Aroma Hujan

Aroma Hujan
Paket lengkap


__ADS_3

"Bagaimana bisa Galen setega ini pada istrinya sendiri?" ucap Juniar tak habis pikir.


Sarah lebih banyak diam dan merenung, cukup setuju dengan ucapan sang suami.


Saat malam tiba, keadaan Aurora sudah semakin membaik. Juniar dan Sarah pamit pulang untuk sementara waktu dan berjanji akan kembali lagi nanti, meskipun Aurora sudah meminta mereka istirahat saja di rumah karena disini sudah ada Austin yang bersedia menjaga Aurora.


"Kakak.." Anna tiba-tiba datang dengan kedua mata yang tampak berkaca-kaca. "Kau membuatku khawatir tadi. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah jauh lebih baik?"


Aurora menjawab dengan anggukan. "Maaf karena sudah membuatmu khawatir. Aku berjanji itu untuk yang pertama dan yang terakhir."


"Galen mana?" tanya Mark penasaran karena tidak bisa menemukan sosok lelaki itu didalam kamar rawat Aurora.


"Entahlah.." balas Aurora seakan tidak peduli.


"Entah? Maksudmu dia belum datang kemari?" Mark mencoba memastikan dugaannya.


Aurora hanya menunjukkan raut wajah murung.


"Sayang, hentikan!" seru Anna ketika merasa Mark tidak bisa membaca situasi. "Jangan membuat Kak Aurora merasa semakin sedih karena sikap lelaki kurang ajar itu!"


"Aku tidak apa-apa, Anna.. aku baik-baik saja. Kehilangan Galen tidak ada apa-apanya jika dibandingkan aku harus kehilangan calon anakku." ucap Aurora.


Mereka semua bisa melihat kedua mata Aurora yang tampak berkaca-kaca, jadi dengan sigap Austin datang untuk menghiburnya.


"Tidak apa-apa jika kau memang ingin menangis, keluarkan saja semuanya selagi itu bisa membuat perasaanmu menjadi lebih tenang." ucap Austin.


"Aku hanya ingin melindungi bayiku, aku tidak ingin membuatnya terluka." balas Aurora dengan air mata yang mulai jatuh mengalir.


"Dia tidak akan terluka karena dia memiliki seorang ibu yang hebat sepertimu." Mark mencoba memberikan semangat pada Aurora.


"Mark benar, Kak Aurora.. jangan banyak mengkhawatirkan sesuatu. Jika kau memang merasa kesulitan, kau bisa datang pada kami, kami bersedia untuk membantumu." tambah Anna.


"Selama kau terus berada di dekatku, aku bisa menjamin kau akan tetap aman." Austin lagi-lagi menawarkan sebuah kenyamanan.


Mark dan Anna sudah pulang setengah jam yang lalu setelah bertahan disana hampir selama dua jam lamanya.

__ADS_1


Sementara Juniar mengabari jika dia tidak bisa datang ke rumah sakit karena Sarah tiba-tiba merasa tidak enak badan.


Austin dengan segera menawarkan diri untuk menjaga Aurora malam ini dan Juniar menyetujuinya karena sampai detik ini Galen belum juga menampakkan batang hidungnya.


Hampir pukul sebelas malam ketika Aurora mengeluh kelaparan, dia tidak ingin makan menu dari rumah sakit karena rasanya terlalu hambar, jadi dia bergegas membujuk Austin untuk membelikan makanan di luar.


"Sekali ini saja ya? Besok-besok jangan di ulangi lagi." ucap Austin yang baru kembali dari kantin rumah sakit.


"Iya." balas Aurora singkat sembari terus memperhatikan Austin yang tengah sibuk menyeduh satu cup mie instan disana. Dia sudah tidak sabar ingin segera mencicipi rasa mie instan tersebut.


"Kalau dokter tau dan mulai mengomel padamu, aku tidak mau tanggung jawab ya!" omel.


"Cerewet sekali! Sudah belum? Aku sudah kelaparan." balas Aurora tak sabar.


"Tunggu sebentar, sedikit lagi. Mienya masih belum terlalu matang."


"Kemarin 'kan nafsu makanku menghilang karena tidak merasa lapar sama sekali, baru sekarang aku bisa merasakan lapar lagi dan ingin sekali makan mie instan, aku sudah menahannya tapi itu terus berputar-putar di kepalaku, jadi aku memilih untuk menyerah saja. Lebih baik makan mie instan daripada tidak makan sama sekali 'kan?" jelas Aurora.


"Lebih baik makan makanan yang sehat dan tidak makan mie instan." balas Austin namun tidak dihiraukan oleh Aurora.


Aurora mengangguk paham. "Terima kasih, Austin. Kau ini sudah baik, pengertian, peka pula. Sudah seperti paket lengkap. Pasti gadis yang jadi pacarmu nanti akan merasa sangat beruntung sekali."


"Bicara apa? Kau 'kan calon pacarku, lebih tepatnya istri masa depanku." balas Austin.


Lagi-lagi dia bertingkah seperti itu.


"Sepertinya kau sudah lelah ya? Mengantuk juga.. makanya bicaramu jadi ngelantur kemana-mana." ucap Aurora tidak ingin menanggapi perkataan Austin dengan terlalu serius.


Austin sudah memasang wajah datar mendengar ucapan Aurora. Kenapa gadis berhati dingin ini tidak juga bisa melihat adanya keseriusan pada diri Austin? Padahal dia sudah berusaha sekeras ini.


"Istirahat saja duluan. Aku akan makan dengan cepat, lalu segera pergi istirahat juga."


"Tidak mau." tolak Austin. "Aku tunggu kau sampai selesai makan saja. Aku tidak mau nanti saat enak-enak tidur malah kau bangunkan karena minta segelas air."


"Siapkan saja airnya di dekatku, dengan begitu aku tidak akan merepotkanmu." ucap Aurora memberikan saran.

__ADS_1


"Cerewet! Cepat habiskan makanannya." balas Austin.


Aurora mendengus pelan. "Baiklah."


Aurora baru menghabiskan setengah porsi mie instannya ketika tiba-tiba Galen datang masuk ke dalam kamar rawatnya, membuat nafsu makan Aurora seketika menghilang.


"Maaf, aku baru bisa datang. Tadi Mina sedang membutuhkanku, sekarang dia sudah jauh lebih baik, jadi aku bisa datang kemari. Aku akan menjaga Aurora malam ini, jadi kau bisa pulang sekarang, Austin." ucap Galen.


"Mina kenapa? Apa bayi kalian rewel? Tidak ingin ditinggal oleh ayahnya? Atau ingin tidur dengan belaian lembut tangan sang ayah? Bayi kalian manja ya? Sama seperti ibunya." sindir Austin dengan terang-terangan.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Galen tersinggung. "Kau hanya belum mengerti karena kau tidak pernah menghadapi orang hamil sebelumnya."


"Aku sering menghadapi Aurora." balas Austin.


"Tentu saja berbeda! Karena kandungan Mina masih berada di trimester pertama, akan lebih susah untuk menghadapinya. Kau jangan sokㅡ"


"Galen.." sela Aurora.


Galen segera mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. "Apa?"


"Apa kau yakin jika saat ini Mina benar-benar tengah mengandung anakmu?" tanya Aurora.


"Nah! Itu benar sekali! Kau yakin gadis itu hamil? Jika Mina benar-benar hamil, itu pasti adalah sebuah keajaiban dunia. Aku akan merasa takjub sekali." tambah Austin.


"Apa maksud kalian? Aku datang kemari dengan tujuan baik, bukan untuk berdebat masalah kehamilan Mina." ucap Galen ingin mereka berhenti membahas Mina.


"Apa kau pernah menemani Mina saat pemeriksaan kandungan rutin?" tanya Aurora lagi.


Tidak pernah.


"Asal kau tau saja. Mina tidak manja sepertimu, dia bisa melakukannya sendiri karena tau aku sibuk." jawab Galen.


"Astaga.. dari ucapanmu saja juga sudah kelihatan jika saat ini kau sedang menyangkal." balas Austin menggeleng tak paham.


Aurora dengan segera menyetujuinya dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2