
Tak lama kemudian Galen meraih remote televisi, menekan tombol off hingga layar televisi berubah menjadi hitam.
"Kenapa dimatikan?" tanya Mina heran.
"Karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." jawab Galen.
"Ada apa? Kelihatannya penting sekali."
Galen menggenggam erat tangan Mina disana sementara gadis itu menatapnya lekat. "Mina.."
"Ya?"
"Adanya masalah kemarin tentang aku dan Aurora membuatku terus menerus dilanda perasaan bersalah ketika melihatmu." ucap Galen memulai.
"Apa maksudmu?" tanya Mina tak mengerti.
"Kau gadis yang baik. Aku rasa lelaki bajingan sepertiku tidak akan pernah pantas untuk hidup berdampingan dengan gadis hebat sepertimu." jawab Galen.
"Tidak. Tolong jangan bicara seperti itu. Aku mencintaimu apa adanya, sebesar apapun kesalahan yang telah kau perbuat aku akan selalu memaafkanmu." ucap Mina dengan raut sedih.
"Mina.."
"Sayang, berhentilah bicara!" pinta Mina dengan sangat.
"Mari kita putus saja."
Satu kalimat yang tidak pernah ingin Mina dengar dari mulut Galen.
Galen tidak memutuskan hubungan mereka begitu saja tanpa persiapan apapun. Karena tau hal nekat apa saja yang mungkin bisa Mina lakukan untuk mendapatkan apapun itu miliknya kembali.
Galen sudah menghubungi Hani, meminta mantan calon ibu mertuanya itu untuk memantau kondisi Mina pasca berakhirnya hubungan mereka dan bersyukur sekali Hani langsung menyanggupinya.
Karena bagi Hani, Galen berhak menentukan kebahagiaannya sendiri, lepas dari ketakutan akan ancaman Mina.
***
Galen rasa dia sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Saat dirinya mulai bersikap baik terhadap Aurora, berniat untuk menegaskan agar Aurora merasa menyesal karena sudah mau menikah dengannya, Galen justru merasa dirinya sudah terjebak.
Galen mulai memikirkan Aurora sejak hari itu, menyadari jika Aurora tidak seburuk yang dia kira, juga mulai timbul rasa penasaran Galen terhadap calon bayinya. Ini terasa sangat aneh.
Akhir-akhir ini Galen mulai hafal dengan kebiasaan Aurora yang bangun cukup pagi, kemudian jalan-jalan dihalaman sembari menyiram bunga bersama dengan Sarah atau hanya sekedar melihat-lihat saja.
"Selamat pagi.." sambut Galen dengan senyum cerah.
Lelaki itu tampak menikmati menghirup udara segar di pagi hari.
Aurora menatap kedatangan Galen dengan heran. "Selamat pagi, Galen.." balasnya.
Sarah tidak bisa menahan senyum melihat interaksi diantara keduanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu.."
"Pagi.. tumben sekali kau bangun pagi-pagi begini?" goda Sarah.
"Aku tidak sengaja terbangun karena Aurora terlalu banyak bergerak sebelum pergi meninggalkan ranjang." balas Galen.
Aurora segera merasa bersalah. "Maaf.. aku harus mencari posisi yang pas terlebih dahulu sebelum bangun."
"Apa kau merasa kesal karena perbuatan istrimu?" tanya Sarah, sudah siap mengomel panjang kalau saja Galen berani menyalahkan Aurora.
"Tidak kok." balas Gales yang membuat Aurora dan Sarah merasa heran. "Lain kali kalau kau kesusahan untuk bangun katakan saja padaku, akan aku bantu."
Aurora makin merasa heran dengan ucapan Galen barusan.
"Nah, memang seperti itu seharusnya peran seorang suami." ucap Sarah senang.
Kemarin pagi, Galen bercerita dia kemungkinan akan menginap di apartemen Mina, namun ternyata saat tadi membuka mata, Aurora bisa menemukan keberadaan Galen yang masih tidur disebelahnya. Aurora tidak tau pukul berapa Galen tiba di rumah. Sepertinya rencana menginap gagal lagi seperti yang sebelumnya.
Dan esok paginya Galen kembali dilanda panik akibat ancaman Mina yang telah melukai dirinya sendiri. Wajarnya akan terjadi hal semacam itu..
"Mau jalan-jalan keluar sebentar denganku? Sembari menunggu waktu sarapan tiba. Ayo!" Galen menawari Aurora.
Aurora menatap Galen bingung.
"Pergi saja.. Galen tau banyak tempat menarik untuk jalan-jalan disekitar sini." titah Sarah.
Galen tertawa geli melihat ekspresi bingung yang ditunjukkan Aurora. "Kenapa kau hanya diam saja? Jadi berangkat tidak?"
Ini menjadi sesuatu yang baru bagi Aurora karena biasanya dia hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan disekitar halaman saja, tapi sekarang dia bisa keluar menikmati udara segar bersama dengan suaminya.
"Apa aku berjalan terlalu cepat? Kau bisa mengimbangi langkahku tidak?" tanya Galen.
"Ini 'kan olahraga ringan, bukan perlombaan, jadi jalannya bisa pelan sedikit tidak?"
Galen menertawakan raut kesal Aurora. "Baiklah, aku akan pelan-pelan." ucapnya mengalah.
Satu menit berlalu..
"Galen, kau mempercepat langkahmu lagi!" protes Aurora dibelakang dengan sebal. "Berhentilah, tunggu aku disitu!"
Sepertinya menggoda Aurora tampak menyenangkan bagi Galen.
"Baiklah, aku akan berhenti disini, cepatlah datang." ucap Galen benar-benar berhenti untuk menunggu Aurora datang menyusul.
"Besok-besok kau tidak perlu pergi untuk menemaniku jalan-jalan lagi!" omel Aurora begitu dia datang mendekat.
"Kau pikir mudah ya membawa perut buncit seperti ini?" tanya Aurora yang sudah sedikit ngos-ngosan.
"Maaf.." ucap Galen dengan senyum tipis. "Sini!" lelaki itu menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Aurora bingung sembari menatap tangan Galen.
"Biar aku gandeng tanganmu. Agar aku bisa menyamakan langkahku denganmu." jawab Galen.
"Ah, begitu rupanya.." ucap Aurora tampak biasa saja namun sebenarnya dia merasa sangat gugup.
Dengan gerakan kaku, Aurora menyambut tangan Galen. Ada perasaan gugup sesaat setelah tangan besar nan hangat milik Galen menggenggam erat tangan Aurora. Ini benar-benar terasa canggung namun juga menyenangkan disaat yang bersamaan.
"Kemarin kau pulang jam berapa?" tanya Aurora mulai membuka suara ketika mereka sudah kembali berjalan beriringan.
"Jam dua malam." balas Galen.
"Kau tidak jadi menginap di apartemen Mina?"
Galen menggeleng. "Aku sudah menemuinya saat jam istirahat makan siang kemarin, kemudian menjadi sibuk sekali mengurus perusahaan hingga hampir tengah malam."
Aurora mengangguk paham. Itu sebabnya pagi ini Galen tak lagi dilanda panik seperti sebelumnya, ternyata dia tidak lupa hanya saja mengganti jadwal kunjungannya ke apartemen Mina.
Galen sendiri juga merasa heran, setelah ajakan putus kemarin Mina tampak lebih tenang tidak seperti sebelum-sebelumnya yang akan segera mengeluarkan ancaman agar Galen mau kembali kedalam pelukannya.
Kali ini sama sekali tidak, Mina bahkan tak menghubungi ponsel Galen ataupun mengirim banyak pesan.
Galen pikir mungkin saja Hani sudah datang dan berusaha memberikan Mina nasehat terbaik hingga bisa menerima kenyataan jika hubungan diantara mereka sudah berakhir.
"Aku merasa sudah kehilangan sesuatu." gumam Aurora tiba-tiba.
"Apa? Ponselmu?" tanya Galen.
"Bukan." jawab Aurora.
"Dompet?" Galen masih ingin menebak.
"Bukan juga."
"Tas?"
Kali ini Aurora menjawab dengan gelengan.
"Lalu apa?" tanya Galen sudah menyerah.
"Seseorang." jawab Aurora yang membuat Galen mengernyit bingung.
"Siapa?" tanyanya penasaran.
"Austin.. secara tiba-tiba dia menghilang."
"Kenapa? Kau kangen dia?" tuduh Galen sembarangan.
"Bukan seperti itu, hanya saja aku merasa tidak enak. Saat aku sedang sendirian, Austin selalu ada untuk menemaniku, menghiburku juga menuruti semua keinginanku sekalipun itu merepotkan. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Aku sudah mencoba untuk menghubungi ponselnya namun sepertinya itu tidak pernah aktif akhir-akhir ini.
__ADS_1
***