Arus

Arus
Keluarga Cinta


__ADS_3

Disisi lain, tepatnya di kota Paris. Cinta tengah bosan terhadap ponselnya, ia sering kali bolak-balik ke aplikasi chat, meskipun tak ada apapun disana.


Disana jam sudah menunjukkan pukul 02:13, dan mata Cinta masih enggan untuk terpejam. Sedangkan Mamanya masih sibuk untuk menyelesaikan pekerjaannya karena waktu siang tadi telah ia habiskan untuk bersama dengan Cinta, dan kini ia harus menebusnya dengan cara bekerja lembur.


Kuliah Cinta akan dimulai Minggu depan, jadi ia ingin menghabiskan waktunya bersama Mamanya terlebih dahulu sebelum ia akan disibukan oleh kegiatan kuliahnya.


Tak sengaja mata Cinta menemukan nama Ila dijejak penonton statusnya. Baru 5 menit yang lalu, berarti Ila belum tidur saat ini. Ia kemudian mendial nomor kontak Ila.


"Hello bestie, how are you today" Sapa Cinta dengan antusias sesaat setelah melihat wajah Ila sudah terpampang dilayar ponselnya.


"Hmm.. Lo nggak tidur? Udah jam berapa disana?" Tanya Ila meskipun ia tahu selisih jam diantara kedua negara tersebut.


Kurang lebih sekitar setengah jam sudah mereka melakukan panggilan via video call. Hingga suara pintu terbuka membuat Cinta beranjak sebentar dari sofa.


Seorang pria dewasa yang mungkin usianya hampir setengah abad itu muncul dari balik pintu, dan Cinta menyambutnya dengan antusias seperti anak kecil yang sudah ditinggal Ayahnya bekerja seharian.


Ila tersenyum melihat pemandangan itu, ia tak pernah melihat Cinta yang begitu antusias dan bahagia seperti ini, terlebih saat melihat interaksi keduanya, sesaat membuat Ila mengingat sosok akan sang Ayah.


Dulu setiap sore menjelang magrib, ia selalu menunggu kedatangan sang Ayah dari kerjanya. Dan posisinya sama seperti Cinta, didepan televisi. Namun sekarang, kehangatan pelukan sosok Ayah tak lagi bisa Ila rasakan.

__ADS_1


Benar, Tuhan memang Maha Adil. Buktinya Tuhan mengabulkan doa Cinta untuk bisa bersama dengan keluarganya. Jika dulu ia hanya memandang kebersamaan Ila dan Bambang, kini giliran Ila yang memandangi kebersamaanya bersama sang Papa.


Cium pipi kanan, kiri serta dahi, semuanya benar-benar seperti kebiasaan yang Ayahnya berikan kepadanya dulu.


Hingga satu waktu, Cinta teringat bahwa panggilan teleponnya masih tersambung dengan Ila. Ia kemudian mengenalkan sosok Papanya kepada sang sahabat.


Dengan waktu yang bersamaan, Rina juga baru saja keluar dari ruang kerjanya. Mereka bertiga berada dalam satu frame yang sama diponsel Ila dengan wajah tersenyum.


"La kenalin, Daddy Gw dan ini Mommy Gw"


"Hello, what is your name?" Sapa Mama Cinta dengan ramah.


"Mommy, kenapa Mommy pakai bahasa Inggris? Biasanya juga bahasa Indonesia kalau sama Cinta" Protes Cinta kepada Mommy nya


"Mommy takut dia tidak bisa bahasa Indonesia, makanya Mommy pakai bahasa Inggris" Jawab Rina dengan konyol


"Mommy dia adalah orang Indonesia, dan dia juga tinggal disana, bagaimana mungkin dia tidak bisa berbahasa Indonesia"


Aldi sebagai satu-satunya pria yang disana memilih untuk menyimak perdebatan antara istri dan anaknya. Ia bingung mengapa wanita senang sekali berdebat karena hal-hal yang sepele yang tidak seharusnya mereka debatkan.

__ADS_1


Sedangkan Ila yang sudah hafal betul dengan sifat Cinta, ia juga memilih menyimak dengan memakan cemilannya yang ada disamping tempat tidurnya. Ia sudah menganggap bahwa perdebatan Cinta adalah sebuah tontonan yang seru, sebab ia tidak pernah ingin mengalah dengan siapapun.


Dan kini ditambah dengan Mamanya yang ternyata sifatnya tak jauh seperti Cinta membuatnya paham bahwa sifat keras kepala Cinta merupakan sifat turunan dari sang Mama.


Dibelakang dua wanita yang tengah berdebat itu ada Aldi, ia memberikan isyarat kepada Ila untuk pamit dulu dan membiarkan kedua wanitanya ini lebih leluasa untuk bertengkar.


Aldi dulu merasa bahwa rumahnya ini terasa hampa, tidak ada canda tawa, sebab keduanya hanya tinggal sendiri dan asisten rumah tangganya hanya bekerja di pagi sampai sore hari. Sedangkan ia tak pernah ada dirumah disetiap jam tersebut.


Suasana rumah yang setiap hari ia dapatkan hanyalah sebuah kesunyian. Dengan datangnya Cinta kesini, menambah kehangatan rumahnya, suara perdebatan, rengekan, serta teriakan Cinta karena kalah debat dengan sang Mama mendominasi dirumah ini.


Dan itulah yang membuat hati Aldi menghangat setiap hari, ia selalu berencana untuk menghabiskan waktunya bersama sang putri, namun apalah daya pekerjaannya sering kali tidak dapat diwakilkan oleh asisten pribadinya, sehingga ia sendiri yang harus turun tangan.


Ditempat lain dengan situasi yang masih sama. Ila sudah membaringkan tubuhnya dan matanya sudah mulai tertutup karena lelah seharian bekerja. Panggilan video dengan Cinta masih tersambung, namun Cinta sendiri sedang sibuk dengan sang Mama. Hingga membuat Ila bosan dan berakhirlah tertidur tanpa menutup pintu kamarnya.


Pukul 22:00 Waktu Indonesia Barat, Axel keluar dari kamarnya dan melihat kearah kamar Ila yang masih terbuka. Tidak biasanya wanita itu jam segini masih membuka pintu kamar, Axel memutuskan untuk menghampiri kamar Ila dan melihat orang yang berada di dalamnya.


Pantas saja jam segini masih terbuka, orang pemiliknya ternyata sudah tertidur pulas didepan ponsel dengan posisi tengkurap. Axel meminta izin kepada sang penelepon untuk mematikan panggilannya.


Bukan persetujuan namun malah sebuah godaan yang didapatnya.

__ADS_1


__ADS_2