
"Terima kasih karena sudah bersedia untuk menunggu." ucap Sarah yang baru saja keluar dari ruang keluarga.
Sarah berjalan menghampiri Aurora dan Briella yang berada di ruang tengah.
"Aurora.." panggil Sarah.
"Ya, Bu?" balas Aurora.
"Apa kau bersedia menikah dengan putraku?"
Aurora terkejut namun terdiam hingga membuat Briella harus mengambil alih untuk bicara.
"Begini, Nyonya.. Aurora pasti membutuhkan waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Wajar bila dia merasa terkejut karena hal ini terjadi secara tiba-tiba, apalagi dia sudah memiliki tekad untuk tidak menikah seumur hidup." jawab Briella.
Sarah bisa mengerti karena Aurora pernah bercerita jika pernikahan kedua orang tuanya tidak berjalan dengan baik. Dia tidak memiliki kiblat mengenai pernikahan yang bahagia.
"Aku hanya tidak ingin menderita seperti ibu dan Briella." gumam Aurora.
"Aurora dengarkan aku.. menikah bukanlah penderitaan. Ketika pernikahan yang kau lihat tidak berjalan sebagaimana mestinya belum tentu kelak kau juga akan mengalami hal yang serupa." balas Sarah.
"Aku pikir ibu dan ayah tidak menginginkan sebuah pernikahan melainkan bersedia untuk merawat bayi ini setelah dia lahir nanti, sama seperti perjanjian awal ku bersama Galen dulu." ucap Aurora.
"Apa kau yakin bisa meninggalkan anakmu?" tanya Sarah. "Kami bersedia merawatnya tapi tidak bisa menjamin kau mampu melewati harimu tanpa anakmu. Buktikan saja perkataanku setelah kau melihat bayimu lahir nanti."
"Tidak perlu menunggu nanti, Bu. Saat ini saja aku sudah sangat menyayanginya, mulai bisa merasakan kehadirannya. Ibu bisa menganggapku egois karena menginginkan bayi ini untuk diriku sendiri." balas Aurora dengan air mata yang mulai mengalir.
Melihat itu Briella tidak bisa menyembunyikan air matanya juga. Dia sangat paham dengan perasaan yang tengah Aurora alami karena dia juga seorang ibu.
Jika harus berpisah dengan Sean, Briella juga tak akan sanggup.
Bukannya marah ataupun kesal Sarah justru mendekat dan memberikan sebuah pelukan hangat untuk Aurora.
"Pasti Galen sudah sering bersikap keterlaluan padamu hingga kau merasa sakit hati mendalam seperti ini. Ibu mengerti alasan kau yang tidak ingin menikah dengan Galen, tapi anak iniㅡ" Sarah menyentuh lembut perut Aurora. "Dia tetap membutuhkan sosok ayahnya."
Aurora menatap Sarah lekat, tatapan wanita paruh baya itu tampak sangat memohon. "Menikahlah dengan Galen demi bayi kalian."
Air mata Sarah mulai jatuh mengalir, cobaan ini datang bertubi-tubi dengan intensitas sekaligus! Rasanya benar-benar melelahkan.
Galen keluar dari ruang keluarga, tanpa berkata-kata lelaki itu hanya menatap Aurora dengan sinis, kemudian pergi naik keatas menuju kamarnya.
"Jangan berhati kecil. Sama sepertimu, Aurora.. Galen juga membutuhkan waktu untuk merenungkan segala perbuatannya." ucap Sarah.
Juniar yang juga baru menyusul keluar dari ruang keluarga berhasil mengalihkan perhatian Briella dan Aurora disana. Nyali Aurora mendadak ciut melihat keberadaan lelaki paruh baya itu yang berdiri tak jauh dari mereka.
__ADS_1
Teringat oleh sosok ayahnya yang tidak pernah sekalipun bersikap baik, sosok yang dengan kejam meninggalkan tanggung jawabnya terhadap istri dan anak-anaknya.
Bicara soal kenangan indah bersama seorang ayah? Briella dan Aurora tidak memilikinya.
"Pernikahan kalian memang terjadi karena sebuah kesalahan, tapi bukan berarti akan memiliki akhir yang menyedihkan."
Aurora terdiam mendengar ucapan Juniar.
"Jika anak itu nakal, atau dengan sengaja membuatmu sedih dan menangis, kau bisa mengadu pada ayahmu ini. Ayah berjanji akan memberikan Galen pelajaran sekaligus hukuman hingga dia merasa jera." ucap Juniar.
Perasaan Aurora tiba-tiba menghangat. Jadi begini rasanya mendapatkan perhatian dari sosok seorang ayah? Ini pertama kalinya untuk Aurora.
***
19:03
Paju Garden..
"Mereka pasti akan membunuhku." gumam Mark lesu.
"Siapa?" tanya Anna penasaran.
"Galen dan Mina." jawab Mark.
"Ah, tamat sudah riwayatku!"
"Tapi harus aku akui kau keren sekali! Berani mengakui jika bayi yang ada didalam kandungan Kak Aurora adalah milik Galen." Anna sudah menunjukkan dua jempol pada kekasihnya itu.
"Aku sangat marah saat itu dan tanpa rasa takut ataupun ragu sudah bongkar rahasia." balas Mark lesu.
"Itu keren! Aku jadi tidak merasa ragu lagi padamu. Bagaimana kalau minggu depan?" tanya Anna tiba-tiba.
"Apanya?" tanya Mark tak mengerti.
"Kau pergi untuk melamarku." balas Anna.
***
Satu minggu kemudian..
Sepasang cincin yang indah. Sepasang wedding dress dan tuxedo dengan warna putih bersih yang cantik. Dan juga undangan pernikahan bertuliskan namaㅡGalen Addy Handoko dan Aurora Alexandra.
Hari pernikahan telah tiba.
__ADS_1
Menjadi suatu langkah yang tidak pernah Aurora bayangkan sebelumnya, berdiri di altar berdampingan dengan Galen.
Beberapa hari sebelum acara pernikahan resmi digelar. Banyak perasaan ragu menghampiri. Batin Aurora berperang hebat, bertanya-tanya apakah dia bisa menjalani kehidupan rumah tangga ini.
Pernikahan bukan hanya sekedar mengikat janji suci kemudian hidup bersama sebagai pasangan suami dan istri yang sah, melainkan sebuah perjalanan hidup yang teramat panjang dengan berbagai macam rintangan yang akan dihadapi kedepannya.
Sudah jelas terlihat dari ekspresi wajahnya jika Galen tidak bahagia ataupun mengharapkan pernikahan ini terjadi. Namun, Aurora memilih untuk bersikap egois kali ini. Hanya ada satu alasan mengapa Aurora pada akhirnya bersedia menikah dengan Galen.
Aurora merasa terusik, dengan kurang ajarnya hampir setiap malam sosok Galen datang menghampiri mimpinya juga menghantui hari-hari damainya.
Entah itu pengaruh dari hormon kehamilan atau apa. Yang pasti, ada saat dimana Aurora selalu ingin dekat dengan ayah dari bayinya. Mengharapkan perhatian lelaki itu seperti yang sudah-sudah.
Katakan saja dia sudah menjadi gila untuk saat ini! Aurora ingin sepenuhnya memiliki Galen. Sekalipun dia masih kerap kali menyangkal akan perasaannya sendiri.
Tetapi ya.. Aurora sudah jatuh cinta pada seorang lelaki bernama Galen Addy Handoko.
Semudah itu hingga Aurora tak akan merasa keberatan ketika seseorang mengatakan jika dia terlalu gampangan.
Sifat baik Galen saat itu sepertinya sudah Aurora salah artikan namun cinta sudah membutakan kedua mata gadis itu.
"Astaga, Kak.. kau cantik sekali hari ini." puji Anna merasa terpana begitu melihat Aurora yang tampak bersinar dengan gaun pengantinnya.
"Terima kasih, Anna.." balas Aurora.
"Aku tidak percaya pada akhirnya kau akan menikah juga. Selamat atas pernikahanmu." lanjut Anna.
"Segeralah menyusul.. aku rasa Mark cukup serius menjalani hubungan ini bersamamu."
"Tentu saja. Mark sudah berada di usia yang tidak seharusnya bermain-main dengan yang namanya perasaan. Kau tenang saja, tahun depan kami pasti akan segera menyusulmu." ucap Anna memberikan bocoran.
Karena memang dia orang yang ember bocor!
Aurora cukup merasa terkejut, tidak menyangka jika ternyata mereka akan menikah tahun depan.
"Kau menikah di usia yang cukup muda ya?" tanya Aurora merasa takjub.
Dulu saat seusia Anna, Aurora masih sibuk kuliah dan bermain, juga sesekali membantu mendiang ibunya di butik.
"Apalah arti usia jika kami sudah sama-sama siap secara mental, jadi tidak perlu menunda-nunda lagi. Mark akan melamarku bulan depan. Kau harus datang dan menjadi saksinya ya, Kak?"
Aurora mengangguk dan menyanggupi.
***
__ADS_1