
Galen cukup terkejut mendengar pengakuan Hani. Berbanding terbalik dengan pengakuan Mina yang mengatakan jika Hani yang tengah marah padanya.
Tapi dibalik semua itu, Galen tidak ingin langsung mengecap Mina sebagai pembohong. Karena gadis itu pasti memiliki alasan tersendiri, Galen akan menanyakannya nanti.
"Seseorang telah menghubungiku dan menanyakan hal mengenai Mina, dia mengaku sebagai sahabatmu, namanya Austin. Dia juga yang memberitahu jika kau dan Mina akan segera menikah."
"Itu benar, Bu. Rencananya dua bulan yang akan datang kami akan mengelar pesta pernikahan namun besar kemungkinan terpaksa ditunda karena kami belum mendapatkan restu dari ibu." ucap Galen.
Hani tampak kebingungan disana. "Bagaimana bisa aku memberikan restu jika aku saja tidak tau kalian akan segera menikah kalau saja sahabatmu yang bernama Austin tidak memberitahuku." balas Hani.
Galen masih mencoba menelaah letak kesalahpahaman ini bermula dari siapa.
"Itu sebabnya aku datang kemari untuk mencari informasi." lanjut Hani.
"Maaf, Bu.. sepertinya ada kesalahpahaman disini." ucap Galen ingin segera menemukan titik tengahnya.
"Salah paham apa?"
"Mina mengatakan jika selama ini ibu marah padanya, namun pengakuan ibu justru sebaliknya." jawab Galen.
Hani berdecak kesal.
"Anak itu masih sama saja seperti dulu! Padahal selama ini aku yang sudah diabaikan olehnya. Mina begitu marah saat kau menikah dengan Aurora, dia berkata jika semua ini akibat dari pengaruh buruk ku yang sudah mendukungmu untuk menikahi gadis itu. Sejak saat itu Mina jarang mengirim kabar padaku. Dua bulan lalu saat kau menghubungiku dan berkata jika kau sudah putus dari Mina dia mengatakan jika aku tidak perlu ikut campur. Terakhir kali kau mengatakan jika Mina tidak berulah seperti sebelum-sebelumnya jadi aku pikir aku bisa merasa tenang sekarang." ucap Hani panjang lebar.
Jujur saja, Galen benar-benar bingung dengan situasi ini.
"Jika dua bulan lagi kau akan menikahi Mina, bagaimana nasib Aurora? Apa kau akan menceraikannya?" tanya Hani penasaran.
"Iya, Bu.. untuk saat ini hanya itu pilihan yang terbaik. Jika terus dipaksakan untuk tetap bersama, hal itu hanya akan melukai perasaan kami berdua. Aurora sendiri juga sudah setuju dengan keputusan itu." jawab Galen.
"Syukurlah.. ibu hanya takut Mina sudah berulah lagi, tapi setelah mendengar pengakuanmu barusan, ibu jadi merasa sedikit lebih lega, setidaknya Mina tidak menggunakan cara licik untuk membuat kalian berdua berpisah. Aku dan Mina sudah lama hidup secara terpisah, bahkan saat anak itu masih berusia belasan tahun. Aku tidak pernah tau jika keputusan untuk melepaskan Mina hidup secara mandiri dan memberikan kepercayaan penuh padanya adalah sebuah kekeliruan."
Galen diam menyimak cerita panjang Hani.
__ADS_1
"Sebagian orang pasti memiliki masa lalu yang kelam, begitu juga dengan Mina. Namun aku percaya jika dia memiliki keinginan untuk berubah kearah yang lebih baik akan ada hal baik pula yang akan menghampiri hidupnya. Anakmu dari Aurora nanti, apakah Mina sudah bersedia untuk merawatnya bersamamu setelah kalian resmi menikah?" tanya Hani.
"Apa maksud ibu?" tanya Galen tak mengerti.
"Begini, Galen.. menikah dengan orang yang kau cintai memang rasanya sangat membahagiakan. Namun, rasanya akan lebih lengkap lagi jika kalian juga memiliki seorang anak, merawat serta mendidiknya bersama-sama." jawab Hani.
"Aurora akan merawat bayinya sendiri, Bu.. dia telah berubah pikiran sejak awal. Begitu juga dengan kami, kami akan merawat bayi kami sendiri. Anakku dengan Mina."
Hani tampak sangat terkejut mendengar ucapan Galen.
"Maaf jika membuat ibu terkejut karena tidak memberitahu hal ini sejak awal. Mina menghapus nomor ibu dari ponselku berserta dengan jejaknya, jadi aku tidak bisa menghubungi ibu dan sepertinya Mina terlalu takut untuk mengakui kehamilannya pada ibu. Sekalipun kehadiran anak ini disebabkan oleh sebuah kecelakaan namun aku tetap menganggap kehadirannya sebagai sebuah anugerah. Ibu jangan khawatir, karena aku akan bertanggung jawab penuh atas Mina dan calon bayi kami, untuk saat ini kami hanya membutuhkan restu dari ibu agar bisa segera menuju ke jenjang pernikahan."
"Galen, maaf.." ucap Hani lirih beberapa saat kemudian setelah wanita itu sempat terdiam.
"Ya, Bu?"
"Apa barusan kau mengatakan jika saat ini Mina sedang mengandung?" tanya Hani dengan hati-hati.
Galen mengangguk dengan antusias. "Usia calon bayi kami sudah tiga bulan didalam kandungan."
"Apa maksud ibu?"
"Bagaimana bisa kau tau jika saat ini Mina tengah mengandung?!" serbu Hani dengan tidak sabar.
"Dia memberikan bukti pada kami." jawab Galen yang kini tampak tengah kebingungan melihat reaksi Hani.
"Bukti apa? Bisa kau jelaskan itu secara rinci?" Hani tampak semakin gusar.
"Sebuah foto USG dan alat tes kehamilan." balas Galen.
Mendengar itu Hani merasa seolah-olah sudah kehilangan seluruh tenaganya. "Apa kau menceraikan Aurora untuk menikahi Mina karena dia sedang hamil?"
"Tentu saja, Bu.. wanita yang sangat aku cintai tengah mengandung anakku. Aku tentunya harus bertanggung jawab padanya."
__ADS_1
"Galenㅡ" Hani dengan segera kehilangan kata-katanya.
"Ada apa dengan ibu? Kenapa kelihatannya sama sekali tidak merasa tenang? Aku tau aku salah karena sudah membuat Mina hamil sebelum menikah, namun aku sudah berjanji akan bertanggung jawab seumur hidupku, aku akan berusaha membahagiakan Mina apapun yang terjadi, jadi ibu tidak perlu merasa terlalu khawatir."
"Bukan masalah itu, Galen.."
"Lantas apa?"
Hani menatap Galen lekat-lekat disana. "Tidakkah kau berpikir jika bukti bisa saja dipalsukan? Apa kau pernah membawa Mina pergi ke dokter kandungan dan dokter menyatakan jika dia benar-benar sedang mengandung anakmu?"
Galen menggeleng pelan. "Mina selalu mengatakan jika dia bisa pergi sendirian karena aku terlalu sibuk."
Air mata Hani tiba-tiba jatuh mengalir.
"Buㅡ"
"Maafkan ibu, Galen.." sela Hani dengan air mata yang semakin mengalir dengan deras. "Ini semua salahku."
"Ada apa, Bu? Mengapa ibu tiba-tiba meminta maaf padaku?" tanya Galen tak paham karena wajarnya Galen adalah pihak yang harus meminta maaf pada Hani karena sudah membuat Mina berada dalam situasi yang sulit.
"Jangan ceraikan Aurora demi Mina. Jika kau sampai melakukannya, itu akan menjadi penyesalan seumur hidup."
"Apa maksud ibu?"
"Mina tidak mungkin hamil!" jawab Hani setengah berteriak.
"Itu tidak mungkin, Bu! Mina benar-benar hami!" balas Galen masih menyangkal.
"Mina sudah membohongi kalian semua! Sadarlah, Galen.."
"Apa ibu benar-benar membenci Mina hingga bisa berkata seperti ini? Menuduh anak kandung ibu sendiri sebagai seorang pembohong?" tanya Galen dengan raut wajah kecewa.
"Aku tidak membenci Mina, sungguh! Tapi bagaimana bisa seorang wanita mengandung jika dia bahkan tidak memiliki rahim?"
__ADS_1
***