Arus

Arus
Support system


__ADS_3

Axel yang sedari tadi berada didepan pintu kamar Ila yang masih tertutup itu sedikit tersentuh hatinya, apa yang telah Ila alami akhir-akhir ini memanglah sangat berat. Anak perempuan pertama yang harus bisa menjadi contoh serta tangisannya tak boleh diketahui oleh orang lain sungguh sangat menyakitkan.


Meski samar dan lirih, curahan hati Ila masih jelas terdengar ditelinga Axel. Axel awalannya disuruh Wati untuk memanggil Ila agar ia dapat membantu pekerjaannya sekarang.


Namun kejutan besar ia terima tanpa adanya kata surprise, kejutan yang mengharukan dan juga menyayat hati. Ila tak pernah mengeluh akan jalan hidupnya, terakhir Axel melihat air mata Ila jatuh adalah pada saat pemakaman Ayahnya, Bambang.


Axel tahu, bagaimana sakitnya kehilangan orang satu-satunya yang dekat dengan kita itu bagaimana, terlebih ia tidak mendapatkan support system dari keluarga selain Axel. Hari-hari sebelum maupun setelahnya, Ila tak pernah mengatakan bahwa hidupnya berat. Ini adalah pertama kalinya Axel melihat Ila begitu lemah selain kehilangan sosok sang Ayah.


Setelah tidak ada suara isakan dari dalam, Axel mulai mengetuk pintu kamar tersebut. Sebelumnya ia mendongakkan kepalanya keatas langit-langit ruang tamu penghubung dengan kamar Ila agar air matanya tidak jadi luruh. Ia menarik nafas begitu dalam agar deru jantung, nafas serta suara tidak bergetar.


"La, dipanggil Ibu noh" Setelah mengatakan itu, Axel kembali ke kamarnya untuk belajar, sebab PAS akan segera dilaksanakan 2 Minggu lagi.


Mendengar suara dari balik pintu, Ila segera mengusap sisa air matanya. Ia segera bercermin untuk melihat penampilannya yang acak-acakan. Ia kemudian berlari kearah kamar mandi untuk mencuci muka agar wajah sembabnya tidak diketahui oleh Wati.


Ila duduk diatas tikar, tepatnya didepan ruang televisi. Ia mulai memotong beberapa sayuran seperti wortel, kol, toge dan lainnya. Tidak ada suara diantara mereka selain televisi yang tetap menyala untuk memberikan kesan ramai, bukan sepi.


Wati memecahkan situasi yang canggung ini dengan beberapa pertanyaan. "Kamu mau lanjut dimana?" Ucapnya tanpa mengalihkan perhatian pada sayuran.


Ila mendongak sebentar menatap Wati, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. "Masih belum tahu, Bu"


"Sudah lulus kok masih belum tahu, kamu kemarin ikut seleksi SNMPTN nggak?"


"Enggak, Bu"

__ADS_1


"Kenapa nggak ikut? Itu kan bisa menjadi peluang kamu biar bisa masuk ke Universitas Negeri di Indonesia" Pernyataan dari Ila sungguh mengejutkan Wati, ia tahu bahwa anaknya ini adalah seorang yang cerdas, namun kenapa malah menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


"Nggak papa, mau coba kerja dulu, sukses kan nggak harus orang yang ber Sarjana, Bu"


"Iya tapi kan Sarjana juga bisa menunjang karir kamu kedepannya" Wati tak percaya dengan pemikiran putrinya yang seperti itu, Ia dulu sangat memimpikan untuk bisa menyandang gelar Sarjana, bagaimana bisa sekarang ia berubah pikiran tentang mimpinya tersebut.


Putrinya ini bukanlah sosok yang mudah menyerah dengan impiannya, jika ia menginginkan sesuatu, ia pasti akan berusaha dengan keras dan pantang menyerah untuk menggapainya.


Tapi, bagaimanapun pilihan Ila nanti, entah ingin melanjutkan studi ataupun tidak, semuanya ia serahkan pada Ila. Sebab Ila lah yang akan menjalani semua itu, sebagai Ibu, ia hanya perlu untuk menjadi orang yang men support nya paling depan.


"Tidak Bu, Ila bakalan kerja aja, Ila mau nyenengin diri Ila, Ila mau manjain diri Ila, Ila pengen ngerasain gimana rasanya kalau mau apa itu dengan uang Ila sendiri bukan minta sama Ibu lagi"


Ila mengucapkan kalimat tersebut dengan mantap, sehingga membuat Wati pasrah akan pilihan yang telah putrinya itu pilih. Ia hanya akan mendoakan semua kebaikan untuk putrinya tersebut.


Sebelum kembali menanggapi pernyataan Ila, Wati kembali menarik dalam panjang. "Ya sudah kalau itu memang keputusan kamu, Ibu berdoa semoga Allah mempermudah jalan mu"


Setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya, mereka kembali membersihkan dan meletakkan kembali peralatan yang mereka gunakan tadi ketempat semula.


Ila kembali masuk kedalam kamarnya, bukannya ia melakukan kegiatan streaming nya yang telah lama ia tinggalkan, ia kini malah asik men scroll layar handphonenya. Ia menjelajahi beberapa media sosial untuk melihat apakah ada info lowongan kerja yang cocok untuknya.


Beberapa kali ia mencoba bertanya pada admin akun media sosial untuk menanyakan apakah lowongan kerja yang mereka upload sudah terisi atau belum posisinya. Namun semuanya menjawab bahwa lowongan sudah ditutup sebab telah diisi oleh seseorang.


Hingga pukul 22:00 WIB, Ila masih mencoba mencarinya. Dirasa jam sudah mulai larut, Ila memutuskan untuk menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


Ila baru memulai aktivitas streaming nya pada jam ini, baru saja membuka streamingnya Ila sudah diberondong banyak pertanyaan oleh penggemarnya yang sudah berkumpul disana.


Kenapa lama sekali baru streaming lagi ka?


Kakak kemana saja?


Habis fokus ujian ya?


congrats graduation kak


Cie udah lulus SMA


Ka main game epep yuk


Ka Q and A dulu yuk, dah lama nih


Karena masih sedikit orang yang menonton live streamingnya, sehingga masih memungkinkan Ila untuk membaca satu persatu komentar yang mereka tinggalkan itu.


Sudut bibir Ila sedikit terangkat naik kala membaca komentar tersebut, Ila merasa dipedulikan oleh orang yang ia tidak kenal secara langsung. Tak jarang Ila juga mengundang viewer nya untuk ikut bersamanya untuk live streaming serta Mabar game yang sama.


Hingga pukul 23:47 WIB, Ila mengakhiri live streamingnya, dan kemudian menulis sajak novel yang sudah lama ini tidak ia selesaikan.


Mata sang seharusnya sudah terpejam untuk mengistirahatkan tubuh serta otak, tak dilakukan oleh Ila. Ambisinya untuk mendapatkan kerja sangat tinggi, meskipun belum diterima kerja office, membuatnya semakin giat dalam mengerjakan kerja onlinenya.

__ADS_1


Lampu kamar telah matikan sesaat setelah ia menyelesaikan streamingnya tadi, kini hanyalah layar ponsel yang mengisi kamar tersebut, Ila tak menghiraukan itu, Ia tidak memiliki phobia akan gelap maupun hantu. Sehingga ia dapat dengan santai dalam kondisi ini.


Jari jemarinya terus menari diatas layar ponselnya dengan lincah, sajak demi sajak telah ia tuliskan. Dalam waktu 3 jam, Ila telah menulis sebanyak 6 ribu kata yang ia jadikan menjadi 5 episode untuk karya novelnya. Ia tidak mempublish nya sekaligus, ia menjadikan per episode nya untuk 1 hari. Yang tak lain, tulisannya hari ini akan ia publish untuk waktu 5 hari kedelapan.


__ADS_2