
"Jangan seperti ini! Karena kau tidak akan pernah sanggup untuk melawanku. Apa perlu aku menghempaskan tanganmu ini dengan kasar hingga membuatmu terjatuh dan bayimu terluka?" ancam Mina.
"Lepaskan!" sentak Aurora.
Mina benar-benar menghempaskan tangan Aurora dengan kasar, namun tidak sampai membuat gadis itu terjatuh.
"Aku sudah bersikap baik dengan membiarkan bayi itu hidup. Jika tidak, pasti bayi itu telah lama mati di tanganku. Kalau kau terus bersikap tidak tau diri seperti ini, aku tidak akan segan-segan untuk mencelakaimu berserta dengan bayimu."
Setelah mengatakan hal tersebut, Mina keluar dari ruangan Aurora, mengabaikan Aurora yang kini tampak kehilangan hampir seluruh tenaganya.
Gadis itu jatuh terduduk diatas permukaan lantai yang dingin. Stres berat seketika melanda. Aurora merasa marah, takut, tegang dan juga gelisah disaat yang bersamaan. Aurora sudah berada di titik putus asa untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan disini?" di ambang pintu masuk butik tanpa sengaja Mina berpapasan dengan Austin yang baru saja datang.
Mina tersenyum melihat Austin yang menatapnya penuh curiga. "Hanya ada sedikit perlu dengan pemilik tempat ini. Kami hanya saling mengobrol sebentar."
Austin tidak bisa langsung percaya.
"Awas saja kalau kau sampai berbuat macam-macam!"
"Sepertinya kau akan cocok sekali menjadi calon suami baru Aurora begitu dia dan Galen resmi bercerai nanti." ejek Mina dengan sengaja.
Austin berdecak kesal. "Bukan urusanmu. Urus saja dirimu sendiri! Selalu perhatikan langkahmu, jangan sampai tersandung dan terjatuh, nanti kau bisa keguguran. Tapi tidak mungkin juga sih.."
Mina tampak begitu penasaran dengan ucapan Austin selanjutnya.
"Mau terjatuh sampai terjengkang sekalipun, kau tidak mungkin bisa keguguran." ucap Austin dengan senyum misterius.
Austin pergi meninggalkan Mina yang masih bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Austin barusan. Tidak mungkin 'kan Austin tau tentang kebohongan yang telah Mina buat? Lagipula dia tau darimana?
Austin masuk kedalam ruangan Aurora setelah mengetuk pintunya dua kali. Dia datang dengan senyum cerah membawakan Aurora sesuatu yang dia janjikan sebelumnya, yaitu makanan enak, menu daging terlaris di Seorae BBQ.
Namun senyum Austin seketika menghilang begitu dia menemukan Aurora yang sudah terduduk dilantai sembari menangis. Raut gadis itu tampak mengernyit menahan sakit, Austin buru-buru berlari menghampiri.
"Apa yang sudah terjadi? Kau kenapa?" serbu Austin.
Aurora tampak kesulitan dengan nafas yang memburu, wajah gadis itu telah memucat secara keseluruhan. Tak lama kemudian, kedua mata Aurora terpejam dengan tubuh lemas yang terjatuh dipelukan Austin.
"Aurora, jangan bercanda!" seru Austin panik.
__ADS_1
Tidak ada jawaban yang membuat Austin semakin merasa gusar, dengan segera Austin bergegas menggendong tubuh Aurora keluar dari ruangan.
Mengabaikan menu daging yang sempat dia bawa khusus untuk Aurora yang kini isinya telah tercecer akibat tidak sengaja tertendang saat Austin pergi membawa Aurora keluar dari sana.
Masakan daging dengan bahan berkualitas premium itu kini tak lagi memiliki nilai, hanya akan berakhir disebuah kotak sampah.
***
Sarah lebih dulu tiba di rumah sakit begitu Austin menghubunginya, sementara Juniar menyusul tak lama kemudian karena dia langsung berangkat dari perusahaan.
Galen juga sudah mendapatkan kabar tersebut namun hingga saat ini dia masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Dimana Aurora?" serbu Sarah dengan raut wajah khawatir.
"Masih didalam, Bi.. masih ditangani oleh dokter." balas Austin dengan lesu.
"Bagaimana bisa ceritanya dia pingsan di butik?" tanya Juniar yang kelihatannya panik namun tetap berusaha untuk tenang.
Austin menggeleng pelan. "Aku menemukannya sudah dalam keadaan tidak baik-baik saja."
Sarah kemudian mendekati Austin, meraih kedua tangan lelaki itu.
"Sama-sama, Bi." balas Austin singkat karena saat ini pikirannya sedang melayang jauh.
Sekalipun Austin yakin hal yang sudah terjadi pada Aurora ada sangkut pautnya dengan kedatangan Mina tadi, tapi Austin tidak boleh gegabah.
Menuduh Mina disaat seperti ini tidak akan berujung baik, yang ada malah hanya akan memperkeruh suasana.
Jadi, untuk sementara ini Austin lebih memilih untuk diam saja.
"Dimana Galen? Apa kau sudah mencoba untuk menghubungi dia, sayang?" tanya Juniar pada Sarah.
"Sudah. Dia bilang sedang dalam perjalanan menuju kemari, mungkin sebentar lagi akan tiba." jawab Sarah.
Lima menit kemudian pintu ruangan UGD terbuka, seorang dokter laki-laki tampak keluar dari sana.
"Wali dari pasien Aurora Alexandra." ucap dokter tersebut.
"Kami, dok.." Juniar dan Sarah secara kompak maju kedepan.
__ADS_1
"Mari bicara di ruangan saya, silahkan. Disebelah sini." ajak dokter tersebut.
Juniar dan Sarah mengikuti langkah dokter tersebut menuju ke sebuah ruangan meninggalkan Austin sendirian disana.
Tak lama kemudian dua orang perawat tampak keluar dari ruang UGD dengan mendorong bed stretcher yang akan membawa Aurora menuju ke kamar rawat inapnya.
Austin mengikuti langkah kedua perawat tersebut dengan pandangan yang tidak bisa lepas dari sosok Aurora yang masih betah memejamkan kedua matanya.
"Untuk saat ini pasien diharapkan bisa memiliki waktu istirahat yang cukup. Kami akan datang secara berkala untuk memantau kondisi pasien." ucap salah satu perawat.
"Baik." balas Austin singkat.
Setelah merasa tidak ada hal lain yang perlu disampaikan, dua orang perawat tersebut pamit undur diri.
Austin merasa cukup prihatin dengan keadaan Aurora. Gadis ini benar-benar malang, dia hidup sebatang kara di kota besar ini dengan seorang suami yang sengaja mencampakkannya.
Jika ada kesempatan, Austin ingin sekali menonjok wajah Galen keras-keras. Lihat saja nanti!
"Austin.."
Aurora terbangun saat Austin hendak menghubungi Briella untuk memberitahu kabar ini. Bagaimanapun juga Briella adalah keluarga Aurora, dia berhak mengetahui kondisi Aurora saat ini.
"Kau terbangun? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Austin dengan suara lembut dan menggenggam tangan Aurora disana.
"Baby rangers.. apa dia baik-baik saja?" gumam Aurora.
"Iya.. dia baik-baik saja. Jangan khawatir selama ada aku disini. Aku janji tidak akan pergi kemana-mana, hanya akan menjagamu sampai keadaanmu kembali membaik." jawab Austin.
Tak lama kemudian kedua mata Aurora kembali terpejam, seperti tadi dia terbangun dalam keadaan masih setengah sadar.
Juniar dan Sarah masuk kedalam ruang rawat Aurora tak lama kemudian, mereka menyampaikan jika untuk saat ini keadaan Aurora sudah kembali stabil meskipun tadi bisa saja terjadi hal yang tak diinginkan.
"Galen belum tiba?" tanya Juniar.
"Belum, paman." balas Austin.
"Kemana anak itu sebenarnya? Aku benar-benar sangat malu memiliki anak yang tidak bertanggung jawab seperti Galen." ucap Juniar menahan amarahnya.
***
__ADS_1