
Lantai sore yang dingin ini menjadi saksi betapa hancurnya Ila, tak ada satupun orang yang melihat sedikit kearahnya. Jangankan orang lain, Ibunya saja tidak memperdulikannya. Ia merasa seperti orang asing yang datang di keluarga.
Jika biasanya Ila hanya menangis dalam diam, kali ini ia sungguh tidak dapat menahan tangisannya didepan keluarga. ia menumpahkan semua disaat adik dan Ibunya saling berpelukan.
Kesedihan Ila bertambah saat ini juga, ia merasa iri kepada Axel, kenapa yang dipeluk hanya Axel? Bukankah ia juga membutuhkan pelukan hangat dari sang Ibu?
'Ibu... Aku juga pengen dipeluk kayak Nanan...
'Kenapa aku nggak pernah diperlakukan sama seperti Nanan Bu...
'Apa aku sama Nanan beda makanya Ibu membedakan kita?
Sambil mengusap air matanya, Wati mengajak Axel untuk istirahat di kursi tunggu.
"Nan duduk samping Ayah yuk, dari kemarin kamu belum sapa Ayah kan?"
Axel dan Wati berjalan menuju ke kursi tunggu yang berada didepan ruang rawat inap Bambang, tentu saja tanpa Ila. Seakan dunia Wati hanya Axel saja, ia sering kali melupakan bahwa Ila juga adalah anaknya selain Axel.
...~~~...
Pagi tadi, saat Axel berada dikamar mandi, Wati sempat mengobrol sedikit dengan Ila. Bukan obrolan saling menguatkan sebagai keluarga, namun obrolan yang berisi Ila harus meminta bantuan siapapun demi menyelamatkan sang Ayah.
Jika ia gagal, maka semua ini karena Ila, Ila tidak berusaha untuk menyelamatkan Ayah. Wati mengancam Ila tidak akan dianggap sebagai anak lagi jika ia tidak bisa menemukan golongan darah tersebut dan mengakibatkan kematian sang Ayah.
Stok golongan darah AB+ di Rumah Sakit sedang kosong, Ila juga sudah bertanya² kepada teman satu kelas, jika ada dari mereka yang bergolongan darah tersebut, meminta tolong untuk mendonorkannya kepada sang Ayah, dari 31 siswa, tak ada 1 pun yang bergolongan darah AB+.
Dokter tidak dapat menjamin keadaan Bambang jika 2 hari ini ia masih belum mendapatkan donor darah.
Ila sangat kesal, kenapa ia harus memiliki mental health yang membuatnya sering kekurangan berat badan, serta mengapa Axel tak cepat tumbuh dewasa agar umurnya dapat mencapai persyaratan donor darah.
Ila berlari menelusuri lorong-lorong rumah sakit, ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui di Rumah Sakit ini apakah ada yang bergolongan darah AB+.
Dari banyaknya orang yang berada di Rumah Sakit, hanya 2 orang yang ia temui bergolongan dara AB+, naas mereka ber 2 sama-sama menderita penyakit gula darah tinggi.
__ADS_1
Seperti capek menaiki atap dikira ada buah jatuh ternyata hanya batu yang dilempar bocil keatas. Sudah capek namun tidak membuahkan hasil.
Ila berlari menuju ke rooftop untuk menumpahkan semua kemarahannya yang terpendam.
Ila tau kalau Ibunya lebih sayang kepada Axel - adiknya, namun apakah adil jika Ila sudah berusaha keras mencari golongan darah yang sama namun gagal?
Bagaimana bisa ia disalahkan jika Ayah nya tidak terselamatkan? Bukankah ini semua adalah takdir Tuhan? Takdir yang selalu ditakuti semua orang.
"a...
Aghhhhhhh......
Bukan, ini bukan teriakan Ila, apakah ada laki-laki disini? Kenapa tiba-tiba ada suara berat dari seorang lelaki yang sedang berteriak? Apakah dia baik-baik saja? Atau dia sedang dalam bahaya?
Ila tidak jadi berteriak karena terpotong oleh teriakan seseorang yang entah dimana dia berada.
Ila menghapus air matanya sambil berlari mencari keberadaan manusia yang berteriak tadi, diujung rooftop terlihat ada 1 laki-laki yang sedang duduk. Rambut berantakan, celana sobek-sobek, kemeja yang amat kumel. Ila berjalan mendekat namun tetap menjaga jarak agar orang tersebut.
"Apapun masalah Lo, bunuh diri bukan solusinya..
"Siapa yang mau bunuh diri? Sok tau Lo!!"
Ucap manusia tersebut memotong kata-kata bijak yang keluar dari mulut Ila.
"Lah? Kalo nggak mau bunuh diri ngapain duduk di situ?"
"Emang kalo duduk disini harus orang yang mau bunuh diri?"
"Iyalah, orang yang duduk disini tuh artinya pengen didorong setan biar jatoh, jadi alesannya meninggal bukan karna bunuh diri, tapi karena didorong setan terus mati"
"Gila Lo!! Jaman gini masih percaya sama tahayul..
"Lo juga ngapain disini kalo gitu?"
__ADS_1
"Gw lagi bingung nyari golongan darah yang cocok buat Bokap gw"
"Bokap Lo kenapa?"
Ila menjelaskan apa yang terjadi pada Ayahnya, dan kenapa bisa membutuhkan banyak donor darah.
"Golongan darah Bokap Lo apa emang?"
"AB+"
"Oh, yaudah ayo"
Laki-laki yang tidak diketahui namanya itu menyelonong keluar dari rooftop, sedangkan Ila masih bingung memahami situasi.
"Heh!! Lo ngapain diem disitu? Tadi katanya mau bantu Bokap Lo, nggak jadi?"
"Heh? Golongan darah Lo AB+ juga?..
OMG, Tuhan sayang sama Gw, makanya bantuin keluarga Gw...
Yuk jalan".
Ila berjalan lebih dahulu untuk menunjukkan jalan. Saat tiba didepan ruang inap Bambang, kenapa situasinya seperti saat pertama ia datang kemari setelah dari Kantor Polisi? Bukankah tadi sebelum Ila pergi Wati sudah lebih tenang?
Hati Ila amat resah, jantungnya berdetak kencang seperti tadi saat tiba disini. Daripada berfikir negatif, ia memutuskan bertanya kepada sang Ibu.
"Bu, Ila sudah bawa pendonor nya Bu. Ibu ken..
Plakk...
Bersambung...
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih:)
__ADS_1