Arus

Arus
Pertemuan pertama Ila dengan Recka


__ADS_3

Ila mulai melangkahkan kakinya untuk lebih masuk kedalam area salon. Sesaat ia menuju kebagian Resepsionis, untuk menanyakan dimana ruangan Atasan mereka, sebab lusa kemarin, ia mendapatkan sebuah pesan untuk saat sampai langsung menuju keruangan Atasannya saja.


Ia berjalan beriringan dengan didampingi oleh Sista yang betugas dibagian Resepsionis tadi. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan ramah, membuat Sista menjadi semakin mendalami perannya. Ia dengan mudah dapat berbaur dengan Ila yang baru saja ia kenal tadi.


Ia memperkenalkan setiap ruangan yang mereka lewati kepada Ila yang notabenenya masih awam disini. Ia menceritakan bagaimana beberapa aturan yang harus Ia patuhi saat bekerja disini.


Sista segera mengetuk pintu kala mereka telah sampai disatu ruangan yang terlihat besar dari luar. Setiap diatas pintu juga sudah tertera nama ruangan, sehingga saat Ila berdiri disini ia sudah dapat menebak siapakah orang yang tengah berada didalam ruangan tersebut.


Lampu indikator menyala berwarna hijau yang menandakan orang diluar diperbolehkan untuk masuk. Sista menemani Ila sampai berada didalam ruangan tersebut, namun ia hanya menyerahkan berkas yang berisi tentang beberapa informasi diri Ila.


"Bu, ini berkas yang Ibu minta" Ucap Sista sembari meletakkan berkas tersebut diatas meja.


"Kamu boleh keluar" Ucapan tersebut seakan perintah untuk Sista, Sista pamit undur diri dengan sedikit membungkukkan badannya meskipun itu tidak dilihat oleh sang Atasan.


Terdengar dari suaranya sudah membuktikan bahwa Atasan tersebut adalah seorang perempuan. Diatas meja terdapat name tag bertuliskan Recka Tyastu, Direktur Utama Miss Beauty.


Wanita tersebut membalikkan kursinya sehingga berhadapan dengan Ila, Ila hanya melihat sekilas wajah atasannya itu, cantik. hanya kaya tersebut yang terlintas dipikirannya. Wanita itu kemudian mengambil berkas yang dibawa oleh Sista tadi.

__ADS_1


Setelah membaca semuanya, wanita bernama Recka tersebut mengangkat kepalanya untuk melihat Ila yang masih menundukkan kepalanya, ia tersenyum sekilas. Tidak buruk juga selera putranya kali ini. Namun dengan cepat ia kembali mengubah raut wajahnya menjadi serius dan berwibawa.


"Kamila Hilya Khalisa" Panggilan tersebut membuat Ila mendongakkan kepalanya dengan ragu.


"Saya Bu" Wajah garang dari orang yang berada didepan Ila kini tiba-tiba berubah menjadi ceria.


"Kalau hanya kita berdua jangan panggil saya Ibu, panggil saya Burec, eh jangan nanti dikira burik lagi. Buka, eh nanti malah ditanyain apanya yang dibuka. Emm terserah kamu saja deh"


Ila yang awalnya melongo kala melihat perubahan sikap Recka yang begitu drastis, kini tiba-tiba ia tersenyum kecil saat melihat Recka bingung akan nama panggilan yang bagus untuknya.


"Saya panggil Ibu saja ya, Ibu kan atasan saya" Senyum kecil terbit saat Ila memutuskan nama panggilan ini.


Ada rasa sejuk dan damai kala melihat senyuman yang merekah dibibir Ila. Tak heran putranya sampai mau melakukan hal seperti ini hanya untuk seorang wanita. Ia paham betul bagaimana sikap putranya ini jika berhadapan langsung dengan seorang wanita.


Terlebih, hampir semua wanita yang mendekati putranya itu memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sebab keluarga mereka yang terkenal dan kaya raya, dengan itu tidak sulit untuk mereka mendapatkan apapun yang mereka inginkan hanya dengan memanfaatkan Fedri.


Namun berbeda dengan Ila, dengan hanya melihat tekadnya untuk bekerja di usia yang tergolong masih muda, membuat Recka menilai bahwa Ila ini bukanlah seperti wanita lain diluar sana.

__ADS_1


"Kamu tidak melanjutkan kuliah?" Pertanyaan yang dilontarkan Recka membuat Ila sedikit membenarkan posisi duduknya.


"Alhamdulillah tidak Bu" Ila tersenyum kala menjawab pertanyaan dari Recka. Dan Recka pun kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Ila.


Loh? Tidak kuliah kok malah Alhamdulillah. Pikir Recka. Tidak ingin bertanya lebih lagi, Recka memutuskan untuk mengakhiri obrolan singkat mereka.


"Selama masa training, kamu akan dipandu oleh Sista yang tadi kesini mengantarkan kamu. Dan jangan lupa mengambil baju seragam kamu di loker, kamu bisa minta kuncinya pada Sista nanti"


"Baik Bu"


Recka mengangkat gagang telepon internal untuk menghubungi Sista yang berada dilantai bawah.


"Selamat pagi Ibu, ada yang bisa saya bantu?" Sapa sekaligus pertanyaan yang Sista lontarkan kala mengangkat telepon.


"Sista, kamu datang keruangan saya sekarang dan bawakan kunci loker untuk Kamila sekarang. Dan juga kamu apakah kamu bersedia membimbing Kamila dimasa training nya selama 3 Minggu kedepan?"


"Baik Bu, saya bersedia untuk menjalankan tugas dari Ibu. Apakah ada hal lagi yang harus saya lakukan?"

__ADS_1


"Tidak, saya matikan dulu telfonnya"


"Baiklah, saya akan segera keruangan Ibu segera" Setelah mematikan telpon dari atasannya, Sista segera menyambar sisa 1 kunci loker yang berada disamping tempatnya. Ia berjalan dengan cepat, bahkan bisa dikatakan dengan sedikit berlari agar cepat sampai diruangan Recka.


__ADS_2