
"Jujur saja, Galen.. aku merasa sangat tidak nyaman untuk terus hidup seperti ini. Kenyataan jika aku memiliki seorang suami tapi merasa seperti tidak memilikinya." ucap Aurora memulai.
"Itu resiko yang harus kau tanggung karena sejak awal sudah aku tegaskan jika aku hanya mencintai Mina." balas Galen tanpa mempedulikan perasaan Aurora.
Raut wajah Aurora seketika berubah sedih. "Aku tau."
"Tadi aku sudah bicara pada ayah dan ibu. Sebenarnya mereka sudah berada dititik pasrah akan kelanjutan hubungan kita berdua." ucap Galen.
Aurora menatap Galen lekat. "Apa itu artinya kau akan segera menceraikan aku?"
Galen menggeleng pelan. "Bagaimana bisa? Kau masih dalam keadaan hamil."
Aurora hanya bisa terdiam mendengar alasan yang Galen ucapkan.
"Nanti, Aurora.. sesaat setelah kau melahirkan, mari kita bercerai."
Hati Aurora berkecamuk mendengar ucapan Galen. Ada perasaan tak rela namun untuk membantah dia sadar pernikahan ini terjadi karena sebuah keterpaksaan.
"Untuk saat ini, demi kebaikan ibuku yang bahkan sampai rela bersujud memohon kepadaku untuk memperlakukanmu dengan baik dan mulai menjauhi Mina, daripada terus melawan dan membuat ibu merasa semakin terluka, mulai sekarang aku akan mencoba untuk memperlakukanmu dengan baik di sisa hari kebersamaan kita." ucap Galen dengan begitu mudahnya.
"Tidak perlu melakukan hal itu. Aku sungguh baik-baik saja dengan kau yang seperti ini. Jadilah Galen yang tetap menyebalkan dimataku!" tolak Aurora dengan segera.
"Aurora, jangan salah paham. Aku sudah mengatakan akan bersikap baik padamu itu semua demi ibuku." balas Galen seolah perasaan Aurora tidak penting sama sekali untuk dipertimbangkan.
"Aku bisa menjelaskan semuanya pada ibu secara jujur. Apa kau pikir ibu akan bahagia dengan kepura-puraan ini?! Akan lebih baik jika kita bicara jujur saja." ucap Aurora dengan perasaan terluka.
"Apa kau pikir ibu bisa menerima begitu saja? Ibu mungkin berkata dia bisa namun dalam hatinya siapa yang bisa tau dan menebak? Tidak ada salahnya untuk sedikit memberikan kebahagiaan pada ibu, karena melihat kita hidup dengan harmonis adalah keinginannya!"
"Galen, hentikan! Aku tetap tidak mau menuruti ucapanmu." ucap Aurora dengan tegas.
"Apa masalahmu?! Kenapa kau sulit sekali untuk diajak berkerja sama?! Kau bilang kau menyayangi ibuku namun menuruti permintaan ibu saja kau tidak mau!"
"Karena kau tidak mengerti." jawab Aurora dengan gumaman.
"Apa yang tidak aku mengerti?!" tuntut Galen.
Aurora beralih menatap kedua mata Galen lekat-lekat. "Begitu kau berubah menjadi Galen yang perhatian, aku mungkin akan kembali menjadi Aurora yang egois. Yang ingin memilikimu seutuhnya."
__ADS_1
Galen cukup merasa terkejut mendengar ucapan Aurora.
"Jadi untuk kebaikan bersama, tetaplah bersikap seperti ini, akan lebih baik lagi jika kau membuatku membencimu hingga aku tak sudi untuk melihatmu lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Aurora segera pergi keluar dari kamar Galen. Efek dari perkataan Galen sungguh luar biasa bagi Aurora, gadis itu merasakan kekecewaan yang mendalam.
Sebelum makan malam di mulai, Aurora pamit pada Juniar dan Sarah untuk pergi ke kediamannya sendiri, mengatakan ada sesuatu yang perlu dia ambil disana.
Austin yang kebetulan masih ada disana segera menawarkan tumpangan. Tanpa basa-basi Aurora segera menyetujuinya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Austin begitu mereka sudah memasuki mobil.
"Hiksㅡ"
Seketika itu tangis Aurora pecah membuat Austin kelabakan.
"Ada apa? Katakan padaku mengapa kau menangis?" pinta Austin sembari menggoncang pelan pundak Aurora yang masih betah menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.
"Aurora, kauㅡ"
"Aku tidak ingin bertemu dengan dia malam ini." sela Aurora ditengah tangisannya. "Aku ingin pergi! Aku tidak mau melihat wajahnya lagi!"
Austin bergerak untuk memberikan pelukan pada Aurora, menepuk pelan punggung gadis itu hingga merasa tenang.
"Ini pasti soal Galen 'kan?" tanya Austin melepaskan pelukan mereka setelah lima menit berlalu dan tangis Aurora mulai reda.
"Kau pikir siapa lagi yang bisa membuat perasaanku naik turun bagaikan roller coaster jika bukan seseorang bernama Galen." jawab Aurora dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.
"Tapi meskipun begitu, tentu saja kalian harus tetap bertemu. Kau tidak akan bisa menghindar." ucap Austin.
"Kenapa?"
"Kalian ini sudah menjadi suami istri, beda ceritanya dengan pacaran. Kalau sedang ada masalah tidak bisa pergi menghindar begitu saja! Nanti setelah merasa tenang, temui Galen. Bicarakan masalah kalian secara baik-baik. Jangan selalu bersembunyi, karena hal tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah, yang ada justru masalah yang kau hadapi akan semakin besar dan rumit."
Aurora terdiam sembari merenungi ucapan Austin.
"Untuk saat ini tidak apa-apa jika kau membutuhkan waktu untuk sekedar menenangkan diri. Nanti, setelah kau sudah cukup merasa tenang, kau bisa kembali kemari lagi."
__ADS_1
Aurora mengangguk setuju.
"Kita pergi ke rumahmu sekarang." ajak Austin mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Handoko.
***
Aurora pikir, setidaknya dia butuh waktu dua sampai tiga hari untuk menenangkan diri disini.
Tanpa peduli pada Austin yang nekat ikut menumpang tidur disini juga, padahal Aurora tidak memberikan ijin, tapi memang Austin selalu bersikap seenaknya sendiri.
Aurora akan mencari alasan yang tepat agar saat Juniar dan Sarah bertanya mereka tidak merasa curiga.
"Selamat pagi.." sambutan itu rutin Aurora terima dua hari ini begitu dia turun kebawah dan menuju dapur untuk sarapan.
"Aku membuatkan sarapan roti isi untukmu. Makanlah terlebih dahulu sebelum kau berangkat ke butik."
"Kenapa repot-repot? Ada bibi yang akan memasak sarapan untuk kita." ucap Aurora namun tetap mencomot menu sarapan buatan Austin.
"Kenapa harus bibi yang melakukannya selagi aku bisa menyiapkan itu sendiri? Sudah, habiskan saja! Nikmati sarapanmu, aku akan pergi mandi dulu, setelah itu baru mengantarmu pergi ke butik."
"Pulang saja! Tidak perlu mengantarku, aku bisa bawa mobil sendiri." tolak Aurora.
Tapi Austin berlagak seolah dia tidak pernah mendengar ucapan Aurora barusan.
Sepuluh menit kemudian, Aurora baru saja menyelesaikan sarapannya, tapi Austin belum muncul juga. Masa bodoh! Aurora bisa pergi ke butik sendirian. Dia baru saja keluar melewati pintu ketika mendapati ada seseorang didepan sana yang membuat langkah Aurora mendadak terhenti.
Itu adalah Galen yang sengaja menunggunya keluar dari rumah.
"Kenapa kau datang kemari? Mau apa lagi?" tanya Aurora dengan nada sinis.
Sebenarnya tadi dia sudah hampir menghindar namun Galen lebih dulu memergokinya.
"Kau sudah akan berangkat ke butik?" Galen balas bertanya.
"Iya. Aku sedang buru-buru. Jadi segera pergi dari sini karena aku masih tidak ingin bertemu denganmu!" jawab Aurora.
"Ayo, aku antar ke butik." Galen menawarkan diri.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku bisa membawa mobilku sendiri." balas Aurora, dia kesal lantaran Galen tidak menggubris keinginannya.
***