
Acara lamaran Mark dan Anna memang akan dilaksanakan bulan depan, bukan minggu depan seperti ucapan Anna kala itu.
Karena untuk mempersiapkan acara lamaran tidak bisa dalam waktu singkat, Mark perlu beberapa persiapan yang matang untuk melamar seseorang yang istimewa seperti Anna.
Kembali pada Galen yang kini tampak mengobrol dengan Kenzo.
"Maaf aku datang sendirian kemari karena Hera sedang tidak dalam kondisi baik." ucap Kenzo.
Galen tau jika Hera sedang di rawat di rumah sakit akibat dehidrasi yang dia derita.
"Selamat atas pernikahanmu. Aku doakan hubungan kalian bisa awet hingga kakek nenek, juga selalu harmonis tanpa hambatan berarti." lanjut Kenzo.
"Terima kasih karena sudah datang." balas Galen sekedarnya. "Bagaimana keadaan Hera sekarang? Maaf, aku belum sempat datang untuk menjenguk."
"Itu bukan masalah besar. Istriku sudah baik-baik saja sekarang. Mungkin besok dia sudah bisa keluar dari rumah sakit." balas Kenzo.
"Syukurlah kalau begitu."
"Sepertinya istrimu baik-baik saja ya?" tanya Kenzo melihat Aurora yang tampak ceria mengobrol bersama Anna tak jauh disana.
"Apa maksudmu?" Galen balas bertanya.
"Tidak seperti Hera yang mengalami kesulitan untuk makan bahkan minum hingga mengalami dehidrasi dan harus dirawat di rumah sakit karena kehamilannya, Aurora tampaknya tidak mengalami hal seperti Hera." jawab Kenzo.
"Entahlah.." gumam Galen tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut.
Namun sepertinya Kenzo tidak cukup peka untuk mengerti kemauan Galen.
"Kau bersyukur saja jika Aurora doyan makan dan menjadi gemuk selama masa kehamilannya, itu jauh lebih baik daripada mual dan muntah sepanjang hari. Aku benar-benar stres melihat keadaan istriku." Kenzo masih melanjutkan sesi curhat dadakannya.
"Semoga keadaan Hera segara membaik." ucap Galen ingin segera mengakhiri obrolan ini.
"Terima kasih. Aku akan pergi menemui Aurora disana untuk mengucapkan selamat." ucap Kenzo sebelum dia pergi dari hadapan Galen.
Galen menjawab dengan anggukan singkat.
"Galen, sahabat karibku. Selamat atas pernikahanmu." seru Austin yang baru saja datang dan langsung membuat kehebohan.
Galen hanya berdecak pelan melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Tapi sebentar, sepertinya ada yang anehㅡmengapa tanggal pernikahannya berubah secara tiba-tiba? Juga, dimana Mina? Aku harus mengucapkan selamat padanya karena dia sudah sah menjadi seorang istri sekarang!"
Sudah jelas kelihatan sekali disini Austin hanya sedang menyindir Galen dengan sengaja.
Beberapa hari sebelum hari pernikahan resmi digelar, Austin mendengar sendiri dari mulut Galen jika pernikahannya dengan Mina sudah dibatalkan.
__ADS_1
Dengan santainya Austin malah berkata jika memang Aurora yang lebih pantas bersanding dengan Galen, padahal Austin belum pernah sekalipun bertemu dengan Aurora, dia orangnya memang sok tau!
"Pergilah dari sini! Jika kau hanya berniat membuat mood ku semakin buruk!" usir Galen.
"Dasar pemarah! Tersenyumlah dengan manis di hari bahagia ini."
"Dasar bedebah gila!" umpat Galen kesal setengah mati.
"Aku akan pergi setelah menyapa mempelai wanitanya. Dimana ya dia?" Austin mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru gedung pernikahan. "Ah, pasti yang itu! Yang terlihat paling bersinar diantara manusia lainnya. Namanya Aurora Alexandra 'kan?"
Galen diam tak menjawab, hanya memasang wajah datar tanpa minat.
"Jangan galak-galak jadi orang! Gadis mana yang tahan hidup bersama dengan lelaki berhati dingin sepertimu?" goda Austin.
"Kau pikir aku peduli!" balas Galen makin terlihat galak.
"Nanti kalau Aurora direbut orang kau pasti akan menyesal juga!"
"Apa kau lupa? Dengan adanya bayi itu, Aurora telah terikat sepenuhnya denganku, dia tidak akan bisa lari kemanapun." balas Galen.
"Sudah menjadi naluri seorang wanita untuk pergi menuju ketempat yang lebih nyaman jika memang ada sosok lain yang bersedia menawarkan hal tersebut. Jika saat itu tiba, aku yakin dia tidak akan ragu untuk lari dari sisimu."
Yang terakhir itu, Austin mengatakannya dengan raut wajah yang tampak serius.
"Kau ingin lihat buktinya?" tanya Austin.
"Sekalipun dia sedang mengandung bayimu, jangan khawatir, aku bersedia merawat bayi kalian kelak, menjadi ayah asuh bagi bayi itu. Aku berjanji akan memperlakukan mereka dengan baik, menyayangi mereka dengan sepenuh hati."
Setelah mengatakan kalimat tidak masuk akal tersebut, Austin segera pergi dari hadapan Galen dan berjalan menghampiri Aurora disana.
Mereka tampak mengobrol singkat dengan Austin yang mulai memperkenalkan diri. Galen bisa melihat bagaimana Aurora tersenyum mendengar kalimat demi kalimat yang Austin lontarkan.
Itu 'kan memang keahlian Austin. Gampang dekat dan berteman dengan orang lain karena Austin memiliki kepribadian yang ramah dan menyenangkan.
***
Kediaman keluarga Handoko..
23:55
"Dia tidak menyukai susu rasa vanilla."
"Dia takut pada serangga."
"Akhir-akhir ini dia sering kali kelaparan di tengah malam. Dia biasanya memakan sandwich isi daging untuk mengatasinya."
__ADS_1
"Dia sering merasa kesulitan karena mual dan muntah di pagi hari."
"Ketika merasakan sakit dia tidak akan mengaku, aku harap kau bisa sedikit peka dengan perubahan sikap Aurora."
Sedari tadi Galen hanya diam tanpa minat ingin menjawab.
"Lalu, dia lebih menyukai makanan manis akhir-akhir ini."
"Ada satu produk biskuit favoritnya, tapi aku lupa itu apa, nanti aku akanㅡ"
"Briella.." sela Sarah dengan senyum lembut.
"Ya, Nyonya?"
"Terlihat sekali juga kau sangat menyayangi adik kembarmu dengan sepenuh hati." ucap Sarah.
Briella mengangguk membenarkan.
"Setelah ibu kami meninggal dunia, aku merasa tanggung jawab beliau atas Aurora telah beralih menjadi kewajibanku. Dia saudara kembarku yang paling berharga. Aku tidak menyangka dia sudah menikah sekarang." ucap Briella dengan raut wajah sedih.
"Kami tau itu pasti terasa berat untukmu, melepaskan saudara kembarmu untuk hidup berumah tangga bersama suaminya. Tapi percayalah.. kami akan berusaha menjaga dan memperlakukan Aurora dengan baik disini." ucapan Sarah seolah menegaskan agar Briella tidak perlu merasa khawatir berlebihan.
"Ya, terima kasih banyak atas kebaikan kalian."
"Setelah malam ini, Aurora sudah resmi menjadi bagian keluarga kami. Dia sudah kami anggap seperti anak sendiri alih-alih hanya sebatas menantu saja." ucap Juniar.
"Aku percaya kalian adalah orang-orang yang sangat baik. Aku merasa sangat bersyukur karena Aurora bisa merasakan hidup ditengah-tengah keluarga yang hangat, karena sudah lama sekali kami merindukan hal seperti ini." ucap Briella.
Mendengar itu rasanya Aurora ingin menangis saja. Berbeda dengan Galen yang masih betah memasang wajah datar.
"Kak.." panggil Aurora dengan kedua mata yang sudah tampak berkaca-kaca.
"Sudah jangan cengeng. Sekarang kau sudah menikah, jadi bersikaplah sedikit dewasa." goda Briella.
"Aku pasti akan merindukanmu." balas Aurora.
"Kau berlebihan! Kau bahkan masih bisa datang ke rumah jika merindukanku. Kita juga masih akan bertemu di butik setiap hari."
Aurora menjawab dengan anggukan kemudian beralih memeluk erat tubuh saudara kembarnya itu.
Melihat beberapa tas koper miliknya disana, Aurora merasa dia sudah di usir secara halus, padahal itu adalah pilihan Aurora sendiri untuk tinggal di kediaman Handoko setelah dia dan Galen resmi menikah.
"Aku akan kembali besok pagi untuk mengantarkan sisa barang milikmu. Tidurlah dengan nyenyak malam ini." pesan Briella.
'Bagaimana bisa? Rumah ini masih terasa begitu asing bagiku, aku masih harus membiasakan diri apalagi dengan sikap dingin Galen. Aku rasa aku akan mengalami banyak kesulitan kedepannya.' batin Aurora.
__ADS_1
Meskipun begitu Aurora tetap mengangguk menanggapi ucapan Briella.
***