Aroma Hujan

Aroma Hujan
Pengakuan Aurora


__ADS_3

Bettys cafe tea room..


17:15


Aurora tahu jika Galen sebenarnya tidak menginginkan pertemuan ini. Tapi setidaknya dia tidak menjadi pecundang dengan datang terlambat seperti ini tanpa alasan.


Atau bisa jadi dia tidak akan datang!


Entahlah..


Untuk saat ini, meskipun merasa bosan Aurora akan mencoba menunggu hingga satu jam kedepan. Karena bagaimanapun juga, lelaki itu harus mengetahui kabar ini dengan segera.


Jam sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh enam menit ketika tiba-tiba saja seseorang datang dan ikut bergabung bersama Aurora disana.


"Maaf, aku datang terlambat. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan sebelum datang kemari." ucap Galen namun Aurora enggan menanggapi lantaran sudah terlanjur sebal telah menunggu kedatangan lelaki itu cukup lama.


Galen bahkan masih sibuk dengan ponselnya, membalas beberapa pesan disana sebelum pada akhirnya menyimpan kembali ponsel itu untuk bisa sepenuhnya fokus pada Aurora.


"Jadi bagaimana? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Galen.


"Kau pasti tahu 'kan kemungkinan apa saja yang akan terjadi setelah perbuatan yang kau lakukan malam itu." jawab Aurora.


"Astaga.. sudah berapa kali aku katakan jika saat itu aku tidak dalam keadaan sadar telah melakukannya. Kita sama-sama berada dibawah pengaruh minuman beralkohol."


"Aku tidak mengungkit hal yang terjadi malam itu! Aku hanya bertanya resikonya padamu!!" tanggap Aurora sebal.


"Apa? Kehamilan? Kemungkinan itu sangat kecil sekali karena kita melakukannya hanya satu kali. Jadi mustahil!"


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini!" balas Aurora galak. "Aku baru mengetahuinya tadi pagi. Dan aku tegaskan padamu! Aku tidak sedang bercanda!"


Galen menganga tidak percaya. "K-kau hamil?"


***


Aurora tidak marah ketika Galen menuduhnya berbohong, karena ya.. tadi pagi Aurora bahkan memfitnah alat tes kehamilan itu telah berbohong.


Bagi Aurora, reaksi yang Galen tunjukkan sangat wajar.


Siapa sih yang tidak terkejut saat mengetahui dirinya sudah menghamili seorang gadis tanpa sengaja?

__ADS_1


Aurora bisa melihat raut wajah frustasi Galen hingga laki-laki itu tampak seperti orang linglung.


"Aku tidak akan memberatkan posisimu yang akan menikah dengan tunanganmu. Aku mengatakan hal ini bukan untuk memintamu bertanggung jawab. Kau juga sudah tahu jika aku tidak tertarik untuk menikah. Hanya saja, aku merasa kau punya hak untuk mengetahui keberadaan anak ini. Dia hadir juga akibat dari perbuatanmu, rasanya tidak adil jika hanya aku sendiri yang mengambil keputusan mengenai nasib anak ini."


Galen beralih menatap Aurora dengan wajah serius. "Lalu.. bagaimana rencanamu? Apa kau punya ide untuk mengatasi masalah ini?"


"Sebelum mengetahui aku hamil, aku sudah berencana akan melanjutkan pendidikanku ke luar negeri. Jadi, jika kau menginginkan anak ini, aku akan mempertahankannya hingga lahir, kemudian menyerahkannya kepadamu sepenuhnya."


Galen masih fokus mendengarkan tanpa ingin menyela.


"Namun jika tidak, kau bisa pergi untuk mencari sebuah klinik aborsi untukku."


Kedua mata Galen terbelalak mendengar ucapan terakhir Aurora. "Apa kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau berniat membunuhnya?!"


"Lantas aku harus bagaimana? Apa kau berharap aku akan bersedia mengurusnya seorang diri? Aku tidak akan sanggup! Lagipula hal seperti ini cepat atau lambat akan segera terbongkar. Kecuali kau mau pernikahanmu yang sudah didepan mata ini batal dan hancur!"


Galen segera teringat dengan Mina. Akan fatal akibatnya jika Mina sampai mendengar hal ini.


"Pokoknya jangan melakukan hal apapun sebelum aku berhasil mengambil keputusan akhir." ucap Galen.


Aurora mengangguk setuju. "Gunakan waktumu, aku akan menunggu."


***


Saudara kembarnya itu hanya bisa diam membeku ketika menemukan Aurora baru saja turun dari mobil bersama dengan Galen.


Begitu Galen pamit pulang, omelan panjang dari mulut Briella segera Aurora terima. Tak puas dengan itu, Briella bahkan sampai mengejar Aurora hingga masuk kedalam kamar. Dia 'kan hanya tidak ingin Aurora semakin memiliki kesan buruk di mata Mina.


Jika Mina sampai tahu hal ini, Briella tidak tahu bagaimana caranya dia harus membela Aurora nantinya.


"Kami hanya membicarakan masalah baju pernikahan karena klien kita kali ini cukup cerewet dengan yang namanya selera." jawab Aurora ketika Briella terus saja mendesak agar dia mau mengaku alasan dibalik mereka yang pulang bersama.


"Ya sudah.." Briella pada akhirnya memilih untuk menyerah. "Ini sudah malam, kau istirahatlah. Apa tadi kau sudah pergi ke rumah sakit?"


Aurora mengangguk singkat.


"Apa kata dokter?" tanya Briella penasaran


"Hanya kelelahan." balas Aurora.

__ADS_1


"Itu saja?"


"Ya.. secara keseluruhan aku baik-baik saja. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir."


"Baiklah.." Briella menghela nafas lega mengetahui jika tidak ada sesuatu yang buruk yang telah terjadi pada tubuh saudara kembarnya itu. "Jika besok pagi kau belum merasa sehat jangan pergi ke butik terlebih dahulu."


"Aku mengerti."


Setelah merasa cukup puas dengan obrolan mereka, Briella segera keluar dari kamar Aurora.


"Maaf, Brie.. untuk saat ini aku belum bisa bicara jujur padamu. Jika dia tidak menginginkan bayi ini, maka selamanya aku tidak akan pernah bicara jujur padamu mengenai hal ini, itu hanya akan menjadi sebuah rahasia antara aku, Galen dan Tuhan saja, dosa besar yang akan kami tanggung berdua. Namun jika Galen menginginkan bayi ini lahir ke dunia, aku akan segera menceritakan semuanya padamu." gumam Aurora sendirian.


Setelah pertemuan mereka di cafe, Galen dan Aurora memutuskan untuk pergi ke rumah sakit ibu dan anak demi memastikan dugaan Aurora benar adanya.


Hanya untuk melakukan sebuah pemeriksaan dasar. Dokter mengatakan jika usia kehamilan sudah mencapai tujuh minggu.


Mereka mendapatkan beberapa pemahaman dasar mengenai kehamilan trimester pertama juga beberapa resep vitamin yang baik untuk menjaga kandungan tetap dalam keadaan sehat.


Tadinya Aurora pikir untuk saat ini vitamin tidak terlalu penting, karena Galen belum memberikan keputusan akan mempertahankan atau malah menggugurkan bayi ini. Namun lelaki itu bersikeras agar Aurora mengkonsumsi vitamin tersebut setiap harinya sesuai petunjuk dari dokter.


Cukup aneh!


Hingga Aurora kembali meraih tasnya disana, mengeluarkan sesuatu yang tadi dia dapatkan dari rumah sakit, sebuah foto USG janinnya yang berusia tujuh minggu.


Galen mengatakan Aurora bisa menyimpannya sekalipun gadis itu menganggap jika hal tersebut tidak terlalu penting baginya.


Saat di rumah sakit tadi, ketika dokter menunjukkan calon bayinya yang masih sangat kecil, seketika itu rasa ragu muncul dipermukaan.


Aurora tidak yakin dia bisa membunuh makhluk kecil tak berdaya itu dengan cara menggugurkannya, tapi akan lebih susah lagi jika harus merawatnya.


Aurora hanya berharap Galen bersedia mempertahankan bayi ini, menjadi ayah yang baik untuknya kelak.


Ternyata sifat laki-laki itu tidak semenyebalkan yang Aurora kira.


Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit ibu dan anak tadi, Aurora tiba-tiba saja mengatakan jika dia ingin makan ayam, tanpa basa basi Galen segera melajukan mobilnya menuju restoran ayam.


Ketika Aurora mengatakan jika dia ingin minum sekalian, Galen dengan tegas menolaknya, berkata jika minum beralkohol tidak baik untuk kesehatan janin.


Tampaknya lelaki itu akan mempertahankan bayinya.

__ADS_1


Semoga saja..


***


__ADS_2