
Suara rintik hujan serta gemuruh langit menemani kisah pilu Resthi sore ini. Awan hitam menutupi indahnya sinar sunset yang didambakan oleh beberapa orang.
Didalam gedung tua yang letaknya terpencil di ujung kota itu terdengar beberapa kali isakan tangis dari seorang gadis.
Brakk.. Brakk..
Suara bantingan itu berasal dari Resthi, tubuhnya dibanting entah sudah berapa kali oleh Rico. Pipi dan matanya merah serta ujung bibirnya mengeluarkan darah akibat tamparan yang dilayangkan oleh Rico.
Ini hanyalah masalah kecil yang tidak disengaja, namun dapat membuat Rico kesetanan seperti ini. Ia tidak ingin melihat Ila terluka lagi, ia sangat paham keadaan Ila dirumah sehingga ia ingin menjadi pelindung dan tameng terdepan saat ada orang yang menggagunya.
Ia bisa membayangkan betapa kasarmya Wati kepada Ila, meskipun Ila tidak pernah menceritakannya, namun mata tidak bisa berbohong. Terlihat jelas disana ada kesedihan yang menumpuk, kantung mata hitam itu membuktikan bahwa dirinya tak pernah tidur dengan nyenyak.
Tak jarang Rico melihat siaran langsung yang Ila lakukan, ia sedang mengerjakan tugas-tugas sekolah yang nantinya juga akan ia contek paginya.
Siaran langsung Ila biasanya berkisar sekitar jam 10 sampai jam 12, namun pada saat tidak terduga ia pernah melihat akun Ila masih dalam keadaan Live saat pukul 01.00 WIB.
Tentu saja Rico menggunakan akun Anonymous nya saat menonton siaran tersebut, saat ditanya kenapa masih Live di jam ini, jawabannya adalah Baru saja sempat karena tadi tugas menumpuk.
Jelas Rico tahu bahwa jawaban tersebut adalah bohong, guru mereka tidak pernah memberikan banyak tugas, meskipun ada banyak Ila bukan type orang yang suka menumda pekerjaan, ia pasti sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang belum sempat ia kerjakan pagi tadi sehingga ia baru saja melakukannya saat sore sepulang dari sekolah.
Rico sangat tahu keadaan ekonomi dan keluarga Ila, Ila selalu dibedakan dengan Axel, namun Axel tidak memperlakukan hal sejahat yang Ibunya lakukan kepada Ila. Ia justru sering kali membantu pekerjaan Ila dengan diam-diam.
Karena simpati, Rico dulu pernah memberinya uang untuk membantu kebutuhannya jadi ia tidak perlu bekerja, bahkan pernah juga menawarkan jika Ila membutuhkan apapun bisa mencari Rico, namun Ila tak pernah menerima dan melakukan apa yang Rico katakan kepadanya.
Prinsip Ila adalah ia tidak ingin merepotkan orang lain bahkan meskipun itu keluarganya. Keluarganya hanya tahu bahwa Ila bekerja dalam bidang kerajinan tangan (kerajinan keramik) yang terbuat dari tanah liat.
Namun lebih dari 1 Minggu ini, ia sama sekali tidak menyentuh pekerjaan itu, tangannya terlalu sibuk membersihkan rumah dan juga mengerjakan tugas sekolah, karena sudah akan melaksanakan Ujian sekolah Ila memilih untuk fokus dalam sekolahnya dahulu dan ia akan tetap melakukan Live nya seperti biasa.
__ADS_1
Kembali dalam suasana di gudang tua yang kumuh itu, Rico kembali membanting Resthi ketanah, Resthi sudah tidak memiliki tenaga lagi, tenaganya terkuras karena banyak menangis, ditambah lagi melawan pun akan sia-sia karena bagaimanapun ia sendiri dan tidak akan mampu melawan Rico.
Ia memohon ampun untuk dilepaskan, badannya terasa remuk karena dibanting berkali-kali. Resthi merangkak kearah Rico berdiri, ia menggapai kaki Rico untuk meminta maaf lagi dan lagi.
Bisa dilihat di tembok putih dibelakang badan Resthi sudah kotor karena darah. Kaos olahraga yang ia kenakan juga sudah lusuh ditambah dengan rambutnya yang sudah acak-acakan serta wajah merah dan air mata mengalir tiada habisnya menyempurnakan penampilan Resthi yang sudah seperti orang gila ini.
Rico berencana meninggalkan tempat serta Resthi sendiri disini karena tidak ingin menyakiti Resthi dengan lebih parah.Rico sangat ingin pulang untuk menjernihkan otak serta membersihkan diri. Kakinya yang digelayuti oleh Resthi membuatnya menghentikan diri.
Ia kembali kesal karena dihentikan oleh Resthi. Rico berbalik badan kemudian menghempaskan tubuh Resthi dari kakinya.
Rico kembali mencengkeram rahang Resthi, Matanya melotot tajam siap menghunus Resthi.
"Gw nggak mau liat Lo muncul lagi dihadapan Gw dan juga temen-temen Gw! Denger nggak Lo?!!"
Resthi menggelengkan kepalanya, kalau sampai Rico pulang lebih dulu, bagaimana dengan dirinya. Ia sama sekali tidak mengetahui tempat ini, bagaimana bisa ia kembali kerumah dan menemui sang Mama.
Resthi kembali menggapai lengan tangan Rico dan memohon untuk diantar pulang.
"Please Co, Gw nggak bakalan nyebarin ini Gw sumpah!!"
"Oke Gw anter Lo pulang, tapi Lo harus bersumpah kalo Lo sampai gangguin Ila dan temen yang lain lagi, Lo bakalan di sambar petir dan jasad Lo nggak diterima sama bumi ini, Deal?"
Ukluk... Ukluk... Ukluk...
Dengan tangan gemetar, Resthi menerima jabatan tangan Rico dan bersumpah seperti apa yang Rico inginkan tadi.
Rico menyendal alias mengggelombangkan tangan Resthi seperti bentuk ~ dengan keras hingga membuat ketek Resthi sakit.
__ADS_1
Rico berjalan dengan santai keluar gudang dengan tangan dimasukkan kesaku celana agar terlihat cool.
Sebenarnya memang cool, ditambah lagi rambut nya yang berantakan dan baju seragamnya yang tidak dimasukkan itu.
Resthi sempat terkagum akan hal itu, namun ia kembali mengingat kejadian yang dilakukan oleh Rico terhadap nya. Ia seakan memiliki banyak wajah yang bisa menipu siapapun disekitarnya.
Wajah tampan dan humor recehnya ini menutupi wajah psikopat nya saat marah. Temperamen seakan dikendalikan oleh setan karena tidak ada belas kasihan.
Sadar, Resthi menepuk pipinya guna menyadarkan dirinya akan tidak tenggelam dalam pesona yang Rico saat ini. Namun satu yang tak ia sadari, pipinya merah itu ia tepuk hingga kembali merasakan nyeri dan perih.
Didalam Resthi masih tampak cengo melihat maksud dari keluarnya Rico dari gudang tersebut. Sesaat kemudian ia ingat bahwa mereka akan pergi pulang. Dengan tangan yang memegangi ketek dan pipinya yang masih sakit, Resthi berjalan dengan tertatih-tatih keluar dari gudang tua tersebut dan menyusul Rico yang sudah duduk manis didalam mobil.
"Lama banget sih Lo kek kura-kura lagi belajar jalan"
"Kaki Gw sakit gara-gara Lo goblok!"
Ucapan sinis dari Rico dibalas oleh Resthi dengan tak kalah sinis, ditambah lagi Resthi juga menghadiahkan tampolan pada kepala Rico.
"Anjir kurang ajar Lo sama Gw!"
Nyong....
Rico memberikan kembali hadiah yang Resthi berikan kepadanya beberapa detik yang lalu. Tingkah mereka ini seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, masih biasa saja seperti saat bertemu disekolah.
Bersambung...
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih :)
__ADS_1