
"Aduh Abang ini ketinggalan dimana sih otaknya" Rebecca menepuk jidatnya, menurutnya Abang nya ini hanya pandai dalam menakut-nakuti dirinya saja, selain itu tak ada yang bisa dilakukan olehnya.
"Lo berani ngatain Gw?"
"Hehe enggak kok Bang" Rebecca nyengir kuda kala mata sang Abang sudah mulai melotot seperti akan keluar. Fedri melihat Rebecca yang mulai berjalan untuk meninggalkan kamarnya, tanpa memikirkan segudang pertanyaan yang masih bersemayam dipikiran Fedri mengenai apa itu sari malam.
"Bebec!! Lo niat kagak sih ngasih tau Gw soal tadi" Marah Fedri kepada adiknya.
"Soal apa Bang?" Tanya Rebecca dengan polos, secepat itu ia bisa melupakan pembahasan yang mereka bicarakan beberapa detik yang lalu.
Fedri tak menjawab pertanyaan dari Rebecca, ia hanya menghunuskan tatapan tajam kearah adiknya, ia tahu bahwa adiknya ini sedang berpura-pura lupa akan topik pembicaraan mereka sebelumnya.
Rebecca yang awalnya berada didekat pintu kamar, kini kembali dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang milik Fedri. Ia menatap langit-langit kamar yang berwarna abu tua, kamar yang didominasi oleh warna abu serta hijau mint ini menambah kesan glamor namun dark.
Mata Rebecca seketika terasa begitu berat, hingga membuatnya ingin sekali menutupnya. Disaat matanya mulai bergerak untuk tertutup, tiba-tiba sebuah tangan kekar itu menahan kelopak matanya agar tidak jadi terpejam.
"Euhh Abang, aku ngantuk" Suara Rebecca kini sudah menjadi lebih lembut dan juga sayu karena menahan kantuk.
__ADS_1
"Cerita dulu baru tidur ******!!!"
"Cerita tentang sari malam?" Tanya Rebecca dengan mata yang ia paksakan untuk tertutup, meskipun usahanya sia-sia. Fedri hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Rebecca.
Rebecca mulai menceritakan arti sebenarnya tentang sari malam. Cerita ini berawal dari temannya yang berasal dari Jawa, tepatnya Jawa Timur. Suara khas medok Jawa selalu terdengar dari bibir temannya ini. Rebecca merasa lucu dengan ciri khas dari temannya ini. Temannya merupakan sosok yang riang dan ceria, ia selalu sukses dalam menaikkan mood teman satu kelas mereka. Hingga suatu hari, suara riang nan ceria itu tidak lagi terdengar dari bibirnya, hal tersebut sontak membuat satu kelas menjadi bertanya-tanya dan merasakan adanya sesuatu yang kurang dari Retno teman mereka tadi.
"Lo kenapa diem aja dah? Sariawan Lo?" Tanya seorang teman lain kepada Retno.
Retno menjawab pertanyaan dari temannya itu dengan memegang pipi kirinya. "Kok sariawan sih, ini kan masih pagi"
Jawaban nyeleneh ini membuat orang yang mendengarnya menjadi sedikit bingung.
Note: dalam bahasa Jawa (Pagi : isuk, Siang : awan Malam : bengi)
Joke ini merupakan joke pasaran yang terkenal didaerahnya. Maka dari itu tidak satupun dari teman sekelasnya ini yang mengerti akan joke mengenai sari malam.
Mata yang awalnya mengantuk kini sudah kembali cerah seperti harapan, ia menceritakan semuanya tentang sejarah sari malam yang pernah dijelaskan oleh temannya.
__ADS_1
Tak mendengar sebuah sahutan maupun suara keyboard akibat ketikan, Rebecca menolehkan kepalanya kearah samping kirinya dimana tempat Fedri bersandar disandarkan ranjangnya.
Mata pria tersebut terpejam, deru nafasnya pun sudah mulai normal, yang berarti orang tersebut telah tertidur pulas. Dengan kesal Rebecca berteriak dan membuat orang diluar kamar datang menghampiri kamar tersebut.
Recka berlari memasuki kamar putranya yang tidak ditutup dengan rapat itu. Suara keributan dari salah satu anaknya membuatnya takut apabila terjadi pertengkaran diantara mereka.
Suasana begitu kondusif dimata Recka, sang putra tengah tertidur pulas sedangkan sang putri merengek meminta agar Abangnya bangun.
"Adek, ada apa?" Tanya Recka kepada Rebecca
"Abang ma, Abang nggak bangun!! Padahal Abang minta aku buat cerita tadi, tapi malah Abangnya tidur, Abanggg bangun!!"
Recka menghampiri sang putri yang tengah menganggu kegiatan tidur sang putra, Putranya ini sangat sulit untuk tidur dijam normal. Putranya ini mengalami insomnia akut, yang mana ia akan bisa tertidur saat pukul 03:00 dini hari.
Jam tidur yang tak terkontrol dan pekerjaannya yang menumpuk, membuat Fedri sering kali mengalami alergi karena imun tubuh nya terus menurun.
"Sudah-sudah, biarkan Abang tidur, kasihan dia seharian ini bekerja. Kamu ayo keluar kembali ke kamar kamu sendiri dan cepat tidur" Suruh Recka kepada anak bungsunya.
__ADS_1
Rebecca turun dari ranjang tersebut, kemudian berjalan dengan menghentakkan kakinya karena kesal, karena mamanya lebih membela Abangnya dari pada dirinya. Ini hanya masalah sepele, namun hanya dengan itu saja sudah dapat membuat mood Rebecca menjadi buruk.
Rebecca berjalan cepat menuju kearah arah pintu untuk keluar dan kembali kedalam kamarnya dan menyetel musik K-Pop yang bernuansa galau dengan volume 100.