Aroma Hujan

Aroma Hujan
Bertemu naga


__ADS_3

Pagi ini suasana ruang makan di kediaman orang tua Galen terasa cukup hangat dengan kehadiran Mina disana.


Setiap paginya mereka memang sebisa mungkin meluangkan waktu untuk sarapan bersama sebelum nanti memulai hari dengan kesibukan masing-masing.


"Tadi malam ibu bermimpi bertemu dengan seekor naga yang terlihat gagah dan memiliki warna yang cantik." Sarahã…¡ibu kandung Galen mulai bercerita.


Seketika Galen tersedak roti isi selai kacang yang menjadi menu sarapan mereka, Mina buru-buru menyodorkan segelas air putih kepada calon suaminya itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Mina khawatir.


Galen membalas dengan anggukan singkat setelah meneguk airnya.


"Apa maksud ibu berkata seperti itu?" tanya Galen.


"Kau ini pura-pura tidak mengerti atau memang polos?" Juniar balas bertanya, ayah kandung Galen itu yakin jika sang anak sebenarnya mengerti dengan maksud ucapan Sarah.


"Apakah itu artinya seorang bayi laki-laki?" Mina menebak dengan ragu.


"Itu benar." balas Sarah penuh antusias. "Mungkin ini sebuah petunjuk untuk kalian, setelah menikah nanti akan diberikan momongan seorang bayi laki-laki."


Mina tersenyum mendengar ucapan calon mertuanya. "Semoga saja benar ya, Bu."


"Ayah juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari anak laki-laki semata wayang kami." ucap Juniar yang memang terkenal penyuka anak-anak.


"Kami akan berusaha untuk mewujudkan impian ayah dan ibu. Doakan saja yang terbaik." balas Mina, fokusnya kemudian teralih kepada Galen. "Sayang, kau ingin kita langsung memiliki seorang bayi 'kan setelah menikah nanti?"


"Tentu saja." balas Galen tanpa ragu dengan senyum yang sama. "Kau tahu sendiri 'kan, aku sangat menyukai anak-anak, sama seperti ayah."


Semua itu memang terbukti dengan perusahaan keluarga mereka yang menjadi donatur tetap selama hampir dua puluh tahun lamanya dibeberapa panti asuhan.


Setiap ada kesempatan, Galen tak pernah ragu untuk terjun secara langsung memberikan donasi disana, bermain dengan anak-anak tanpa merasa bosan.


"Nanti siang kalian akan pergi ke butik 'kan?" tanya Sarah.


"Iya, Bu." jawab Mina.


"Bagaimana dengan gaun pengantinnya? Apa kau menyukainya?" tanya Sarah lagi.


"Sangat cantik, aku suka sekali." balas Mina.


Sarah tersenyum penuh arti melihat wajah bahagia calon menantunya itu. "Ibu sudah tidak sabar ingin melihat kalian segera bersatu menjadi pasangan suami istri."


"Apa kita harus menyegerakannya, sayang?" goda Juniar.

__ADS_1


"Ayah tidak perlu melakukan hal yang aneh-aneh!" protes Galen.


Bukannya kesal, Juniar justru tertawa melihat ekspresi sebal Galen disana. "Kau ini pemarah sekali. Ayah 'kan hanya bercanda."


"Anak kita agak sensitif karena akan segera menikah. Biasanya hal seperti ini cenderung menimpah calon mempelai wanita, ini malah sebaliknya." Sarah tertawa geli begitu menemukan Galen masih saja berekspresi sebal disana.


"Mungkin Galen lelah, Bu.. selama ini dia sudah melakukan banyak hal untuk acara pernikahan kita kelak, menuruti semua keinginanku tanpa banyak mengeluh." tanggap Mina, meraih tangan Galen disana untuk dia genggam dengan lembut.


"Itu memang sudah sewajarnya dilakukan oleh calon suami sebagai pembuktian rasa cintanya terhadap calon istri. Ibumu dulu bahkan minta ayah menemaninya mendaki gunung, padahal sebelumnya ayah malas untuk melakukan hal melelahkan semacam itu." cerita Juniar mengenang masa lalu.


"Tapi kau berhasil melakukannya, sayang.. itu sebabnya aku tidak lagi ragu untuk menerima pinanganmu." balas Sarah.


"Romantis sekali." tanggap Mina gemas melihat interaksi manis diantara calon mertuanya.


Ketiganya asik mengobrol bersama, tanpa sadar sudah mengabaikan Galen yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


***


Aurora sengaja pulang ke rumah setelah Briella berangkat ke butik. Setelah tadi Briella terus mengirim pesan, bertanya dia dimana dan kapan pulang.


Aurora terpaksa membalas pesan itu dengan mengatakan jika dia ada perlu dan akan segera pulang, meminta Briella untuk tidak mengkhawatirkannya.


Didepan pintu rumah, Aurora berpapasan dengan Sean yang hendak berangkat ke sekolah bersama dengan pengasuhnya.


"Sudah mau berangkat?" tanya Aurora dengan senyum ceria.


"Hati-hati di jalan ya.." pesan Aurora sebelum Sean pergi berlalu.


Aurora memperhatikan sosok lucu itu berjalan memasuki mobil yang kemudian segera berjalan meninggalkan halaman rumah.


Seorang anak..


Aurora tidak berpikir akan memilikinya dalam waktu dekat. Dia tidak akan siap jika harus memiliki seorang bayi. Tapi lebih dari itu.. kenyataannya belum terungkap dengan pasti 'kan? Bisa saja hal ini hanya sebatas kekhawatiran Aurora semata.


Aurora menatap kantong plastik kecil ditangannya. Berisi alat tes kehamilan yang baru dia beli dari apotik.


Gadis itu memastikan dia sudah mengunci pintu kamar mandi sebelum meraih alat tes kehamilan tersebut. Mengikuti interaksi yang tertera dibelakang kemasan dengan seksama.


Tidak lama kemudian, alat itu mulai menunjukkan hasilnya.


Dua garis merah.


***

__ADS_1


JJ Bridal Boutique..


09:15


"Aku lebih suka caramu dalam memperlakukan klien." ucap Mina.


Briella hanya bisa memberikan respon berupa tawa singkat. "Apakah saudara kembarku sudah berbuat salah? Mewakili dirinya aku minta maaf padamu. Sebenarnya dia gadis yang baik, hanya saja sifatnya memang sedikit cuek."


"Begitukah?" tanggap Mina dengan raut tak percaya.


"Sudah aku katakan jika itu hanya salah paham. Percayalah padaku." Galen mencoba meyakinkan calon istrinya itu.


"Aku akan mencoba untuk melupakannya. Tapi tetap saja aku tidak suka dia dekat-dekat denganmu. Jujur saja, aku merasa risih."


Mina seolah menunjukkan pada Galen jika Aurora adalah sosok gadis penggoda tepat didepan mata kepala sang saudara kembar.


Fakta baru terungkap, selain pencemburu, Mina juga gadis yang memiliki mulut blak-blakan.


Beruntung Briella memiliki cukup kesabaran, jika saja itu Aurora, gadis itu mungkin akan membalas ucapan Mina dengan perkataan yang lebih pedas.


Mereka sedang mengobrol dengan santai saat Aurora datang ke butik. Mina tampak tak menyukai kehadiran gadis itu.


"Kau baru tiba? Kenapa lama sekali? Darimana saja?" serbu Briella setelah Aurora berjalan mendekat.


"Tadi aku bertemu dengan temanku sebentar. Aku akan pergi ke ruanganku sekarang." balas Aurora.


Setelah Aurora pergi berlalu, Mina baru bisa menghela nafas lega. Tak lama kemudian, ponsel Mina didalam tas berdering. Seseorang tengah menghubunginya.


"Ini dari orang yang membantu kita membuat undangan pernikahan." ucap Mina saat melihat Galen yang menatapnya seolah bertanya siapa yang menghubunginya.


Mendengar jawaban Mina, Galen mengangguk paham.


"Aku mau ke toilet sebentar." ucap Galen.


Mina menjawab dengan anggukan singkat, karena masih sibuk bicara dengan seseorang disana.


Ditengah perjalanan menuju toilet, tanpa disangka-sangka, Galen berpapasan dengan Aurora.


"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu." ucap Aurora tanpa basa-basi.


"Apa?" tanya Galen. "Kau sudah menemukan ganti rugi yang kau inginkan?"


"Aku tidak bisa membicarakan hal ini disini. Jam lima sore, di Bettys cafe." jawab Aurora singkat.

__ADS_1


Galen menyetujui dengan segera. "Aku akan datang. Aku harap ini menjadi pertemuan terakhir kita."


***


__ADS_2