
Bintang dan bulan tiada terlihat di langit malam, awan tebal menutupi sebagian langit, suara guntur terdengar saling bersautan seakan mereka juga merasakan kegundahan hati keluarga Ila.
Tak.. Tak... Tak...
Suara orang yang sedang berlari menuju bagian Resepsionis terdengar nyaring ditelinga.
3 orang yang berdiri di depan resepsionis dengan nafas terengah-engah dan juga mata bengkak serta jejak air mata yang telah mengering.
"Mbak, pasien atas nama Bambang Susilo dimana?"
"Pasien atas nama Bambang Susilo berasa di ruang Tulip nomor 4 Ibu"
"Makasih ya Mbak"
Percakapan mereka selesai dengan singkat. Tanpa menunggu lebih lama, mereka berjalan cepat menuju ruangan yang telah diberitahukan oleh resepsionis tadi.
dilihatnya dari pintu kaca ruangan, terlihat satu pria yang dikelilingi oleh Dokter dan para Suster yang sedang mengobati luka.
Setelah beberapa saat, sang Dokter keluar diikuti dengan para Suster. Sang Dokter berhenti saat melihat Wati, diajaknya Wati keruangan sang Dokter guna membahas penyakit yang dialami oleh Bambang - suaminya.
__ADS_1
Sedangkan Ila dan Axel, kini diperbolehkan untuk menjenguk sang Ayah. Saat membuka pintu ruangan tersebut, mereka langsung disuguhkan dengan wajah pucat sang Ayah dan juga beberapa selang yang menempel pada tubuh tua tersebut, fungsinya untuk membantu menopang kehidupan sang Ayah.
Ila berlari menuju sang Ayah yang berbaring lemah diatas bangkar, dengan derai air mata yang membasahi dua pipinya. Digenggamnya tangan sang Ayah yang tidak tertempel jarum infus, diusapnya dengan penuh kasih sayang dan sesekali dicium lembut.
"Ayah, Ayah kenapa? Siapa yang udah sakitin Ayah?..."
"Ayah bangun... Ila kangen liat senyuman Ayah..."
Tepat dibelakang Ila, ada Axel yang sedang memperhatikan interaksi Ila terhadap sang Ayah, namun tak mendapatkan satu balasan pun dari sang Ayah.
Jujur, melihat keadaan keluarga yang sedang dirundung kesedihan, hati kecil Axel pun sebenarnya juga ingin mengeluarkan air mata. Namun jika ia ikut bersedih, siapa yang akan menguatkan kakak dan ibunya?
Sekuat apapun ia menahan semua, matanya tetap tidak bisa berbohong jika ia juga amat sedih atas musibah yang menimpa sang Ayah.
Citttt...
Suara seseorang yang tengah membuka pintu membuat air mata yang sudah menumpuk kembali masuk kedalam mata Axel. Dilihatnya seorang wanita paruh baya yang keadaannya sama seperti Ila, Wati. Ia baru saja kembali setelah menemui dokter yang mengobati Bambang.
Diajaknya Axel untuk duduk bersama Wati di kursi yang agak jauh dari tempat Ila dan juga Bambang.
__ADS_1
Wati memikirkan apa yang dikatakan oleh Dokter bahwa Bambang mengalami pendarahan hebat pada otaknya, namun kini telah dapat dihentikan. Sayangnya, ia kehilangan cukup banyak darah sehingga harus mendapatkan donor darah secepatnya agar Bambang dapat dengan cepat ditangani.
Entah karma apa yang mereka dapatkan, Wati memiliki golongan darah yang berbeda dengan Bambang, Ila dan Axel sendiri tubuhnya tidak memenuhi syarat sebagai pendonor.
Suara berat Axel menyadarkan Wati dari lamunannya.
"Ibu istirahat aja, biar aku yang jagain Ayah. Ibu pasti cape seharian ini, Kaka aja sudah tidur d sana sama Ayah saking capenya dia"
Benar, putrinya sudah terlelap disampingnya sang Ayah. Sedangkan Axel masih terjaga menemaninya disini.
Dilihatnya dengan lekat wajah Axel, meskipun mulutnya tak pernah berbicara tentang keadaannya, Wati tau ada beberapa yang ia sembunyikan dari semua orang.
"Anak Ibu ternyata sudah besar yah, kamu aja yang tidur, kna besok sekolah"
Ucap Wati sambil mengusap pucuk kelapa Axel.
"Besok hari Minggu Sabtu Ibu, sekolah libur"
Axel menghempaskan tangan Wati yang tadinya bersemayam diatas kepalanya. Jangan lupakan wajah masam Axel yg sedang kesal, mana ada hari Sabtu sekolah. Wati mencoba menahan tawa agar tak mengganggu waktu istirahat anak sulung dan suaminya yang masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
...***...
Bersambung