Aroma Hujan

Aroma Hujan
Semua tentang Galen


__ADS_3

"Brie, aku ingin makan mie instan kuah." ucap Aurora dengan tatapan memohon.


"Sebenarnya orang yang tengah hamil tidak disarankan untuk makan mie instan, tapi karena akhir-akhir ini kau susah makan jadiㅡ"


"Makan berdua bersama Galen." sambung Aurora.


Briella terdiam.


Dan juga..


Saat Sean sedang asik makan cheese corndog, Aurora menatap keponakannya itu lekat-lekat.


"Kau mau? Ini ambillah.." Briella menyodorkan satu untuk Aurora makan.


Namun Aurora menolak dengan gelengan.


"Cobalah dulu. Di jamin rasanya enak, kau pasti akan suka." bujuk Briella.


"Aku sedang tidak ingin makan itu sekarang." balas Aurora.


"Tapi ekspresimu seperti menginginkannya."


"Bukan seperti itu. Aku hanya teringat sesuatu."


"Apa?" tanya Briella penasaran.


"Galen pernah membelikan aku jajanan itu." balas Aurora dengan kedua mata yang tampak berkaca-kaca.


Dia mulai lagi. Selalu seperti itu.


"Sean, ayo kita pergi dari sini!" ajak Briella tak tahan lagi dengan sikap Aurora.


"Brie.. jangan pergi!" cegah Aurora.


Dia sedang sedih, seharusnya Briella tetap disini untuk menghiburnya. Namun Briella sudah terlanjur kesal.


Siang itu setelah mengeluh tidak ingin makan masakan Briella yang menurut Aurora memiliki aroma bawang yang kuat hingga membuatnya tak nafsu makan, Aurora dengan raut wajah kesal pergi ke taman belakang untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri.


"Astaga.. lucunya.." ucap Aurora dengan senyum cerah sembari jongkok didekat pot bunga.


Perubahan mood yang benar-benar mengerikan. Sebentar-sebentar tertawa, semenit kemudian menangis, lalu galau, kemudian tertawa lagi.


Perasaan saat dulu Briella hamil Sean tidak sebegini parahnya!


"Kau sedang apa?" tanya Briella penasaran dan seketika terkejut ketika mengetahui yang membuat Aurora tertawa barusan adalah kehadiran seekor kucing disana.


"Astaga! Bagaimana bisa kucing liar ini masuk kedalam halaman belakang rumah? Padahal pagarnya sudah setinggi itu." omel Briella.


"Brie, jangan!!"


Tidak bisa ada yang mencegah Briella mengambil sapu lantai kemudian mengusir makhluk lucu berbulu berwarna putih tersebut hingga lari kalang kabut.

__ADS_1


"Dia pergi." ucap Aurora pelan dengan ekspresi hampir menangis.


"Kau ini sedang hamil. Jangan dekat-dekat dengan kucing liar. Bahaya!" peringat Briella.


"Itu hanya mitos! Lagipula dia bukan kucing liar melainkan milik tetangga sebelah." balas Aurora tak mau kalah.


"Pokoknya aku tidak suka!"


"Tapi aku suka! Dia mengingatkan aku pada seseorang."


"Siapa? Galen?" tanya Briella asal menebak.


Dia tidak percaya ketika mendapati Aurora mengangguk membenarkan disana.


"Sama sekali tidak mirip! Yang namanya Galen adanya di rawa-rawa."


"Apa maksudmu?" tanya Aurora bingung.


"Galen bukan seekor kucing berbulu putih melainkan buaya. Buaya darat! Dan kau sudah jadi korbannya."


Kedua mata Aurora seketika berkaca-kaca mendengar ucapan Briella barusan.


"Astaga, dia mulai lagi! Aku sudah selesai denganmu, Aurora Alexandra! Pergilah! Pergilah ke kediaman Galen. Jemput laki-laki itu dan segera nikahi dia! Aku sudah tidak sanggup lagi!" ucap Briella putus asa.


***


Supermarket..


"Aku rasa kau mulai jatuh cinta pada ayah dari bayimu." celetuk Briella sembari memilih beberapa buah apel disana.


Aurora menggeleng tidak yakin. "Aku rasa itu karena pengaruh dari hormon kehamilan semata."


Aurora ikut memasukkan beberapa apel didalam kantong plastik yang tengah Briella pegang.


"Ada saat dimana aku merindukan sikap manis dan perhatiannya. Ada saat dimana aku sangat ingin bertemu dengan dia, namun tak jarang aku merasa sangat membencinya hingga ingin membunuhnya! Apa kau pikir itu bisa disebut sebagai jatuh cinta?" tanya Aurora.


"Entahlah, aku juga tidak yakin." jawab Briella yang kini sibuk memasukkan beberapa pisang kedalam troli belanja mereka.


"Rasanya jatuh cinta ituㅡaku sudah lupa bagaimana rasanya." ucap Briella.


Tawa keduanya kemudian terdengar, sebenarnya itu hal yang menyedihkan untuk bisa dijadikan sebagai bahan candaan.


Maklum saja, selera humor mereka memang agak berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya.


"Brie, aku mau strawberry."


"Mau berapa pack?" tanya Briella.


"Dua saja cukup."


Briella menuruti permintaan Aurora untuk mengambil dua pack strawberry dan menaruhnya kedalam troli.

__ADS_1


"Aku rasa belanja hari ini cukup sampai disini. Kita sudah membeli semua yang ada didaftar belanja bulanan." ucap Briella.


Aurora mengangguk setuju.


Selesai berbelanja mereka sudah berencana akan pergi ke taman kanak-kanak untuk menjemput Sean baru kemudian pulang ke rumah.


Tanpa diduga, ketika baru saja keluar dari supermarket, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Galen dan Mina, juga ada Sarah ditempat parkir, mereka tampaknya sudah hendak pergi setelah selesai berbelanja.


Aurora ingin pergi menghindar, namun Sarah lebih dulu menyadari keberadaannya yang tak jauh dari mereka.


"Aurora.." Sarah melambaikan tangan dengan senyum cerah kemudian berjalan mendekati Aurora dan Briella.


Mendengar nama yang tak asing itu, Mina dan Galen segera menoleh, keduanya secara kompak sudah menatap tak suka pada Aurora.


Mina bahkan meminta Galen untuk membawa Sarah segera pergi dari sana, namun Galen tau dia tidak mungkin bisa melakukannya, mengingat hubungan antara Sarah dan Aurora yang begitu dekat.


Bisa-bisa dia justru akan terkena omelan Sarah nantinya.


"Apa kabar? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini." ucap Sarah.


"Aku baik-baik saja, Bu." balas Aurora dengan senyum. "Ah, ya.. perkenalkan dia saudara kembarku, Briella Alexandra."


"Ah ya, salam kenal." balas Sarah yang kini tengah berjabatan dengan Briella.


"Kalian berdua sama-sama cantik." puji Sarah.


"Terima kasih." balas Briella.


"Aku pikir tidak akan bisa lagi bertemu denganmu setelah terakhir kali bertemu kemarin kau mengatakan akan pergi ke luar negeri minggu depan." ucap Sarah.


"Dokter tidak memberikan aku ijin untuk terbang karena kandunganku yang lemah. Aku sudah memutuskan untuk menetap disini hingga melahirkan dan kemudian terbang ke luar negeri setelah bayiku cukup umur." jelas Aurora.


"Itu terdengar lebih baik." balas Sarah. "Ah ya, apa kalian sedang sibuk? Mau mampir main ke rumah?"


"Kau bisa pergi. Aku akan menjemput Sean sendirian." ucap Briella.


Aurora bisa melihat Galen dan Mina yang mulai berjalan mendekat kearah mereka.


"Ibu kenapa lama sekali?" tanya Mina dengan wajah sebal yang tidak bisa lagi dia tutupi.


"Ah, ini.. ibu bertemu dengan penyelamat ibu waktu itu." balas Sarah.


Lihatlah..


Bagaimana cara Mina berpura-pura tidak mengenali Briella dan Aurora, bahkan rancangan gaun pernikahan kala itu sengaja Mina batalkan begitu saja secara sepihak.


"Ayo kita masuk kedalam mobil, Bu. Setelah ini 'kan masih ada yang harus ibu kerjakan di rumah." ajak Galen.


"Tunggu sebentar. Ibu masih ingin mengobrol sedikit lagi dengan Aurora dan Briella." balas Sarah.


"Sudah cukup 'kan bicaranya? Ayo kita pergi, Bu! Cuaca di luar sudah semakin panas, aku ingin segera masuk kedalam mobil dan pulang." ajak Mina.

__ADS_1


***


__ADS_2