
Aurora masih menunggu Austin makan ketika tanpa sengaja dia melihat sosok Galen dan Mina yang masuk kedalam toko roti tempat mereka berada membuat Aurora merasa terkejut.
Dua bulan tanpa Galen dengan status yang masih menjadi suami sah Aurora, kemudian melihat Mina yang tampak mesra dengan Galen disana, benar-benar perpaduan yang pas untuk membuat Aurora mengalami hari yang buruk.
"Ayo, pergi!" ajak Austin begitu sadar kemana arah pandang Aurora saat ini.
Aurora melihat roti Austin masih banyak tersisa diatas meja, namun ditinggalkan begitu saja. Aurora tidak menolak saat Austin menggandeng tangannya keluar dari toko roti lengkap dengan tatapan sinis yang Austin layangkan saat mereka melewati Galen dan Mina disana.
"Maaf.."
"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Aurora merasa jika pertemuan itu bukan salah Austin.
Itu hanya sebuah kebetulan atau bahkan mungkin kesialan? Entahlah..
"Karena secara tidak langsung sudah membuatmu harus melihat kebersamaan mereka, seharusnya tadi aku tidak memaksamu untuk mampir ke toko roti." ucap Austin menyesal.
"Itu bukan salahmu. Kau 'kan bukan peramal yang bisa mengetahui mereka akan segera datang kesana atau tidak. Jadi jangan merasa bersalah." hibur Aurora.
"Tapi benar ya kau tidak apa-apa?" tanya Austin memastikan.
Aurora mengangguk dan menunjukkan senyumnya.
'Tentu saja aku tidak baik-baik saja.' batin Aurora sedih.
Dua bulan lalu, saat Galen diancam oleh Juniar yang akan mencoret namanya dari daftar keluarga, Aurora memutuskan untuk mengambil keputusan terakhir.
Dengan tegas, Aurora mengatakan jika setelah melahirkan nanti dia dan Galen akan segera bercerai.
Sarah menangis dengan pilu kala itu, mengatakan jika tidak seharusnya Aurora bicara seperti itu, seolah telah menyerah pada keadaan begitu saja.
Sarah hanya tidak tau jika Galen telah membuang kesempatan terakhir yang Aurora berikan.
"Apa itu artinya aku seorang gadis yang pendendam, Austin?" tanya Aurora tiba-tiba saja.
__ADS_1
"Apa?" tanya Austin tidak paham.
"Aku telah memendam rasa sakit hatiku terhadap Galen kemudian itu berubah menjadi rasa benci. Aku benar-benar membencinya hingga tak ingin lagi melihatnya."
"Wajar sih.. kalau benci ya benci saja, tidak usah berpura-pura memiliki hati yang tegar, tunjukkan padanya jika selama ini kau baik-baik saja tanpa dia! Dengan begitu, Galen pasti akan menyesal ketika melihatmu bersama dengan anak kalian suatu hari nanti."
Aurora terdiam. Pikirannya melayang jauh.
"Tampaknya aku perlu melakukan sesuatu." gumam Austin.
"Apa?" tanya Aurora penasaran.
"Rahasia."
Aurora hanya mencibir Austin dengan perasaan kesal.
"Sudah ya, aku akan pergi sekarang. Mungkin aku tidak bisa menemuimu dalam dua sampai tiga hari kedepan. Apa kau baik-baik saja dengan itu?"
"Apa maksudmu? Tentu saja aku baik, memangnya kau ini siapa sampai aku harus bergantung padamu?" tanya Aurora cuek.
Aurora mengangguk seadanya. "Pergilah.. dan hati-hati di jalan."
***
Mina telah mengalami mood yang buruk setelah tanpa sengaja bertemu dengan Aurora dan Austin di toko roti.
Dia meminta Galen untuk segera membawanya pulang ke apartemen, namun sesampainya disana mood Mina semakin memburuk tatkala Galen mulai berulah.
"Ayo kita pergi ke Jepang untuk bertemu dengan ibumu. Aku akan bicara sendiri dengan beliau." ucap Galen mencoba memberikan solusi.
"Apa kau sudah gila?! Ibuku tidak akan menyukai hal itu!" balas Mina dengan nada kesal.
"Tidak peduli suka atau bahkan tidak! Sekalipun restu berhasil didapatkan ataupun tidak, itu tidak akan jadi masalah bagiku. Yang penting ibumu sudah tau jika kita berdua akan segera menikah." ucap Galen.
__ADS_1
"Aku bisa mengatasi hal ini sendirian jadi kau tidak perlu ikut turun tangan."
"Sampai kapan? Apa waktu dua bulan masih belum cukup? Kau tau sendiri ayah dan ibuku terus menerus mempertanyakannya." balas Galen tidak sabar.
"Buat mereka sedikit lebih bersabar!" balas Mina setengah berteriak.
"Ayah dan ibuku sudah cukup sabar. Kita semua disini mementingkan kondisimu. Perutmu akan semakin besar seiring dengan berjalannya waktu. Sebelum hal itu terjadi, pernikahan kita berdua harus segera diadakan."
"Aku akan membujuk ibuku lebih keras lagi." ucap Mina memilih untuk menyudahi pertengkaran diantara mereka.
"Kalau begitu berikan aku nomor ponsel ibumu! Aku akan coba membantumu untuk bicara dengannya." pinta Galen.
Galen tidak tau alasan pasti Mina yang dengan sengaja menghapus segala jejak mengenai Hani di ponselnya hingga mereka mengalami lost contact.
Mina hanya berkata dia khawatir Hani akan bicara yang tidak-tidak pada Galen mengenai Mina, karena Mina menganggap ibu kandungnya itu tidak sebaik kelihatannya, Hani bahkan tidak pernah berpihak pada Mina sedikitpun.
Mina merasa dia sudah hampir meraih mimpinya saat akan menikah dengan Galen kala itu, namun kehadiran Aurora mengacaukan segalanya dan dengan tidak berperasaan Hani justru secara tidak langsung malah memberikan dukungan pada Galen untuk menikahi Aurora dan meninggalkan Mina begitu saja.
Wanita itu sama sekali tidak mempedulikan perasaan putri kandungnya.
Untuk saat ini Galen hanya berharap Hani akan lebih dulu mencoba untuk menghubunginya dari sana, hingga mereka bisa segera membicarakan hal ini.
"Sudah aku katakan, hal itu tidak perlu sampai kau lakukan!" tolak Mina saat Galen tetap nekat meminta nomor ponsel Hani.
Galen menatap gadis itu dengan penuh curiga. "Mina, kenapa sikapmu jadi aneh begini?"
"Apa?! Kau mulai merasa curiga padaku! Terserah kau saja, Galen! Lakukan saja agar kau puas! Batalkan saja rencana pernikahan kita jika kau masih memiliki rasa curiga padaku. Kembalilah pada Aurora dan hiduplah dengan bahagia bersama bayi kalian! Tidak usah mempedulikan aku disini!" teriak Mina emosi.
"Mina! Kau benar-benar keterlaluan! Kau pikir aku sudah melangkah sejauh ini demi siapa? Aku menghancurkan pernikahanku, tidak mempedulikan calon anakku, rela bertengkar dengan sahabatku karena aku selalu berusaha untuk mempercayaimu, juga melawan kedua orang tuaku, tapi apa balasanmu? Kau justru selalu menyalahkanku dan terus saja menyudutkanku dengan menuduh jika aku menaruh rasa curiga padamu. Mengertilah, yang kami inginkan hanya kehadiran ibumu. Hanya itu.. beliau adalah kunci agar kita bisa melangkah ke jenjang pernikahan." ucap Galen melampiaskan seluruh rasa kesalnya.
"Tapi aku telah gagal untuk membujuk ibu!"
"Itu sebabnya gunanya aku ada disini untuk membantumu!" balas Galen.
__ADS_1
"Kita menikah saja, langsung saja sesaat setelah Aurora melahirkan bayinya. Tidak perlu menunggu restu dari ibuku, percuma saja. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah memberikannya." ucap Mina masih bersikeras.
***