku yang memindahkan semuanya."


Aurora tidak menjawab. Segera masuk kedalam mobilnya, beberapa saat kemudian Galen datang menghampiri, mengatakan jika dia sudah selesai. Lelaki itu mengucapkan terima kasih sekali lagi dan Aurora segera pergi dari sana setelahnya.


"Dimana gadis itu?" tanya Sarah begitu Galen memasuki mobil.


"Sudah pergi." jawab Galen.


"Pergi? Mengapa kau membiarkan dia pergi begitu saja?" tanya Sarah terlihat kesal.


"Karena kami sudah selesai memindahkan semua barang belanjaan milik ibu."


"Anak bodoh ini! Aku belum mengganti uang gadis itu." seru Sarah terlihat semakin kesal.

__ADS_1


"Uang apa?"


"Uang belanja barang-barang itu. Tadi aku buru-buru mengejar Mina sampai lupa dengan belanjaan, lalu aku terjatuh dan kakiku terkilir, gadis itu membantuku membayar semua belanjaan itu kemudian membawaku ke rumah sakit. Ah, kau ini! Aku belum bicara banyak padanya, bahkan belum tanya siapa namanya."


"Aurora.." gumam Galen pelan.


"Apa?"


"Namanya Aurora."


"Kau kenal dia?"


Galen mengangguk pelan. Mulai melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.


"Kalau begitu nanti pergilah untuk menemuinya. Ganti uangnya sekalian, juga bawakan sesuatu sebagai ucapan terima kasih."


"Iya, Bu.."


"Ah, ya.. Galen.."


"Hm?"


"Aku rasa ada sesuatu yang berbeda dengan Mina."


"Ada apa? Ibu jangan aneh-aneh!"


"Kau pikir kakiku terkilir begini karena apa? Sepertinya sudah terjadi salah paham antara aku dan Mina. Aku tidak tau, ucapan ibu yang mana yang membuat Mina tersinggung."


Galen sekedar mendengarkan tanpa banyak menanggapi karena harus konsentrasi menyetir.


"Aku hanya membahas masalah anak, meminta kalian untuk tidak menunda memiliki momongan, tapi Mina bersikap seolah-olah tidak menginginkannya."


"Bu.. bukankah anak adalah titipan? Kita tidak bisa memaksakan kehendak jika Tuhan belum mempercayai kita untuk memilikinya."


"Ibu tau, tapi tidak harus sampai mengatai ibu ini kolot dan juga konyol 'kan?"


"Mina berkata seperti itu?" tanya Galen tak percaya.


"Iya."


"Tidak mungkin." gumam Galen namun masih bisa Sarah dengar.


"Apa sekarang kau menganggap ibumu ini sebagai seorang pembohong?"


"Bukan seperti itu maksudku. Ibu mungkin saja hanya salah dengar." balas Galen.


"Sekarang bahkan secara tak langsung kau sudah mengatai ibumu ini tuli!"


Galen langsung gelagapan mendengar tuduhan Sarah. "Astaga.. tidak seperti itu maksudku."


"Anak macam apa kau ini?! Ibu akan mengadukan hal ini pada ayahmu. Kau lihat saja nanti!"


"Buㅡ"


"Apa?" sela Sarah galak.


"Tidak anak sendiri, tidak calon menantu, dua-duanya secara kompak membuatku kesal hari ini. Memangnya salah jika ibu merasa bahagia karena mimpi bertemu dengan seekor beruang putih?"


"Memangnya artinya apa?" tanya Galen penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja seorang bayi laki-laki. Dulu waktu ibu sedang mengandungmu, nenekmu yang memimpikan hal itu, mirip sekali dengan mimpi ibu kali ini."


***


__ADS_2