Aroma Hujan

Aroma Hujan
Menyambut masa depan


__ADS_3

Briella beralih duduk ditepi ranjang kamar rawat Aurora, tangannya terulur mengusap lembut kepala adik kembarnya itu dengan penuh rasa sayang.


"Apa dia juga baik-baik saja?" tanya Briella tiba-tiba.


"Huh?" tanya Aurora tak mengerti.


"Yang didalam sana." balas Briella.


"A-apa?! K-kauㅡ"


"Tidak perlu terlalu terkejut seperti itu."


"Apa Anna juga mengadu padamu tentang hal ini?"


Briella mengangguk. Aurora tidak habis pikir bagaimana bisa Anna seember itu! Ini sudah keterlaluan.


"Tapi sebenarnya aku sudah tau bahkan jauh hari sebelum Anna memberitahuku."


Aurora hanya mengernyit heran atas pengakuan Briella.


"Kau ini gadis yang ceroboh. Meninggalkan alat tes kehamilan juga foto USG begitu saja diatas meja riasmu. Aku tidak sengaja melihatnya saat hendak meminjam sesuatu dari kamarmu."


Bagaimana bisa Briella memendamnya selama ini? Dia bahkan memperlakukan Aurora seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Jadi kau sudah tau selama ini ya?" gumam Aurora.


"Lagipula sikapmu juga aneh selama dua bulan terakhir ini, persis seperti ciri-ciri wanita yang tengah hamil muda."


"Apakah terlalu ketara? Padahal aku sudah berusaha untuk menyembunyikannya sebaik mungkin." ucap Aurora tampak berpikir.


"Kau menyembunyikannya dari seseorang yang sudah menjadi seorang ibu. Seharusnya kau tau itu tidak akan pernah berhasil. Aku diam bukan karena tidak peduli, tapi karena aku sangat mempercayaimu. Menunggumu menceritakan semuanya padaku suatu hari nanti."


Aurora tidak menanggapi ucapan Briella, masih tenggelam dalam lamunannya.


"Jadi siapa?" tanya Briella.


"Apa?" Aurora balas bertanya.


"Ayah dari bayimu?"


Aurora terdiam, masih ragu untuk menjawab.


"Itu tidak penting." pada akhirnya jawaban itu yang Aurora berikan.


"Tidak penting bagaimana? Tentu saja laki-laki itu harus pergi untuk menikahimu."


"Aku tidak tertarik untuk menikah."


"Tapi kau sedang hamil."

__ADS_1


"Lantas mengapa? Aku bisa merawat bayi ini seorang diri. Aku akan pergi ke luar negeri dan merawatnya disana hingga dia tumbuh dewasa."


"Jangan bodoh! Aku yakin kau tidak akan sanggup."


"Aku yakin bisa." balas Aurora bersikeras.


"Percayalah padaku! Aku sudah pernah mengalaminya." Briella masih tidak mau kalah.


"Juga mengalami kehidupan pernikahan yang pahit? Itu sebabnya aku tidak mau menikah."


Briella paham benar jika Aurora merasa trauma setelah melihat nasib ibu dan kakak kembarnya yang disakiti oleh suami mereka masing-masing.


"Bagaimana bisa kau memukul semuanya sama rata? Belum tentu juga dia akan membuatmu menderita. Dia mungkin saja lelaki yang baik."


"Tidak ada yang bisa menjamin hal itu." balas Aurora.


"Jangan-jangan itu ulah mantan pacarmu dulu, Aron! Iya 'kan?" tebak Briella masih belum ingin menyerah.


"Bukan." ucap Aurora singkat. "Sudahlah, untuk saat ini kita urusi urusan masing-masing saja. Sepulang dari rumah sakit ini aku akan menyiapkan kepergianku ke luar negeri."


"Aku tidak mengijinkanmu pergi dalam keadaan hamil. Setidaknya tunggu saja sampai bayinya lahir."


"Aku tetap akan pergi sekalipun kau menentangnya." balas Aurora keras kepala.


"Sudah aku katakan kau tidak akan sanggup! Apa menurutmu menjadi orang tua tunggal itu mudah?"


"Apa maksudmu?" tanya Briella tak mengerti.


"Sudah sampai mana proses perceraian kalian?"


"Apa? Bagaimana bisa kau mengetahuinya?"


Aurora menahan keinginannya untuk menertawakan raut terkejut Briella.


"Kau mungkin tidak ceroboh sepertiku. Tapi begitu alkohol mempengaruhimu, kau seketika berubah menjadi orang yang sangat jujur dan mulai menceritakan semuanya. Kau bahkan menunjukkan berkas perceraian itu padaku."


Briella tidak bisa berkata-kata lagi. Sepertinya benar apa yang Aurora katakan, mereka memiliki urusan masing-masing yang perlu diselesaikan.


"Brie, kuatkan hatimu. Keputusanmu ini sudah benar jadi jangan terlalu merasa bersalah pada Sean. Seiring berjalannya waktu Sean juga pasti akan mengerti."


"Apakah memang seperti ini pada akhirnya? Kita berdua tidak akan pernah menemukan cinta sejati dan berakhir dengan kesendirian hingga akhir hayat. Ternyata kita berdua sama persis." gumam Briella menerawang jauh.


"Kita tidak sama. Sejak awal aku memilih untuk tidak menikah, menjalani drama kehidupan pernikahan yang begitu rumit. Sebelum menjalaninya aku sudah menyerah duluan."


"Tapi aku benar-benar penasaran dengan ayah dari bayi yang tengah kau kandung. Apa itu Galen?"


Sebenarnya Briella hanya asal menebak saja, namun melihat reaksi Aurora membuat Briella yakin jika tebakannya itu benar.


"Bagaimana bisa kau melakukannya dengan klien kita?!" seru Briella tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

__ADS_1


"Saat itu dia belum menjadi klien kita. Hanya seorang laki-laki biasa di sebuah bar. Hari saat aku menjemputmu untuk memberitahu jika Sean sedang di rawat di rumah sakit."


"Ah, hari itu ternyata.." gumam Briella setelah berhasil mengingatnya.


"Sekarang kau mengerti bukan mengapa aku tidak bisa pergi untuk menikahinya? Meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya. Selain tidak tertarik pada kehidupan pernikahan, aku juga tidak mau merusak kebahagiaan orang lain. Itu sebabnya aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri, memulai kehidupan baru disana."


Tidak ada yang bisa Briella ucapkan selain memberikan pelukan hangat untuk saudara kembarnya itu.


"Apa aku juga bisa pergi kesana?" tanya Briella setelah melepaskan pelukan mereka.


"Huh?"


"Setelah perceraian ini selesai, bolehkah aku ikut menyusulmu kesana bersama dengan Sean?"


"Tentu saja. Mari bersama-sama menyambut masa depan yang bahagia dengan cara kita sendiri."


***


"Kau datang? Bagaimana keadaanmu? Maaf ya, ibu belum sempat menjengukmu ke rumah sakit kemarin karena sibuk merawat nenek Galen yang sakit di kota sebelah." ucap Sarah.


Mina tersenyum menanggapi obrolan calon ibu mertuanya tersebut. "Tidak apa-apa, Bu.. aku tau ibu sibuk, lagipula aku sudah baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu."


"Apa ayah sudah berangkat ke perusahaan?" tanya Mina yang tidak bisa menemukan keberadaan Juniar.


"Ya. Baru saja." balas Sarah.


"Aku datang untuk bertemu dengan Galen. Dia tidak mengangkat telepon dariku sejak kemarin malam, padahal aku sudah melakukannya berulang kali." ucap Mina dengan bibir mengerucut sebal.


"Galen pasti masih tidur. Kemarin dia pulang sangat larut bersama dengan Mark."


"Kalau begitu aku akan langsung menuju kamarnya saja."


Sarah mengangguk memberikan ijin.


Mina sudah beberapa kali datang kemari, bahkan terkadang juga menginap, itu sebabnya dia sudah seperti menjadi bagian dari keluarga mereka.


Pintu kamar Galen terbuka. Mina masuk kedalam dengan langkah pelan dan hati-hati, menemukan Galen yang tidur dengan posisi tengkurap diatas ranjang.


"Dia benar-benar masih tidur rupanya." gumam Mina lirih. Dia beralih duduk ditepi ranjang.


"Sayang, bangunlah.. hari sudah hampir siang." ucap Mina mencoba membangunkan Galen dengan usapan lembut di kepala lelaki itu.


Galen menggeliat pelan, sebelum akhirnya benar-benar bangun.


"Kau datang kemari? Mengapa tidak memberitahuku akan keluar dari rumah sakit pagi ini?" tanya Galen.


***

__ADS_1


__ADS_2