Aroma Hujan

Aroma Hujan
Mengingkari janji


__ADS_3

"Setelah pulih.. aku akan segera mengurus perceraian kita kemudian pergi bersama Briella."


Galen hanya diam sembari mendengarkan dengan seksama.


"Aku ingin prosesnya berjalan secepat mungkin karena waktu yang tersisa hanya tinggal dua bulan saja sebelum bayiku lahir, aku sedikit merasa berdosa karena hingga detik ini masih belum menyiapkan segala keperluan bayiku."


Ada rasa bersalah dalam diri Galen yang semakin lama semakin menjadi-jadi saat mendengar ucapan Aurora.


Di usia kandungan yang sudah mencapai tujuh bulan ini, biasanya para pasangan sedang antusias memilih barang, baju-baju dan juga segala keperluan calon bayi mereka, tapi Galen terlalu cuek akan hal ini.


"Bayi kita." ucap Galen lirih hingga berhasil membuat Aurora terkejut akan ucapan lelaki itu. "Tolong, sekali ini saja. Sebut dia sebagai bayi kita, Aurora." pintanya.


Senyum Aurora kemudian terlihat samar. "Iya, bayi kita." ucapnya mencoba untuk menuruti.


"Terima kasih karena sudah bersedia untuk menuruti permintaanku yang tidak tau diri ini."


"Itu bahkan bukan apa-apa, melainkan sebuah kenyataan. Kau 'kan memang ayah biologis dari bayi yang ada didalam perutku ini." jelas Aurora.


"Apa aku masih pantas disebut sebagai seorang ayah setelah perbuatan kejamku yang telah menyia-nyiakan istri dan calon anakku?" tanya Galen menerawang.


"Kau tetap seorang ayah, terlepas dari bagaimana sikapmu selama ini. Lagipula aku sudah mengikhlaskan semuanya. Hiduplah dengan bahagia bersama Mina.. lalu aku juga akan hidup bahagia berdua bersama dengan jagoan kecilku."


Galen dengan segera menatap Aurora lekat-lekat.


"Jadi dia seorang bayi laki-laki?" terlihat jelas tatapan penuh haru dikedua mata Galen namun Aurora tidak ingin salah sangka dan percaya diri untuk mengartikannya.


"Iya." balas Aurora sembari mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.


"Baguslah.. dia pasti akan bisa diandalkan untuk melindungi ibunya saat sudah tumbuh dewasa nanti." ucap Galen.


Senyum Aurora mengembang sempurna. "Itu benar. Hanya dengan membayangkannya saja rasanya sudah sangat menyenangkan sekali. Jadi semakin tidak sabar untuk bertemu dengannya dua bulan lagi."


"Aurora.."


"Ya?"


"Sekali lagi aku minta maaf atas segala perbuatan burukku padamu. Aku akan membiarkanmu pergi tanpa hambatan, mengenai masalah perceraian kau tenang saja, aku yang akan mengurusnya disini jadi kau bisa pergi lebih awal untuk mempersiapkan segala kebutuhan calon bayi kita."


Aurora kemudian mengangguk setuju.


"Kalau begitu aku pamit pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengan Mina."


Entah mengapa, secara mendadak perasaan Aurora menjadi kalut dan terlihat tidak nyaman.

__ADS_1


"Galen.." panggil Aurora.


"Apa?"


"Bisakah kau tinggal disini? Aku ingin sekali ini saja kau temani karena besok kita sudah harus berpisah. Aku akan sibuk mengurus kepergianku ke luar negeri, kau juga akan sibuk untuk mengurus perceraian kita." ucap Aurora.


Sebenarnya itu hanya alasan Aurora agar Galen tidak pergi untuk menemui Mina karena dia tiba-tiba memiliki firasat buruk akan hal itu.


"Lagipula, hujan baru saja turun. Nanti kau kehujanan." lanjut Aurora, apapun itu alasannya yang penting dia bisa menahan Galen untuk tidak pergi.


"Aku tidak akan kehujanan kok. Nanti, setelah menemui Mina aku akan kembali lagi kesini." balas Galen.


"Janji?"


"Iya, janji."


Aroma hujan yang menjadi favorit Aurora, kini tak lagi menarik perhatian gadis itu. Aurora hanya berharap, Galen akan segera kembali menemuinya.


***


Apartemen Mina..


18:43


"Baiklah.. aku mengakuinya. Aku memang tidak hamil." ucap Mina setengah berteriak.


"Kenapa, Galen? Apa kau menyesal karena telah mempercayainya? Apa kau tau?! Aku melakukan ini semua karena tidak ingin kehilanganmu! Aku sangat mencintaimu, Galen!"


Kali ini air mata Mina mulai jatuh mengalir. Wajarnya Galen akan datang untuk memberikan sebuah pelukan agar Mina bisa kembali merasa tenang, namun saat ini yang terjadi justru tubuh lelaki itu hanya diam membeku. Tidak tau harus bereaksi seperti apa karena terlalu bingung dengan hal yang sudah dialami.


"Galen, mengertilah.." pinta Mina dengan nada putus asa.


"Tapi bukan seperti ini caranya, Mina.. kebohonganmu ini secara tak langsung telah melukai istri dan calon anakku. Kau merubahku menjadi sosok suami dan calon ayah yang kejam." gumam Galen.


"Mereka yang salah! Mereka pantas mendapatkannya! Gadis itu telah merebutmu dariku!"


"Sadarlah, Mina! Sejak awal ini bukan salah Aurora melainkan kesalahanku!" sentak Galen.


"Gadis itu yang bersalah! Aku bersumpah akan membunuhnya berserta dengan bayi didalam kandungannya."


Keadaan semakin kacau ketika Mina mulai menghancurkan barang-barang di apartemen.


"Hentikan, Mina.." ucap Galen namun Mina tetap keras kepala.

__ADS_1


Bahkan saat sebuah vas bunga hampir mengenai kepala Galen, lelaki itu tetap bergeming, namun tidak ketika Mina menemukan satu sat pisau yang baru dia beli bulan lalu dan mengambil salah satu diantaranya, Galen bergidik ngeri saat Mina mengancam akan memotong urat nadinya sendiri.


"Letakkan kembali benda itu ke tempat semula. Mari kita saling bicara secara baik-baik dan dengan kepala dingin." ajak Galen dengan hati-hati.


"Aku tidak ingin bicara secara baik-baik jika pada akhirnya kau akan tetap pergi meninggalkanku! Berjanjilah padaku untuk segera meninggalkan Aurora dan anak kalian. Kau akan tetap menikahiku 'kan? Katakan jika kau mencintaiku, Galen.. mari kita kembali seperti dulu, saling mencintai tanpa ada yang mengganggu."


"Baiklah.. tapi sebelum itu turuti ucapanku. Letakkan pisau itu terlebih dahulu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak terluka, karena jika sampai hal itu terjadi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." ucap Galen.


Mina tiba-tiba menjatuhkan pisaunya begitu saja tepat disamping tubuhnya. Gadis itu seolah kehilangan tenaganya, jatuh terduduk luruh diatas permukaan lantai dingin apartemen. Tangis Mina kembali pecah, kali ini terdengar lebih menyakitkan.


"Gadis pintar.." puji Galen merasa lega melihat pisau itu tak lagi berada dalam genggaman Mina. "Jangan khawatirkan apapun, percayalah padaku kau akan baik-baik saja, Mina."


"Aku membutuhkan, Galen.. aku tidak mau kehilanganmu, apa artinya hidupku tanpa kau disisiku? Kemarilah, Galen.. peluk aku." pinta Mina dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.


Galen segera menuruti, lelaki itu berjalan mendekat kemudian duduk tepat dihadapan Mina dan memeluk tubuh gadis itu.


"Aku disini, Mina. Aku selalu ada untukmu." ucap Galen.


"Jangan tinggalkan aku, Galen."


"Tidak akan."


"Kau berjanji?"


Galen terdiam.


"Galen?"


"Y-ya.. aku berㅡAKH!"


Tubuh Galen tersentak, jatuh diatas permukaan lantai dingin apartemen Mina setelah diam-diam gadis itu meraih kembali pisau yang tadi sempat dia jatuhkan disampingnya dan menusuk punggung Galen tanpa rasa bersalah.


"M-mina.."


Ekspresi gadis itu sudah persis seperti seorang psikopat dimata Galen, pisau berlumuran darah itu Mina pegang erat ditangan kanannya.


"Kau bahkan tidak bisa berjanji, Galen. Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak juga dengan Aurora.. mari kita mati bersama, Galen."


Senyum yang ditunjukkan Mina tampak sangat mengerikan, sangat berbeda dengan sosok Mina yang Galen kenal selama ini.


Darah segar dari luka terbuka dipunggung Galen mulai mengotori lantai putih apartemen Mina. Galen sudah berada di fase pasrah dan putus asa. Hidupnya pasti akan berakhir disini, hari ini. Pisau itu sudah akan kembali Mina layangkan, mengarah tepat di jantung Galen.


"B-baiklah, Mina.. mari kita mati bersama."

__ADS_1


Seharusnya sejak awal Aurora sudah menyadari jika lelaki bernama Galen itu selalu mengingkari janjinya.


***


__ADS_2