Arus

Arus
Siuman


__ADS_3

Semilir angin malam mengenai kulit Wati dan juga Axel. Meskipun mereka berada didalam gedung Rumah Sakit, dinginnya angin malam tidak bisa dihindari.


Lampu sorot medis sudah mati sejak 5 menit yang lalu, namun Ila masih belum boleh dijenguk untuk sementara. Keadaan Ila saat ini masih terpengaruh oleh obat bius yang Dokter berikan tadi sebelum dilaksanakannya operasi. Dokter meminta agar pihak keluarga membiarkan Ila untuk istirahat sejenak pasca operasi. Kurang lebih beri waktu Ila 30 menit untuk tidur dengan nyenyak meskipun dibawah pengaruh obat.


Setelahnya, baru pihak keluarga diperbolehkan untuk masuk kedalam ruangan Ila. Ila sudah dipindahkan kedalam ruang inap untuk sementara selagi menunggu ia siuman. Dokter memperkirakan bahwa Ila akan siuman tepatnya besok, karena obat bius tersebut serta tubuhnya yang memang benar-benar membutuhkan untuk istirahat.


30 menit telah berlalu, Wati dan Axel juga sudah berada disamping Ila untuk menemaninya. Hari telah gelap, waktu telah menunjukkan pukul 22:03 WIB. Awalnya Axel disuruh Wati untuk pulang lebih dahulu, dia akan menemani Ila saja disini sampai Dokter memperbolehkan Ila untuk meninggalkan Rumah Sakit ini. Namun Axel menolak, ia bersikeras untuk ikut menemani Ila disini bersama Ibunya, ia juga terlibat dalam situasi ini.


Hingga Wati menyerah untuk menyuruh Axel pulang, niat awalnya menyuruh Axel pulang agar rumah tidak kosong dan ada yang jaga disana. Namun ya sudah lah, lagipula tidak ada barang yang berharga pula dirumahnya, jadi dijaga maupun tidak sepertinya maling juga enggan untuk masuk kerumah mereka.


Saat ini, intuk pulang rasanya sudah terlalu larut, akhirnya Axel dan Wati memutuskan untuk tidur di ruangan Ila ini. Wati setia menggenggam jemari tangan Ila dengan lembut, diusapnya telapak tangan yang terdapat sedikit kapal bersemayam di sela jari tersebut.


'Kamu sudah bekerja sangat keras Nduk, padahal masih ada Ibu yang masih sanggup untuk membiayai kehidupan mu. Namun kamu memutuskan untuk bekerja dan menghasilkan uang dari keringatmu sendiri untuk memenuhi kebutuhan mu. Maafin Ibu ya Nduk '


Bulir air mata dengan begitu saja merosot ke pipi Wati yang sudah agak keriput. Tidak ada suara isakan maupun getaran dari badannya saat menangis, hingga Axel tak menyadari itu.


Hingga tak terasa kantuk mulai menyerang Wati, badannya hari ini sudah ia banting untuk memenuhi kebutuhan rumah serta anak-anaknya. Hilangnya sosok kepala keluarga serta punggung keluarga sangat Wati rasakan, jika dulu ia berjualan dengan se moodnya saja, kini berbeda, ia harus bekerja 2 kali lipat kerasnya dibandingkan dulu. Dulu ia masih bisa mengharapkan gaji sang Suami setiap bulannya, namun sekarang? Tidak ada. Bersyukur nya Ila sangat jarang meminta uang saku saat sekolah, ia kebanyakan menggunakan uang hasil penjualan keramik buatannya sendiri. Untuk sekolah, Ila bersekolah gratis tanpa dipungut biaya apapun.


Dengan ini, Wati sedikit berkurang bebannya, ia hanya perlu memikirkan uang sekolah Axel serta kebutuhan kesehariannya. Namun tetap saja itu semua berat namun harus tetap Wati lakukan untuk menyambung hidup. Karena lelah bekerja seharian, tanpa sadar Wati sudah tertidur di pinggir bankar tempat tidur Ila.

__ADS_1


Axel sedari tadi sibuk men scroll layar ponselnya untuk membaca pengumuman yang ada didalam grup kelasnya. Salah, bukan pengumuman yang ia dapatkan, melainkan malah celotehan teman-temannya yang sedang sangat gabut serta absurd, mereka menumpahkannya didalam grup tersebut.


Karena sudah bosan dengan ponselnya, Axel mengangkat kepala untuk melihat keadaan Kakak serta Ibunya. Ia dapat melihat bahwa Wati tengah tidur dengan duduk dan menggunakan tangannya sendiri untuk bantalan.


Axel melihat bahwa Wati hari ini benar berbeda dari biasanya, ia masih tidak percaya bahwa Wati telah sadar atas perilakunya kepada putri sulungnya tersebut. Namun, ia sering kali melemparkan pikiran buruk terhadap sang Ibu, ia terus berusaha positif thinking tentang Ibunya bahwa ia memang benar-benar sudah berubah. Dengan itu membuat hati Axel lega bercampur dengan bahagia, akhirnya pemandangan yang ia dambakan telah menjadi kenyataan.


Ia memperhatikan kedua wanitanya dengan mata yang sudah sayu, meminta untuk segera di tidurkan. Tak butuh waktu lama, kurang lebih 2 menit Axel memejamkan matanya, ia sudah tertidur.


...----------------...


Pagi hari yang cerah namun sejuk dimulai. Suara kokokan ayam yang berasal dari komplek perumahan belakang terdengar hingga kesini. Pagi sekali aktivitas untuk hari ini sudah dimulai. Sejak pukul 04:47 WIB Axel sudah bangun untuk pulang dan bersiap pergi ke sekolah seperti biasa.


Suara deru langkah kaki beberapa orang dari luar terdengar hingga ke dalam ruangan Ila, bisa diketahui bahwa suara kaki dan juga obrolan beberapa anak itu adalah sahabat Ila. Mereka berniat menjenguk Ila sebelum berangkat ke sekolah. Karena jarak Rumah Sakit dan sekolah sangat dekat, kurang lebih 5 menit saat mengendarai mobil. Sehingga membuat mereka tak sungkan meluangkan waktu untuk melihat kondisi sahabatnya yang tengah terbaring di brankar itu.


Mereka berharap, sebelum mereka meninggalkan Rumah Sakit ini, mereka dapat melihat Ila sudah siuman. Seakan Tuhan mendengar doa mereka, jari jemari Ila terlihat bergerak, dan beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Setelah kesadaran dan matanya terbuka dengan sempurna, ila bergegas bangun dan duduk diatas brankar nya itu. Tanpa aba-aba ia berteriak, hingga membuat orang yang ada didalam ruangan ini sontak kaget mendengarnya.


"Cintaaaaaaa....

__ADS_1


"Babeh Gw mana? Babeh jangan pergi tinggalin Ila Beh... Bawa Ila tinggal sama Babeh"


"Sabar ya nak, ikhlas kan Ayah... Allah lebih sayang Ayah, makanya Allah jemput Ayah, Ayah sudah sembuh nak, Ayah sudah tidak merasakan sakit lagi.."


Wati mengusap bahu Ila dengan lembut, wajah Wati berubah menjadi sendu, rasa sedih terus menghantuinya saat ada seseorang yang membahas kembali tentang Suami tercintanya itu.


Cinta merasa ada yang janggal dari Ila, kalaupun rindu akan sang Ayah, seharusnya Ila memanggil nama Wati ataupun Axel, namun ini malah menyebut namanya. Ah sepertinya Wati sudah salah jalur dalam menghadapi haluan Ila.


Cinta menyilang kan kedua tangan nya kedepan, memberi kode kepada Wati bahwa yang dimaksud Ila Babeh bukanlah Bambang Ayahnya, melainkan Babeh Choi Sengcheol. Artis Idol K-Pop yang sudah membuat Ila terbuai dan terhipnotis akan ketampanan serta gaya Rapp nya yang cenderung menggunakan deep voice.


"Ttante, bukan Babeh itu yang Ila maksud, tapi idol K-Pop" Bisik cinta didepan telinga Wati.


Wati yang awalnya memeluk tubuh Ila, kini melepaskan dengan paksa. Ia sangat kesal, Ila secara tidak sengaja sudah membuatnya mellow di pagi hari karena mengingat Ayahnya, ternyata salah. Ila justru lebih ingat dengan biasnya dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Terbukti, orang pertama yang ia sebut setelah siuman bukanlah Ibu maupun Axel Adiknya, malahan Idol K-Pop yang bahkan tidak pernah ia temui secara langsung.


"Anak kurang ajar!!" Tubuh Ila yang memang masih sempoyongan, ditambah dorongan dari Wati, membuatnya kembali berbaring ditempat tidurnya.


Bersambung...


Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih :)

__ADS_1


__ADS_2