
Ila mengikuti langkah kaki Sista dan pelanggan baru tersebut dari belakang. Kali ini bukan meni pedi lagi yang ia lakukan, melainkan pijat refleksi untuk mencegah penuaan dini serta menghilangkan beberapa bekas jerawat.
Ila melakukan setiap step yang diajarkan oleh Sista dengan hati-hati dan juga selalu meminta izin dan menginstruksikan kepada pelanggannya apabila mungkin step yang akan dilakukan mungkin terasa sedikit sakit.
Ila mulai menyuntikkan beberapa cairan obat kebagian pipi pelanggannya untuk menghilangkan bekas jerawat yang membandel dikulit wajahnya. "Maaf Kak, mungkin ini akan terasa sedikit sakit, jadi tahan sebentar ya" Ucap Ila dengan mengelus bagian yang akan ia suntik.
Ila kemudian memijat wajah pelanggan tersebut dari arah bawah keatas, gunanya untuk mengencangkan kulit dan mencegah kerutan.
Hari telah berubah menjadi malam, matahari sudah tidak lagi menampakkan sinarnya, dengan digantikan malam yang menandakan sudah seharusnya badan diistirahatkan.
Ila tengah mengemasi kembali peralatan yang baru saja ia gunakan, hari pertama training nya berjalan lancar, meskipun ada sedikit main-main siang tadi bersama Fedri. Namun itu tak membuat kinerjanya menjadi menurun.
Dapat Sista akui bahwa Ila memiliki kelebihan cepat tanggap, sekali diajarkan saja ia sudah dapat melakukannya dengan sangat lihai.
Setelah selesai dalam acara membersihkan tempat kerja, Ila kini berjalan menuju kearah jejeran loker, ia mengambil jaket yang biasa ia bawa kemana-mana itu untuk melindungi tubuhnya dari hembusan angin malam yang dapat membuat seseorang menjadi lebih mudah terserang penyakit entah itu demam maupun flu.
Tak lupa Ila mengambil tas selempang yang ia gunakan untuk menyimpan dompet serta ponselnya.
__ADS_1
Ila mulai turun kelantai dasar dengan menggunakan lift umum yang sudah disediakan oleh salon ini. Setiap melewati ruangan yang masih terdapat orang, Ila menyapanya dan izin untuk pulang lebih awal dari mereka.
Saat pertama memasuki salon ini, semua pegawai menyambutnya dengan ramah serta welcome terhadap orang baru. Tidak ada yang saling iri maupun mencari muka kepada atasan.
Peraturan disini menyebutkan untuk fokus terhadap pekerjaan masing-masing dan tidak perlu mengedepankan gengsi maupun rasa iri hati. Jika ada yang melakukan kesalahan wajib ditegur bukan dimarahi, dengan pelanggan harus ramah dan profesional untuk tidak mengedepankan mood sendiri.
Ila keluar dari lift kala pintu tersebut terbuka secara otomatis. Ia berjalan melewati lobby, namun ia tak menemukan sosok Sista disana, entah sudah pulang terlebih dahulu atau ada pekerjaan lain yang masih ia kerjakan. Ila tak begitu menanggapi hal itu.
Didepan gedung salon ini, Ila mulai mengecek ponselnya dengan tujuan menghubungi sang adik, Axel untuk menjemputnya pulang. Belum sampai Ila mendial nomor Axel, sebuah motor sudah berhenti tepat didepannya.
Pria itu kemudian menoleh kearah Ila senyum senyum miring yang menghiasi wajah tampannya. Namun bukannya terpana, justru Ila malah merinding dibuatnya. Pria yang tak lain adalah Fedri turun dari motornya dan berjalan kearah dimana tempat duduk Ila saat ini.
"Lagi nunggu siapa neng?" Tanyanya dengan nada menggoda serta mengejek kepada Ila. Senyuman diwajahnya tak luntur sedikit, meski suguhan wajah Ila yang sangat masam kala melihatnya tadi.
"Minggir Lo sana!!" Usir Ila ada Fedri.
"Ini kan tempat umum, ya suka-suka Gw lah, emang kalo suka sama Lo boleh?" Pertanyaan Fedri membuat Ila seketika menarikkan sebelah ujung bibirnya. Bisa dibayangkan seberapa geli dan jijiknya Ila melihat sosok Fedri saat ini.
__ADS_1
Brakkk...
Suara tersebut dihasilkan oleh pertemuan antara tas milik Ila dengan wajah milik Fedri. "Njir muka Lo mesum anjir!!"
Ila dengan segera kembali mengotak-atik ponselnya dan menyambungkan panggilan kepada Axel. "Nanan, cepet jemput Gw sekarang!!"
"Mimil, Gw kesini tuh mau jemput Lo, kenapa Lo malah minta dijemput sama cowok lain? Lo nggak ngehargain perjuangan Gw"
" Emang Lo mau dihargain berapa? Di dompet Gw cuma ada 20 ribu nih, dapet kembalian nggak Gw?" Tanya Ila dengan membalas drama yang dipertunjukkan oleh Fedri kepada nya.
"Ya Allah Mimil, semurah itu harga Gw dimata Lo?"
"Nggak sih, sebenarnya mah nggak ada harganya Lo dimana Gw, cuma karena Lo minta makanya Gw kasih harga segitu"
"Hei hei Bu Kamila!! Jaga ya mulut anda sebelum nanti saya sumpal pake mulut saya baru tahu rasa kamu!!"
"Lo berani?" Sebuah suara berat nan serak berasal dari belakang tubuh Fedri, bayangan yang dihasilkan oleh orang itu adalah tinggi dan juga besar, hingga membuat Fedri berpikir bahwa makhluk dibelakangnya bukanlah manusia.
__ADS_1